
Setelah mengatur strategi penyerangan selanjutnya, 4 pria itupun mabuk-mabukan hingga mereka tertidur disembarang tempat. Ada yang dikursi, dilantai, maupun ditempat tidur yang reot.
******
"Bang Rony, jadi Abang, yang menyelamatkan saya, terimakasih ya Bang," kata Abim ketika Rony datang menjenguknya.
"Sama-sama Bim, saya waktu itu hanya kebetulan lewat saja kok," tutur Rony mereka saat ini hanya berdua dirumah sakit.
"Bim, ngomong, ngomong... siapa orang yang ingin mencelakai kamu?" tanya Rony, selama mengenal Abim sudah ada dua kali keanehan, yang pertama kejadian penculikan Melati saat pesta, dan yang kedua pengeroyokan kepada Abim.
"Saya juga bingung Bang, selama ini saya nggak pernah punya musuh, bertengkar dengan teman pun saya belum pernah," terang Abim dari SMP dia belum pernah yang namanya berkelahi.
"Kalau begitu kamu harus hati-hati Bim," Rony mengingatkan.
"Iya Bang."
Mereka berbincang akrab hingga jam delapan saat pak Wahid dan mama Ina datang Rony pamit pulang.
*******
Di kontrakan yang sepi sejak pulang dari rumah kak Mawar, Diah terus menangis. Sejak pagi dia tidak makan apapun.
Ia bangun dari tidur lalu kekamar mandi, setelah mandi ia menarik baju tidur.
Pluk.
Paperbag yang sudah lama sekali ia simpan dilemari tiba-tiba jatuh, Diah mengangkat benda tersebut lalu membuka apa isinya.
Hati Diah tersentuh ternyata mukena hadiah lebaran dari kak Mawar, entah berapa tahun yang lalu.
Diah membuka mukena berenda berbahan kombinasi katun jepang motif bunga kecil. Diah lantas memeluk mukena tangisnya kembali pecah. Selama ini dia sudah jauh dari sang pencipta Nya.
Setelah mengenakan piama Diah ambil air wudhu, ia masih ingat ketika masih sekolah SD, diajarkan shalat oleh Adit kakak tirinya. Ia merentangkan mukena hingga melebar, kemudian memakainya.
Diah bersujud di hadapan Allah memohon ampunan Nya. Selama ini hidupnya terbuang sia-sia. Sejak SMP ia selalu nakal.
Empat rakaat selesai. Diah berdoa untuk kedua orangtuanya.
Ingat orang tuanya Diah baru sadar kemama bapak kandungan? jika Tuhan masih mendengar permintaan dari wanita hina seperti dirinya. Ia mohon agar dipertemukan oleh ayah kandungnya seperti apa orangnya.
Diah seklebat melihat bayangan pak Renggono bapak tirinya yang sudah membesarkan dengan penuh kasih sayang. Namun Diah justeru selalu membantahnya.
Diah melepas mukena, melipatnya ambil jaket dilemari plastik, kemudian pergi meninggalkan kontrakan setelah menguncinya.
Diah berdiri dipinggir jalan menunggu ojek yang sudah ia pesan.
__ADS_1
"Mbak Diah, ya?" tanya tukang ojek.
"Iya Bang"
Diah segera naik ojek menuju rumah sakit dimana pak Renggono dirawat. Sampai tujuan masih jam delapan lebih 15 menit.
Diah langsung mencari ruangan yang ia minta dari Melati tadi pagi.
"Mbak, mau kemana? jam besuk sudah habis," satpam menghadang langkahnya.
"Pak tolong, saya yang akan menggantikan kakak saya menunggui bapak saya malam ini." Diah beralasan.
Satpam menatap mata Diah yang bengkak, karena seharian menangis tidak tega.
"Ya sudah" kata satpam akhirnya mengalah.
"Terimakasih Pak" Dengan langkah tergesa-gesa Diah sampai ruangan dimana bapak angkatnya dirawat. Diah membuka pintu perlahan kemudian masuk kedalam.
Diah berdiri di pinggir ranjang menatap pak Renggono yang sudah lima bulan tidak bertemu. Badanya tampak kurus, tidak seperti dulu.
Tangis Diah kembali pecah hingga suaranya terdengar oleh pak Renggono. Padahal sudah menutup mulutnya.
Pak Renggono membuka matanya saat ini bapak sudah tidak memakai oksigen.
