PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Pertemuan Tidak Terduga.


__ADS_3

Melati, Bombom, dan Risda sudah check urene dan hasilnya negatif, mereka diizinkan pulang setelah memberi kesaksian di polres.


"Bom, Ris, selama seminggu ini, sebaiknya kita nggak produksi ice cream dulu." titah Melati, saat ini mereka dalam perjalanan pulang.


"Gw sih, mengikuti apa kata loe saja," jawab Risda. Risda tahu pasti Melati ingin menenangkan diri.


"Kalau menurut gw, kita jangan libur Ris, kita tetap akan menjual ice cream yang sudah di freezer," Bombom punya pemikiran lain agar barang di freezer bisa terjual.


"Kalau loe ingin menenangkan diri... sebaikanya loe nggak usah ke Depo dulu Mel, serahkan kepada kami" Bombom yang sedang menyetir mobil Adit menambahkan.


"Terserah kalian saja" jawab Melati kali ini belum bisa berpikir.


"Kalau saya boleh usul... yang dibilang Bombom benar Mel, percayakan saja, Depo ice kepada anak buah kamu, yang kamu percaya" Adit yang duduk didepan bersama Bombom memberi saran.


"Kalau kamu libur terlalu lama, kasihan para karyawan, mereka menggantungkan hidup kepadamu." imbuh Adit.


"Sebaiknya... kamu tinggal dirumah kakak dulu, untuk sementara waktu" titah Adit.


"Baik kak" pungkas Melati.


********


Seminggu berlalu setelah Diah di tinggalkan Alfred di mal saat itu. Alfred belum juga menampakan diri, tetapi Diah kini sudah tidak perduli lagi. Toh jika ada Alfred yang ada justeru bertengkar, dan semua itu membuat Diah lelah.


Setelah menjalankan ibadah subuh Diah membersihkan rumah sebelum berangkat kerja. Itulah rutinitas Diah selama seminggu, ternyata bebenah dipagi hari justeru menjadi hiburan buat Diah. Badannya menjadi berkeringat dan lebih bugar.


Dulu Diah sering berenang seminggu dua kali, fitnes, semua itu harus mengeluarkan uang. Kini Diah memanfaatkan olah raga gratis seperti bebenah, dan jalan kaki.


Setelah semua rapi Diah duduk sebentar mengamati hasil keringat pagi ini ia tersenyum sendiri. Melihat rumah bersih walaupun bukan miliknya ternyata menyenangkan. Lantai tampak kinclong, tidak ada debu disana sini seperti dulu.


Diah kemudian berniat membeli nasi uduk di sebelah, sebelum mak-mak berdaster datang dan menggunjingnya.


Sebab jika sudah siang sedikit akan ramai. Diah mengenakan baju sweater yang ia gantung dipaku kamar untuk menutup kaos pendeknya kemudian berjalan ke kontrakan sebelah.


"Pok, saya mau nasi uduk ya" Diah mendekati penjual uduk tampak masih sepi.


"Berapa bungkus?" tanya mpok.


"Satu saja Pok" jawab Diah, saat ini Diah sudah sering beradaptasi dengan sesama penghuni kontrakan, dan sudah minta maaf kepada mereka karena sering ribut dengan suaminya.

__ADS_1


"Kok cuma satu Mbak Diah... suaminya nggak doyan uduk ya?" tanya mpok.


"Oh, suami saya sedang keluar pok," jawab Diah beralasan.


Mpok menyendok satu centong nasi kedalam piring yang Diah bawa sendiri, ditambah secomot bihun goreng, bawang goreng, timun dua iris, tambah kerupuk, dan sambal.


"Berapa pok?" tanya Diah sambil membuka dompet. Kali ini ia sudah gajian jika hanya untuk sendiri gaji Diah cukup untuk makan, bayar kontrakan, dan menyisihkan sedikit. Namun entahlah jika Alfred merong-rong nya.


"Tujuh ribu, Mbak" jawab mpok.


"Terimakasih Pok" setelah membayar Diah pun beranjak.


"Sama-sama Mbak."


Diah segera pulang meletakan nasi uduk di meja makan, kemudian bergegas mandi setelah mandi nanti baru akan sarapan.


Keluar dari kamar mandi Diah membuka lemari plastik. Diah memilih-milih baju hatinya srek mengenakan baju panjang, dan rok panjang, tidak lupa memakai kerudung. Diah kini mulai berbenah diri, tidak hanya merubah tabiat namun juga mulai merubah tampilan.


