PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Pulang ke Indonesia.


__ADS_3

Bulan berganti, 6 bulan sudah Melati dan Abim menjalani bahtera rumah tangga. Walapun banyak penggangu yang ingin merusak hubungan mereka. Namun cinta mereka tetap kokoh.


Selama 6 bulan usia pernikahannya bukan tidak di bumbuhi pertengkaran kecil. Tetapi, mereka sudah dewasa, sudah bisa menyelesaikan sendiri persoalan yang mereka hadapi.


Dan tibalah waktunya libur semester. Momen itu ia gunakan pulang ke Indonesia. Selain kangen dengan ortu dan sanak saudara, mereka akan menghadiri, pernikahan Intan, dan Rony yang akan di selenggarakan dua minggu lagi.


Selain itu, saat ini tiba saatnya tepat satu tahun kelahiran Syifa. Abim ingin hadir dalam acara tersebut karena Adit akan mengadakan syukuran kecil-kecilan.


Jam delapan pagi mereka sampai di Bandara lalu singgah sebentar di Resto menyantap sarapan pagi.


"Melati... kak Abim... hiks hiks" Intan menghambur ke pelukan sahabatnya yang saat ini sudah menjadi kakak ipar.


"Intan... aku juga kangen...hiks hiks" keduanya menumpahkan air mata.


"Apa kabar bro?" tanya Rony, ia mengantar Intan menjemput Abim dan Melati di Bandara.


"Baik Bang Rony" Abim menepuk-nepuk pundak Rony yang tidak lama lagi akan menikah dengan adiknya.


"Jangan panggil Bang, panggil saja nama Bim, aku kan calon adikmu, hahaha" mereka tertawa.


"Assalamualaikum..." Melati mengucap salam kepada Rony sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.


Waalaikumsalam..." Rony menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Pak Rony, sebentar lagi sebutan bujang lapuk akan berubah, hehehe" kelakar Melati kepada mantan dosen nya itu.


"Kamu itu ya, mantan mahasiswi yang masih nglunjak terus" Rony menyentil kening Melati. Semua pun tertawa.


Intan langsung ingat sesuatu. "Mel, kok perut kamu masih rata sih" Intan menelisik perut Melati.


"Belum dikasih" jawab Melati, tahu kemana arah pertanyaan Intan.


"Sudah Tan, ngobrolnya kita lanjut di rumah saja, kasihan mereka capek, ingin cepat istirahat" usul Rony, mereka beriringan masuk mobil.


"Aku di tengah sama Melati, Kak Abim di depan sama Mas Rony" Intan membuat aturan, ia ingin ngobrol dengan Melati.


"Enak saja! sana ke depan!" ketus Abim.


"Yah Kakak!" Intan cemberut lalu pindah ke depan. Sepanjang jalan mereka ngobrol sambil bercanda. Satu jam kemudian sampai di rumah.


Abim terkejut saat turun dari mobil, halaman rumah ortu sudah berbeda, tanah seluas 2000 meter persegi itu di belah dua dan sudah berdiri satu rumah yang cukup mewah.


"Papa kok membangun rumah lagi Tan?" tanya Abim sambil mengamati rumah tersebut.


"Oh, kata Papa, itu kado spesial pernikahan Kakak" Intan lalu merangkul pundak Melati yang baru turun belakangan.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, sementara Rony masih memasukkan mobil milik Intan ke dalam garasi.

__ADS_1


"Anakku..." mama Ina merangkul anak dan menantunya sekali gus.


"Kalian apa kabar Nak" mama Ina lantas menangis juga.


"Kami baik-baik saja Ma" jawab Melati dan Abim bersamaan.


"Kamu belum mau kasih Mama cucu?" pertanyaan itu keluar juga dari mulut mama.


"Belum Ma" jawab Melati.


"Sekarang ngobrolnya sambil duduk" kata mama Ina.


"Papa kemana Ma?" Abim mencari keberadaan papa Wahid.


"Papa di sini" papa Wahid yang baru saja keluar dari ruang kerja tersenyum senang.


"Papa..." anak dan papa yang sudah 6 bulan tidak bertemu itu saling berhadapan dan pada akhirnya Abim menghambur ke pelukan papa. Keluarga itupun berkumpul saling tukar cerita.


"Wah... kamu pintar Mel, suami kamu sekarang gemukan" kelakar Papa.


"Itu artinya... anak kita bahagia Pa" mama menimpali.