"Diah... kamu kah itu, Nak?" tanya pak Renggono pangling melihat anaknya yang tampak kurus, dan lelah.
"Diah... jangan menangis Nak" ucap pak Renggono mengusap kepala Diah. "Kamu kemana saja Nak, bapak kangen sama kamu, maafkan bapak, selama ini selalu keras mendidik kamu," bapak pun menitikan air mata.
"Diah yang harusnya minta maaf Pak, Diah suka kurang ajar sama Bapak, Diah yang nggak tahu diri selalu melawan Bapak" hiks hiks.
"Sudah Nak, bapak sudah memaafkan kamu" jawab bapak.
Diah mengangkat kepala menatap pak Renggono bapak dan anak itupun saling pandang. "Kok kamu kurus Nak?" tanya bapak sedih melihat anaknya seperti menanggung beban berat.
"Diah nggak apa-apa Pak, bapak jangan banyak pikiran supaya cepat sembuh," Diah agak terasa lebih baik, setelah bertemu pak Renggono yang menyayangi secara tulus.
"Bapak hanya sendiri disini?" tanya Diah melihat pak Renggono tidak ada yang menemani.
"Ada perawat, tapi dia sedang shalat di masjid" jawab bapak.
Bapak menatap anak tirinya ada kelegaan di dada, badanya terasa enteng, sepertinya Diah sudah banyak berubah dilihat dari sikap dan perilakunya malam ini, ternyata menjadi obat mujarab bagi pak Renggono. Besi yang belok itu kini agak mulai lurus.
Mereka pun berbincang setelah perawat datang Diah pamit pulang.
"Pak, Diah pulang dulu ya, besok malam pulang kerja Diah kemari lagi" kata Diah.
__ADS_1
"Kamu pulang sendirian Nak?" bapak rasanya tidak tega.
"Nggak apa-apa Pak, baru jam sembilan kok" Diah sebenarnya ingin menginap menemani bapak, tapi besok harus kerja, hari ini dia sudah tidak masuk khawar kena teguran.
********
Seminggu sudah Abim pulang dari rumah sakit. Keadaanya sudah membaik lukanya sudah mengering bahkan sudah bisa mengendarai motor sendiri
Ia sudah tidak bekerja di kantor pak Johan. Saat ini ia sedang membeli tiket jauh-jauh hari, karena seminggu lagi, akan berangkat ke Swiss untuk melanjutkan S2.
Motor besar masuk kedalam garasi setelah dibukakan oleh supir papa. "Terimakasih pak" ucapnya ia segera masuk kedalam kamar.
Sementara diwaktu yang sama Intan didalam kamarnya sedang berbincang melalui telepon dengan Melati sahatnya. Menceritakan kisah Abim saat ditembak hingga dirawat di rumah sakit.
"Jadi kak Abim, ada yang jahatin Tan? sampai dirawat di rumah sakit? kenapa kamu nggak bilang sih..." sesal Melati.
"Maaf Mel, awalnya aku mau bilang sama kamu, tapi kak Abim melarang," terang Intan.
"Terus... bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Melati tampak khawatir.
"Sudah sembuh kok Mel... tadi juga sudah pergi naik motor sendiri," Intan menjelaskan panjang lebar.
"Syukurlah" Melati merasa lega.
"Mel? aku mau tanya jawab dengan jujur, sebenarnya kamu masih ada rasa nggak sih... sama kak Abim?" tanya Intan serius.
"Rasa apa? rasa kesal, benci, atau... rasa kecewa?" Melati balik bertanya sedikit bergurau.
"Mel? aku serius!" ketus Intan. "Rasa cinta lah... kamu ini!"
Melati diam di telepon hanya terdengar suara samar televisi dari kamar Intan.
"Bukan begitu Mel, kalau kamu masih mencintai kakak, cegah dia seminggu lagi akan berangkat ke... tut"
Handphone Intan ada yang menarik lalu dimatikan siapa lagi kalau bukan Abim, Intan lansung kena plototan dari Abim.
*******
"Nah nah... apakah Melati akan menahan Abim agar tidak berangkat ke Swiss?
Lalu siapa yang selama ini ingin membunuh Abim? InsyaAllah... bab selanjutnya akan ada jawabannya.
Tapi... jangan lupa budhe ngarep vote❤❤❤🤣🤣🤣.
.
__ADS_1
.