
"Papa..." pekik Calista lalu membenamkan wajahnya di perut Marselo.
"Papa bohong! katanya mau temani Lita makan" Lita cemberut seraya menengadah, menatap papanya.
"Maaf-maaf, tadi Papa sedang ada tamu sayang... jadi temani tamu dulu"
"Sekarang... kita ke ruangan Papa saja, nanti Papa suapi. Okay..." Marsel berjongkok membujuk anaknya yang sedang cemberut.
"Lita sudah makan, tadi disuapin sama Tante it..." Calista tidak jadi melanjutkan ucapanya karena Diah sudah tidak ada di tempat itu.
"Yaaa... Tante yang nyuapin Lita sudah pergi" Lita tampak kecewa.
"Pa, ayo, cari Tante" rengek Lita menarik-narik lengan Marsel.
"Iya, iya. Kita keruangan Papa dulu, nanti kita minta Tante Siska, memanggilnya" Marselo menyudahi pembicaraan, kemudian mengajak anaknya naik lift.
Marsel tau, yang menyuapi putrinya tadi wanita yang diantar ke rumah sakit seminggu yang lalu, sebelum Diah ke ruang produksi Marsel sempat menatap sekilas wajah familiar itu.
Pria yang lahir tiga puluh lima tahun yang lalu itu, melangkah menuju ruangan, melewati Siska yang sedang sibuk di depan komputer.
"Calista..." sapa Siska.
"Tante... " sahut Lita kemudian berlari masuk ke ruangan.
"Sis, temui Rindy di tempat produksi, dan sampaikan padanya, temanya yang sakit kemarin suruh temui saya kesini" titah Marselo kemudian meninggalkan Siska.
"Ruang produksi? tapi untuk apa, Tuan, memanggil pegawai rendahan?" tanya Siska membuntuti Marsel.
"Lakukan saja! perintah saya!" ucapnya dingin.
"Baik Tuan" Siska berjalan cepat menuju ruang produksi.
Wanita tinggi semampai berkulit putih, dan menggunakan rok selutut itu, bertanya-tanya dalam hati, tidak biasanya Marsel menyuruhnya ke ruangan tersebut. Siska menemui pengawas lalu menyampaikan perintah Marsel. Kemudian kembali ke lantai tiga.
"Tante Siska... mana Tante yang nyuapin Lita tadi?" Calista sudah tidak sabar. Menghampiri Siska yang baru sampai ruangan.
"Sebentar, nanti Dia menyusul" Siska lalu duduk. "Memang mau disuruh apa Tante itu, sama Lita?" selidik Siska, yang belum tahu nama Diah dan hanya memanggilnya tante itu.
"Minta ditemani main" jawabnya polos. "Ya sudah... Lita tunggu di dalam, Tante mau kerja lagi"
Lita berlari, naik ke sofa, ambil bantal lalu merebahkan diri. "Pa, buku cerita Lita mana? nanti Lita minta di ceritain sama Tante" ucapnya kepada Marsel yang sudah mulai sibuk dengan setumpuk pekerjaan.
Tanpa banyak bicara, Marsel membuka laci ambil buku cerita lalu memberikan kepada putrinya.
Sementara di luar ruangan. "Permisi Mbak, saya tadi disuruh pengawas untuk datang ke ruangan ini," kata Diah.
"Masuk saja!" ketus Siska setelah menatap lekat wajah Diah. Ia kesal ingat wanita ini yang pingsan seminggu yang lalu, hingga membuat heboh karyawan pabrik, dan sampai melibatkan bos nya.
"Permisi Tuan... Tuan memanggil saya?" Diah berdiri di depan Marsel. Marsel mengangkat kepala ingin berbicara seseuatu. Namun Calista sudah memekik.
"Tante..." Calista senang langsung bangun dari tidurnya, memegang lengan Diah.
"Iya cantik..." Diah menyentuh hidung bangir Lita.
"Lita tunggu di sofa dulu, Papa mau bicara dengan Tante" kata Marsel.
__ADS_1
"Okay... Papa" Lita kembali merebahkan tubuhnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Marsel menghentikan kegiatannya.
"Diah, Tuan" sahut Diah sambil meremas kedua telapak tangan nya sendiri sambil menunduk.
"Pasti Tuan memanggil saya, karena Tuan sudah membayar tagihan rumah sakit, dan juga sudah menolong saya"
"Terimakasih Tuan, untuk tagihan rumah sakit, saya akan cicil, potong gaji saya setiap bulan, tapi jangan semua" tutur Diah panjang lebar. Diah pikir bos nya ingin menagih hutang.
Entah mendengarkan atau tidak yang jelas Marsel sibuk dengan pekerjaan nya.
"Baik, saya tidak akan memotong gajimu, tetapi... sebagai gantinya, saya minta kamu, temani anak saya bermain" titahnya.
"Sekarang Tuan?" Diah tetap menunduk.
"Besok!" jawab Marsel angkuh. "Ya sekarang lah"
"Tapi... saya sedang bekerja Tuan," Diah takut, dimarahi pengawas, jika membolos.
"Menjaga anak saya itu, bagian dari tugas kamu! jangan membantah!" tegasnya.
"Baik Tuan" Diah pun ketakutan lalu meninggalkan Marselo menghampiri Lita. "Huh! galak banget"
"Hai Lita" Diah berjongkok di samping sofa.
