PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Makan Siang.


__ADS_3

Disalah satu Wisata yang terkenal di Swiss. Pasutri sedang berbahagia mengistirahatkan otak sejenak. Di atas tranportasi cogwheel. (Kereta gantung ) Jilbab panjang tampak berkibar-kibar di terpa angin.


Di atas kereta, tak hentinya bibir Melati tersenyum, melihat pemandangan kanan kiri begitu luar biasa indah. Semua itu tidak lepas dari perhatian Abim.


"Kamu senang?" tanya Abim, tangan kekar itu lantas melingkar di pundak istrinya.


"Pasti, terimakasih ya Bang" Melati menoleh seberapa detik lalu kembali fokus ke sekeliling.


"Hehehe... kamu ini, selalu terimakasih, sudah seharusnya aku lakukan, untuk membuat istri cantik aku, bahagia,"


"Lebay!" Melati menoleh cepat, bibir merah alami yang sedang mencebik itu lantas kena serangan mendadak.


"Cup"


Kontan membuat wajah putih Melati seketika memerah. "Abang... ih! kebiasaan, deh!"


Abim hanya melempar senyum.


"Abang, sudah pernah ke sini belum?" tanya Melati, kembali melihat pemandangan, saat ini mereka sedang menuju puncak gunung Mount Pilatus. Gunung tersebut menghadap ke Lucerne Swiss.


"Pernah" jawabnya singkat.


"Sama siapa, sama pacar?" cecar Melati.


"Sama Papa, Mama, dan juga Intan. Nanti aku tunjukin fotonya " jawab Abim jujur.


Tidak terasa mereka sampai di puncak gunung. " Kita sampai..." Seru Melati lagi-lagi ia dibuat terkesima bisa berada di puncak gunung yang tingginya mencapai dua ribu lebih puncak tertinggi yang bernama, Tomlishorn, dan bisa melihat pegunungan yang tertutup salju.


"Waah... keren banget Bang... indahnya..." Melati merentangkan kedua tangan. Suasana sangat ramai, rata-rata sebagian pengunjung kawula muda.


Indah sekali memang, banyaknya pegunungan yang di selimuti salju negara Eropa bagian barat ini sungguh memanjakan mata, para wisatawan.


Tanpa Melati sadari, beberapa pasang mata pria, tidak lagi melihat keindahan alam, justreu beralih menatap maha karya yang lebih indah, yaitu Melati.


Lain Melati lain Abim, ia menatap tajam pria-pria itu, rahangnya mengeras. Bagusnya manusia, jika serangga macam ulat sudah ia lindas dengan sepatunya. 🤣🤣🤣.


"Aku rasanya ingin mencongkel mata-mata pria jelatan itu!" ucap Abim posesif di telinga istrinya.


"Eh Abang" Melati tersentak menoleh cepat menatap suaminya yang sedang tegang.


"Sadis amat suamiku..." tangan Melati melingkar di lengan Abim lalu mengajaknya pindah ke tempat lain, membuat para pria itupun patah hati bersama.


"Sudah ah! jangan merengut begitu, kita kan, kesini mau senang-senang" tangan Melati melingkar di pinggang Abim membuat sang pemilik tersenyum senang, tanpa Melati tahu.


Mereka berkeliling di sekitar, hingga terasa lelah, kemudian mencari makan siang.


"Kita makan apa Bang?" tanya Melati setelah sampai Resto. Ia belum begitu tahu banyak, makanan kas negara tersebut.

__ADS_1


"Kita pesan Roti ini saja" Abim menunjukkan menu makanan kas Swiss.


"Makanan ini kas Swiss, urutan pertama, namanya Rosti, enak loh, rugi jika kita kesini tidak mencoba." tutur Abim.


"Boleh sih Bang, aku juga mau nyobain" Mereka pun memesan makanan tersebut.


Roti yang terdiri dari keju parut kasar, daging, kentang, dan buah apel, mereka pun menyantap makan siang dalam diam.


"Kita menginap di sini ya" kata Abim selesai makan.


"Memang bisa mendadak Bang?" Melati sedikit ragu, suasana ramai begini jika pesan kamar mendadak apakah masih ada yang kosong.


"Kita coba yuk" mereka bergandengan menuju resepsionis. Ternyata masih ada kamar kosong mereka lantas menginap di hotel tempat itu.


*********


Seminggu kemudian, setelah Diah pulang kampung. Ia sudah kembali ke Jakarta. Walaupun orang suruhan tuan Efendi menjemput, dan membujuknya berkali-kali. Diah masih belum bisa menerima begitu saja, justeru memilih naik bus.


"Loe sudah sehat benar, Diah?" tanya Rindy, mereka berjalan menuju kantin. Di perusahaan dimana mereka bekerja, karyawan mendapat jatah makan siang.


