
"Bang, jalanya bisa lewat pinggir nggak?" tanya Diah ketika lampu merah berganti hijau.
"Bisa Mbak" jawab tukang ojek, kemudian menurut tanpa tahu maksud pelangganya.
Mata Diah membulat ketika melihat wajah pria itu benar-benar Alfred suaminya. Bersama wanita anggun mengenakan jilbab cantik, walaupun hanya mengenakkan kaos dan celana training, tidak mengurangi kecantikan wanita yang bersama suaminya itu.
Diah lantas menciut menatap tampilannya sendiri di kaca spion. Sungguh Diah tidak ada apa-apanya. Diah lantas menangis sepanjang jalan. Kenapa hatinya saat ini begitu sakit melihat kenyataan itu.
Ternyata ini alasan Alfred tidak pulang kerumah. Ia membuang darah daginya buah cinta mereka jangankan bertemu diajak melihat pun tidak mau. Tetapi kenapa? Alfred bisa sesayang itu dengan anak balita yang sedang bersama dengannya, anaknya kah?
"Mbak kenapa? tanya ojek ketika Diah turun dari motor begitu membuka helm tampak air matanya bercucuran.
"Tidak apa-apa, Bang" ucapnya lantas masuk kedalam pabrik.
Tukang ojek menatap kepergian Diah dari belakang bertanya-tanya dalam hati. Pasalnya, saat berangkat tadi Diah tampak biasa-biasa saja.
Diah lantas bergegas kekamar mandi keadaan pabrik masih belum begitu ramai. Ia membasuh wajahnya didepan kaca toilet. Sungguh selama hidupnya Diah tidak sehancur ini hatinya.
Bahkan pernikahanya dengan Abim yang diwarnai pertengkaran pun tidak merasakan seluka ini. Niat hati Diah ingin menghilangkan jejak air matanya di kamar mandi, justru menambah tangisnya.
Diah rasanya tidak mampu untuk bekerja hari ini. Lebih baik pergi dari tempat itu. Diah lantas kembali naik ojek.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
******
Di rumah sakit, Abim ditemani mama dan juga Intan sedang sarapan yang disediakan pihak rumah sakit.
"Tan, beli sarapan yang lain kek, jangan bubur, memang aku sakit tipus apa?" Abim tidak mau makan bubur hanya diambil ayamnya saja.
"Elah! Kak, namanya juga sedang sakit... apa yang disediakan pihak rumah sakit harus kita makan, mereka kan tahu makanan seperti apa yang pantas untuk orang sakit." terang Intan.
"Nih, waktu aku sama Mama menemani Melati dirumah sakit, apa yang disediakan dimakan, sama dia." Intan menambahkan.
"Ah! banyak ngomong kamu Tan" Abim mlengos kesal adiknya ini diajak bicara hanya berapa kata jawabnya panjang.
"Ya sudah... kalian jangan ribut, sekarang mau makan apa?" tanya mama akhirnya mengalah.
__ADS_1
"Apa saja Ma, roti juga boleh, yang penting jangan bubur," tegas Abim.
"Tan, kamu beli sana gih" mama menyerahkan dua lembar uang merah kepada Intan.
"Tu kan! akhirnya Intan juga yang harus jalan! makanya cari istri," Intan ambil uang dari tangan mama.
"Intan" mama mengelengkan kepala agar anak gadisnya tidak menggoda kakaknya.
"Ih! pengen metes hidung kakak, kalau nggak lagi sakit," Intan memencet hidung Abim hingga merah lantas pergi senang menjahili kakaknya. Padahal dia juga memang berniat mencari sarapan kebawah untuk dia dan mama.
"Tuh! anak perempuan Mama, keterlaluan kan" adu Abim mengusap-usap hidungnya yang memerah. Mama hanya menjawab dengan senyuman.
"Bim, ngomong-ngomong... adikmu tadi kan, menyinggung nama Melati, apa Melati sebaiknya Mama kabari ya, kalau kamu dirawat disini," saran mama.
"Jangan Ma" jawab Abim cepat.
"Kenapa? kamu jangan membohongi dirimu sendiri Bim, Mama tahu, kalau kalian saling mencintai" kata mama sambil menyeka tubuh Abim.