"Hai Tan, Tante bisa cerita nggak?" tanya Lita tanpa bangun.
"Cerita tentang apa?" Diah bingung selama ini ia belum pernah membaca cerita tentang tokoh apapun, dan juga jarang bergaul, apa lagi mengenal tentang alam. Maka Diah tumbuh menjadi wanita yang indiviualis. Sekalinya mendapat teman orang yang salah.
Diah benar-benar bingung, lalu dia ingat ketika kecil, pernah mendengar cerita Tante Gini. Apa salahnya menceritakan tentang Entog.
"Baiklah... tapi, cerita Tante jelek, nggak apa-apa kan,"
"Baca saja buku!" Marsel rupanya mendengar perbincangan mereka. Diah tidak menjawab, ia memang orang yang malas membaca, makanya waktu sekolah nilainya pas-pasan.
"Baik... Tante mau cerita tentang Ayam dan Entog," Diah mulai fokus duduk bersila.
"Entog? Entog itu apa Tante?" Lita merasa asing mendengar nama itu.
"Entog itu semacam Bebek, tapi warnanya putih," Marselo lagi-lagi menjawab tapi tetap fokus menandatangi berkas.
"Oh... terus, terus, Tante"
"Ada seorang peternak memelihara, Sapi, kambing, Entog, Bebek, dan Ayam" Diah sambil mengingat-ingat.
"Entog... jika tidur, selalu bangun kesiangan, karena Entog adalah binatang yang paling malas"
"Sedangkan Ayam, bangun paling awal sebelum adzan subuh" Diah membayangkan dirinya sendiri ketika belum menyadari kekeliruannya, sejenak ia terdiam, rasanya ingin memutar waktu, dan akan memperbaiki semua. Membuat Marsel melirik Diah.
"Terus..." Lita mengejutkan lamunan Diah.
"Kukuruyuuuukkkk... Jago membangunkan isteri dan anaknya."
"Mana ada hewan bisa membangunkan istri dan anaknya" bantah Marsel. Diah merengut tanpa Marsel tahu.
__ADS_1
"Papa... diam apa! terus Tante" Calista pun cemberut.
"Petok! bok, bok, bok. Petok, petok" Ayam betina ikut bangun, mengepak sayapnya."
Piyik, piyik, anak ayam bersembunyi di sayap mak nya, karena anak Ayam kedinginan," Diah lantas berdiri mulai menghayati ceritanya sambil menggerak-gerakkan tanganya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Marsel tanpa Diah tahu, Marsel tersenyum.
"Karena mendengar suara berisik, Entog yang sedang enaknya tidur, kemudian membuka matanya. "Heh! Ayam! kamu jangan berisik! ganggu hewan tidur saja!" Entok marah-marah tapi tetap tidak mau bergerak."
"Petok, petok.
"Kok kamu marah sih Tog, kan memang sudah waktunya bangun" jawab Ayam betina.
"Pokoknya aku bilang jangan berisik! keluar sana" dengan jalan yang megal megol Entok mendekati Ayam betina, mematok anak Ayam. Mak Ayam tidak mau ribut, lebih baik mengalah kemudian meninggalkan tempat itu, Jago mengikuti.
"Terus... terus, Tan"
"Di sebelah kandang sapi, peternak menyimpan pakan ternak yang sudah mengering. Entah api darimana pakan tersebut terbakar, hingga api membumbung tinggi"
"Iihh... ngeri Tan" ucap Lita. Sebenarnya Marsel ingin memperingatkan agar jangan, bercerita yang menakuti putrinya, tapi Marsel, mengurungkan niatnya.
"Terus Tan, Lita penasaran,"
"Mooooohhh...."
"Mbeeekkkk..."
"Petok, petok"
"Kwek kwek kwek"
"Piaraan peternak, masing-masing menyelamatkan diri, berlari menjauh dari tempat itu" Diah, terengah-engah berlari-lari kecil, sambil menirukan suara binatang.
"Terus... bagaimana nasip anak Ayam nya Tan?" tanya Lita.
"Nah, mau lanjut tidak?" Diah menoleh Marsel. Marsel pun ternyata memperhatikan Diah, karena kepergok, Marsel salting cepat-cepat berpaling.
"Lanjut Tan" Lita bersemangat.
"Ketika hewan piaraan Peternak, menyelamatkan diri semua, Entog masih tidur pulas. Ayam Jago memikirkan keselamatan Entog, lalu Jago terbang."
"Bluk"
"Ayam jago mendarat di mana Entog tidur, padahal sudah terkepung api"
"Kukuruyuuuukkkk..." Jago membangunkan Entog.
"Unggas berwarna putih, itupun bangun melihat sekitar menjadi lautan api, Entog bingung apa yang harus ia lakukan."
"Jago mengepakan sayap lalu berlari menerobos api. Dengan susah payah Entog mengikuti jejak Jago dan akhirnya selamat. Semua ternak berkumpul manatap kobaran api."
"Begitu ceritanya," pungkas Diah, menatap Lita tidak ada suara ternyata sudah tidur.
"Sudah sore Tuan, saya boleh pulang?"
"Saya Antar." Marsel beranjak dari duduknya.
__ADS_1