"Sudah, aku kan nggak sakit Rin" Diah menoleh sahabatnya mereka jalan bersebelahan.


"Iya, gw tahu, loe cuma kelaparan, kan" kikiki. Rindy tertawa cekikikan hari gini masih ada orang kelaparan.


"Meledek..." Diah menyikut kesal.


"Habisnya... loe! kaya nggak punya teman, kalau ada kesulitan itu bilang, gw kan sering nawarin bantuan! eh loe! malah menahan lapar, sampai klingsir" celoteh Rindy. Namun Diah tidak menyahut.


"Orang kaya apaan! sih..." Diah menoel pipi Rindy.


"Alaaah... sekarang, sebaiknya terima Bokap loe, yang kaya raya itu, kelihatannya beliau orang baik kok"


"Semoga ya Rin, beliau orang baik" sahut Diah.


Obrolan berhenti mereka sudah sampai di kantin. Rindy lalu menukar kupon makan siang.


Diah kemudian mencari tempat duduk. Namun, mata nya menangkap sosok anak kira-kira berumur empat tahun duduk sendiri terpisah dengan karyawan yang lain.


Diah mendekati anak tesebut, anak itu sedang cemberut mengetuk-ngetuk tempat bekal dengan sendok.


"Hai, cantik... kamu kok sendiran... menunggu siapa?" Diah tanpa permisi duduk di sebelah anak itu.


Anak itu menoleh perlahan, seperti malas menjawab pertanyaan Diah.


"Kamu mau makan? boleh... Tante suapin?" tanya Diah lembut. Gadis kecil itu mengangguk.


"Waah... makan siang yang enak" kata Diah basa basi setelah membuka teromol, dalam kotak nasi tersebut berisi nasi, ayam yang sudah di suir-suir, buncis, wortel, dan kacang merah.

__ADS_1


"Aaa..." Diah menyuapi bocah itu, lalu mengunyahnya perlahan. "Kamu menunggu siapa?" Diah mengulangi pertanyaan nya tadi.


"Kata Papa, kalau lagi makan nggak boleh ngomong!" ketus bocah kecil itu. Diah pun diam menyembunyikan rasa malu, diceramahi anak kecil, dan memang benar adanya.


"Diah... anak siapa ini?" Rindy sudah datang membawa dua kotak nasi. Diah mengedipkan mata, lalu meletakan telunjuk di bibir memberi isyarat agar diam.


Rindy pun menurut lantas menyantap makan siangnya lebih dulu.


Sesuap demi seuap, dengan telaten, Diah menyuapi anak yang baru di kenal itu. Diah sedih, akankah suatu saat nanti bisa menyuapi Syifa anaknya? mata Diah mengembun. Tidak terasa makan siang bocah itu habis.


"Terimakasih Tante" anak itu baru kemudian bicara.


"Sama-sama" Diah sudah tidak berani bertanya lagi.


"Lita kesal, Papa bohong! katanya Lita disuruh menunggu di sini, tapi nggak datang-datang!" pada akhirnya anak itu cerita sendiri.


"Oh... nama kamu Lita... nama yang bagus" Diah menyahut.


"Iya namaku Calita, tapi di panggil Lita." tuturnya.


Rindy mendengar perbincangan mereka namun tidak menimpali, ia makan dengan cepat karena waktunya sempit.


"Memang Papa Lita kemana?" Diah membersihkan teromol dengan tisu lalu menutupnya kembali.


"Papa lagi meeting di lantai atas." Lita lalu mendongak ke atas sambil menunjuk.


"Oh... gitu... sekarang gantian, Tante yang makan ya" Diah minta Rindy mendekatkan makan siang nya lalu makan terburu-buru.


"Kata Papa, kalau makan nggak boleh buru-buru Tante" Lita kembali memprotes cara makan Diah. Diah lantas berhenti mengunyah, lalu mendorongnya dengan air.


"Kikiki..." Rindy kembali meledek Diah. Diah mengacungkan tinju, mlengos kesal.


"Iya... kamu pintar, tapi... kalau Tante nggak cepat-cepat... keburu habis waktu istirahatnya" terang Diah.


Benar saja, Diah melirik jam sudah waktunya masuk. "Ayo Rin" Diah berdiri makan siang yang masih setengah tidak ia habiskan.


"Ayo" Rindy pun ikut berdiri.


"Tante duluan ya cantik" ucap Diah, lalu beranjak. Namun baru beberapa langkah Calista mengejar.


"Tante... jangan tinggalin Lita. Lita nggak mau sendirian." Calista bergelayut di lengan Diah. Diah bingung lalu menyuruh Rindy duluan.


"Tapi... Tante harus kerja Lita..." Diah berjongkok menyejajarkan tubuhnya.


"Calista..." suara bariton mengejutkan keduanya.


"Papaaaa..." Calista berlari

__ADS_1


memeluk papa nya.


.


__ADS_2