"Jelas Ma, istriku ini ternyata pintar masak, tiap makan nambah terus deh" Abim lantas merangkul pundak istrinya.


"Kamu telat Bim, Mama lebih tahu dulu, kalau menantu Mama ini pintar masak. Sebelum menikah dengan kamu... dia kan, sering masak di sini"


Melati menanggapi dengan senyuman.


Sebenarnya masih belum puas ngobrol, tetapi papa, dan mama minta anak, dan menantunya beristirahat.


Abim akhirnya mengajak istrinya ke kamarnya. Melati mengikuti langkah suaminya, sampai di kamar, Abim langsung ke kamar mandi.


Melati mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru kamar Abim, yang baru pertama kali ia pijak. Kamar empat kali lipat dari kamar Mela yang ia beli sendiri. Kamar ini sama seperti kamar Intan karena dulu Melati sering menginap, tetapi kamar Abim lebih tertata, walaupun tidak ada penghuni nya.


"Kamu segera mandi gih" Abim sudah selesai mandi mengejutkan Melati yang masih betah berdiri di jendela. Ia mengamati taman indah yang mengelilingi kolam renang.


Melati menoleh Abim yang baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah.


"Abang belum bawa handuk ya, dimana tempatnya, aku ambilkan."


"Di lemari yang nomer dua dari bawah di atas kaos kaki" Abim rupanya masih ingat dimana letak pakaiannya.


Melati bergegas membuka lemari yang baru pertama kali, lalu ambil handuk. Diatas handuk tersusun kaos Melati sekalian mengambilkan.


"Ini kaos nya sekalian Bang" Melati menyerahkan handuk dan kaos sambil tersenyum mengamati perut Abim yang hanya mengenakan boxer terpampang perutnya, memang agak buncit.


Melati baru menyadari, memang suaminya lebih gemuk, seperti yang papa Wahid bilang tadi.

__ADS_1


"Kamu kok senyum-senyum? pengen ya?" Abim menaik turunkan alisnya.


"Huh modus!" Melati lantas gantian ke kamar mandi meninggalkan Abim yang masih terkekeh.


Selesai mandi, Melati melihat Abim sudah tidur. Perjalanan pulang tadi memang melelahkan. Melati Ambil baju dari tas kemudian memakainya.


Tubuh ramping itu lantas berbaring di ranjang Abim untuk pertama kalinya, kemudian pulas juga.


"Allahu akbar... Allahu akbar"


Mendengar adzan dzuhur Melati bangun lalu melaksanakan shalat tanpa membangunkan Abim yang masih pulas.


Selesai shalat ia ke lantai bawah lalu ke dapur.


"Selamat siang Bi" sapa Melati mendekati bibi yang sedang memasak.


"Siang Neng, Neng Melati, mau apa? saya ambilkan"


"Nggak kok Bi, ada yang perlu di bantu?" Melati berniat membantu bibi memasak.


"Nggak ada Neng, sudah matang semua"


"Kita ke gazebo aja yuk" Intan tiba-tiba sudah berada di dapur.


"Ayo, memang Kak Rony kemana Tan?" tanya Melati.


"Pulang dia, bentar, aku buat minum dulu" Intan membuat mocacinno, dua gelas lalu di campur dengan ice batu. Kemudian membawanya ke belakang rumah. Mereka duduk di bawah pohon sambil minum mocacinno siang hari memang segar.


"Tan, aku senang... sebentar lagi kamu mau menikah dengan Pak Rony," Melati tersenyum senang.


"Doakan ya Mel, semoga lancar" Intan lantas mencecap mocacinno.


"Pasti dong"


"Mel, kamu sudah dengar belum kalau Diah sudah bertemu dengan Bapak kandunya?" tanya Intan sambil makan cemilan.


"Alhamdulillah... yang benar?" Melati senang jika Diah bahagia ia pun turut bahagia.


"Benar Mel, dan ternyata orang tua Diah itu teman Papa waktu SMA, beliau tenyata orang kaya raya" Intan mendengar cerita papanya bahwa Efendi teman sekolah.


"Waah... syukurlah..."


"Dan ada lagi kejutan Mel, katanya Diah menjalin hubungan dengan bos nya, yang berasal dari Belanda" tutur Intan panjang lebar.


"Non Intan, ditunggu Nyonya, makan siang sudah siap," Bibi menghentikan obrolan.


"Iya Bi"

__ADS_1


Mereka akhirnya kembali masuk ke dalam.


.


__ADS_2