Diah mematut diri didepan cermin sambil tersenyum. Ternyata ia tampak lebih cantik dengan tampilan yang baru ia rubah selama tiga hari ini. Diah membeli kerudung bukan yang mahal ia beli di kaki lima 100 ribu dapat empat potong, lalu ia pakai bergantian.


Sudah yakin akan penampilanya, Diah keluar dari kamar berniat sarapan lalu berangkat. Namun matanya melotot kesal melihat suaminya dari belakang tatkala Alfred dengan santainya makan nasi uduk yang ia beli, kakinya ia angkat satu keatas kursi.


rasanya malas bicara dengan Alfred.


Alfred berhenti mengunyah tertegun melihat tampilan Diah yang sekarang.


"Diah... kamu cantik banget," pujinya sambil tersenyum, tidak minta maaf kepada Diah bahwa dia telah meninggalkan istrinya di mal hingga Diah rela mengemis untuk bisa sampai rumah.


Diah tidak menjawab ia kembali kekamar ambil tas berniat berangkat. Namun Alfred sudah berada dibelakangnya.


"Aku pulang... masa kamu mau pergi?" tanya Alfred dengan egoisnya, membuat Diah semakin benci.


Diah keluar meninggalkan Alfred, namun baru beberapa langkah Alfred menahan lengan Diah. Diah menghempas tangan Alfred dengan kasar lalu berjalan setengah berlari membuka pintu depan.


"Kamu mau kerja... aku antar ya." Alfred membujuknya mengejar keluar, tetapi ojek sudah menunggu didepan karena Diah tadi sudah memesannya.


"Jalan Bang" pinta Diah. Ojek pun pergi meninggalkan kontrakan.


Motor melaju cepat hanya 10 menit sampai di pabrik.

__ADS_1


"Diah..." sapa Ririn mereka berpapasan.


"Haiii Ririn..." Diah menyahut sambil merogoh dompet ambil uang hendak membayar ojek.


"Rin, sekalian... mumpung aku lagi buka dompet" Diah menyerahkan uang 200 ribu.


"Apa ini Diah?" Ririn mengamati uang di tanganya.


"Kan aku pinjam uang kamu dua kali, kamu lupa" Jawab Diah.


"Sudah lah Diah... nggak usah dipulangin" Ririn memang niat memberi, tidak berniat meminjamkan.


"Haiis... terima dong Rin, nanti kalau aku kepepet... baru pinjam lagi." kukuh Diah. Ririn pun terpaksa menerima uang tersebut.


"Kamu sudah sarapan belum Diah?" tanya Ririn kemudian, jika belum Ririn berniat mentraktir Diah makan ketupat sayur didepan pabrik.


"Hehehe belum." Diah terkekeh, mereka sarapan ketupat sayur tidak lama kemudian jam kerja masuk, mereka bekerja sampai sore.


Sore hari tanpa mengenal lelah keluar dari pabrik Diah berjalan kaki menuju Minimarket. Sebab tanggung jika naik ojek. Sampai tujuan ia membeli yang penting-penting saja. Diah ambil sabun, sampo, dan keperluan dapur kira-kira cukup untuk satu bulan.


Sudah mendapatkan semuanya Diah antri ke kasir, dia berdiri dibelakang seorang pria dilihat dari fostur tubuhnya Diah tampak mengenali. Diah melihat yang dipegang pria itu hanya membawa satu botol air mineral. Namun Diah tidak berniat menyapa, hingga mendapat giliran antrian kedua dari depan.


Pria itu maju selesai membayar kemudian balik badan, ternyata Abimanyu orangnya.


Abim terkejut melihat siapa yang ada didepanya.


"Kak Abim, apa kabar?" tanya Diah mengangguk sopan. Selama perceraiannya yang sudah 6 bulan mereka belum pernah bertemu.


"Baik, kamu beneran Diah?" tanya Abim pada akhirnya. Abim terkejut melihat tampilan Diah yang sekarang.


"Benar kak, kok kakak disini?" Diah menyapa Abim seperti sebelum menikah dulu memanggilnya kakak, tidak Mas seperti saat menjadi suami Abim.


"Kebetulan ada urusan, di dekat sini," jawab Abim.


"Mbak! jangan ngobrol dong! dibelakang antrian panjang nih!" salah satu pengantri dibelakang Diah merasa kesal, menghentikan obrolan mereka.


"Oh iya, maaf" Diah pun maju. Kemudian Abim meninggalkan tempat itu.


Diah menurunkan belanjaan, kasir segera menghitung lalu menyerahkan struk pembayaran total lima ratus ribu. Diah senang menatap belanjaan ternyata baru tahu begini caranya mengatur uang agar cukup satu bulan.

__ADS_1


.


__ADS_2