"Apapun yang ingin kita capai itu... harus berjuang dulu Bim, baru, kita akan mendapatkan, tidak ujuk-ujuk, bem salabim bra kadabra langsung dapat," nasehat mama memang benar.
"Begitu juga rezeki, jodoh, seperti kamu ingin mendapat ijazah, harus mati-mati an kamu kejar kan? Mama hanya bisa memberi saran sebelum kamu menyesal, perjuangkan Melati." pungkas Mama. Abim merenung tidak menjawab apa yang ia pikirkan hanya Abim yang tahu.
"Bim" mama menatap sendu wajah Abim. Mama rasanya sedih mendengar kata-kata anak sulungnya itu. Mama lantas menghambur memeluknya bulir bening membasahi piama Abim.
*******
Di kediaman bu Reny, sudah seminggu suaminya belum sembuh, selama itu pula beliau tidak punya niat menjenguk. Bu Reny justeru bingung memikirkan urusannya sendiri, bagaimana caranya besok harus menghadapi anggota arisan jika menagih uang tersebut.
Bu Reny jalan ke kios bakso milik besanya, mau apa lagi? jika bukan mempunyai maksud terselubung.
"Mbak Riska, kiosmu selalu ramai pembeli ya," puji bu Reny basa basi.
"Alhamdulillah... Mbak Reny, apa pun jika kita lakukan dengan sungguh-sungguh InsyaAllah... kita akan menikmati hasilnya." jawab bu Riska sambil meracik bakso untuk para pelanggan.
"Mbak Riska, saya kesini tadi... mau ada perlu" ucapnya mulai beraksi.
"Ada perlu apa Mbak Reny? ayo, kita ngobrol di dapur saja" bu Riska berjalan kedapur setelah bakso dalam mangkok-mangkok itu dibawa pelayan kedepan, bu Reny mengikuti.
__ADS_1
"Minum dulu Mbak Reny," bu Riska membuatkan teh untuk besanya.
"Nggak usah repot, saya nggak lama kok, nanti menggangu Mbak Riska lagi,, kan kiosnya sedang ramai" bu Reny lantas tersenyum.
"Ya sudah... Mbak Reny mau bicara apa?" tanya bu Riska.
"Begini Mbak Riska... Mbak kan tahu... suami ku sedang dirumah sakit, butuh biaya banyak, sasa mau pinjam duwit, nanti kalau Diah pulang bawa uang banyak, saya bayar," ucapnya berbohong.
Bu Riska mengerutkan dahi, beliau tahu biaya pak Renggono Adit yang menanggung, pasti ini hanya akal-akalan Reny.
"Memang Mbak Reny butuh berapa?" tanya bu Riska.
"Lima juta," jawabnya enteng.
"Saya nggak pernah pegang uang segitu Mbak, uang saya... saya titipkan Mawar, jadi saya nggak ada," jawab bu Riska jujur.
"Ya ampuun... Mbak Riska ini, masak duwit di titip-titip," bu Reny menyesal.
"Nggak apa-apa... nitip sama anak mah, kalau cuma lima ratus buat makan bu Reny, saya kasih," bu Riska lantas membuka laci, ambil uang sejumlah tersebut memberikan kepada besanya.
Tanpa mengucap terimakasih bu Reny lantas pulang, di halaman ruko tampak clingukan khawatir Mawar maupun Adit melihat bahwa dia mendatangi kios, pasti mereka akan curiga.
Sampai di rumah beliau melihat wanita yang berdiri membelakangi.
"Siapa kamu?" tanya bu Reny, mendekati wanita tersebut.
"Bu, ini aku Diah" ucapnya dengan mata sembab.
Bu Reny bukan memeluk anak yang sudah lima bulan tidak bertemu itu, justeru mematung melihat keadaan Diah yang sedang tidak baik-baik saja.
"Diah... kenapa kamu?" tanya bu Reny.
"Ibu... hu huuu..." Diah menjatuhkan bokonya di lantai keadaanya benar-benar menyedihkan. Diah kali ini ingin dipeluk bu Reny, tetapi bu Reny tidak tanggap.
"Diah mau mati saja... Diah nggak kuat Bu, Diah nggak kuaaattt..." Diah bersimpuh di kaki bu Reny tangisnya mengharu biru.
.
__ADS_1
.