
Sampai dirumah, papa dan mama Ina segera mandi. Rasanya lelah jiwa raga. Mengguyur kepala tentu menyegarkan tubuhnya.
"Nyonya, makan malam sudah siap" kata bibi ketika mama keluar dari kamar sudah selesai mandi.
"Iya Bi, saya memang lapar" tutur mama, wajar kalau lapar, sebab dari pagi tidak napsu makan, karena tegang memikirkan Diah.
"Pa, makan dulu, lapar aku." mama menghampiri papa di ruang kerja.
Papa yang satu ini usia boleh tua, tetapi semangat kerjanya masih luar biasa, termasuk kegiatan diranjang.
Abim ternyata kalah dengan papanya, mengaku punya istri, tetapi tidak pernah menyalurkan hasrat bercinta.
"Papa! iihh... baru juga sampai dirumah, sudah pegang kerjaan sih, taruh! makan dulu!" mama menyingkirkan mose yang dipegang papa.
"Hehehe... iya... galak banget" ucap papa kemudian keluar dari ruang kerja sambil memeluk pundak istrinya.
Usia beliau yang sudah kepala lima, dan hanya berbeda tiga tahun itu sangat romantis.
Sampai diluar Intan sudah menunggu dimeja makan.
"Kamu baru sampai, Tan?" tanya mama lalu menarik kursi untuk papa, baru untuk dirinya sendiri.
"Iya Ma, maaf ya, aku tadi nggak sempat menyusul Mama," tutur Intan. Tadi siang sudah janji ingin bergantian dengan mama kerumah sakit. Namun butik nya ramai, jangankan kerumah sakit menghubungi mamanya saja tidak sempat.
"Nggak apa-apa... terus rencanamu kesana kapan?" tanya mama.
"Sekarang saja, Ma," Intan ingin segera melihat keponakanya.
"Kalau sekarang capek, besok saja," papa menimpali.
"Nggak apa-apa Pa, sekarang saja," kukuh Intan.
"Ya sudah... kebetulan, kalau begitu, nanti kakakmu suruh pulang dulu ya, Nak, kasihan, dari subuh sama sekali belum istirahat," tutur mama.
"Okay..." sahut Intan. Mereka lalu makan malam bersama.
"Ma, Pa... aku berangkat dulu" kata Intan. Selesai makan ia ambil tas, dan baju tidur sepasang, untuk ganti nanti malam.
"Hati-hati... jangan lupa, kakakmu suruh pulang kerumah mama saja," pesan mama mengulangi.
"Iya, Ma" Intan kali ini diantar supir, awalnya ingin membawa motor. Namun mama melarang.
"Ayo kekamar" setelah mengantar Intan sampai halaman, mama menarik papa kekamar, khwatir papa keruang kerja lagi, ada yang ingin mama bicarakan.
__ADS_1
"Ada apa sih... pengen ya?" papa terkekeh, lalu mendapat cubitan pelan diperut dari tangan mama.
"Iihh! ngeres... saja! sudah tua juga" mama mlengos, maksud mama agar papa istirahat, tidak boleh bekerja lagi.
"Pa" mama tiduran bersebelahan dengan papa, menerawang keatas menatap langit-langit. Pikiranya kembali kerumah sakit.
"Heemm" jawab papa, sebenarnya papa pun sedang berpikir sambil terpejam berbantalkan tangan.
"Sebenarnya, yang dilahirkan Diah itu... anak siapa ya, Pa, Mama tuh penasaran. Nggak mungkin kan? itu keturunan Abim?" tanya mama pada akhirnya.
"Diah itu pacaran dengan pria Asing Ma. Papa sudah tahu sejak dulu, sebelum menikah dengan Abim." tutur papa.
"Papa sampai menyewa orang untuk menyelidiki. Diah sering dibawa keluar masuk hotel," terang papa, akhirnya rahasia ini terbongkar.
"Astagfirlullah... yang benar Pa?" mama terkejut bukan main.
Papa memiringkan badan menatap mama. "Sudahlah Ma, anak kita sudah besar, biar dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita cukup memberi pengarahan saja," pungkas Papa.
**********
"Sus, tolong tinggalkan kami berdua" Abim minta suster untuk keluar.
"Baik, Tuan" suster hendak meninggalkan tempat itu, tapi menghentikan langkahnya, tatkala mendengar bentakan Diah.
"Heh! jangan dulu keluar, rumah sakit ini harus bertanggungjawab, anak saya ditukar," Diah terengah-engah sebab dari tadi, kebanyakan teriak-teriak.
"Bisa diam tidak Diah? jika tidak bisa diam... akan aku sumpal mulutmu dengan sepatu!" Abim mengangkat sepatu yang dilepas didepan pintu mengacungkan kearah Diah.
Ia kesal sudah susah payah menidurkan baby, dengan seenaknya ibu kandungnya justeru teriak-teriak seperti orang kesetanan.
Abim lantas menutup pintu.
"Lakukan saja kalau berani?!" tantang Diah.
"Siapa takut?!" Abim mengangkat sepatu menjejalkan kemulut Diah.
"Uaum...uaum" Diah tidak bisa bicara. Mendorong-dorong tangan Abim. "Hueeek" Diah mau muntah sebab sepatunya habis menginjak tahi kucing, yang baunya tidak karuan.
Abim benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi, selama ini sudah cukup sabar.
"Ahaha..." Abim tertawa meledek, lalu melemparkan sepatu kesudut ruang inap.
"Loe itu wanita munafik Diah, karena sudah ketahuan belangmu tidur dengan laki-laki diluar sana, hingga Tuhan, membuka mata saya lebar-lebar," Abim seperti ruku menunjuk mata Diah, sangking kesalnya menyebut dia dengan kata 'loe.
__ADS_1
"Kemudian Allah menunjukkan bahwa kamu ini bukan wanita baik, terbukti, kamu telah melahirkan anak yang bukan anak orang Indonesia pada umumnya!" Abim memutari kursi roda sambil bersedekap.
Sebenarnya Abim tidak tega memarahi Diah, yang baru saja melahirkan. Tetapi Diah sudah menyulut api peperangan.
Jika Diah tidak berbuat ulah tentu Abim akan bicara baik-baik.
"Sekarang katakan Diah, saya tidak perduli lagi kamu mau tidur dengan lelaki manapun, tapi pesan saya, cari bapak biologis anakmu ini, menikahlah dengan resmi, agar tidak terus menambah dosa, dan anak ini ada yang melindungi." Abim berbicara pelan sambil duduk diranjang.
"Kamu ini bicara apa Mas, anak ini anakmu!" bantah Diah.
"Tidak usah membantah lagi Diah, saya bukan orang bodoh, tapi menjadi bodoh, karena kamu bodoh-bodohi, tapi mulai sekarang saya tidak akan pernah mengalah lagi dengan wanita macam kamu!" tegas Abim.
"Aku jujur sama kamu Mas, anak ini anakmu, Aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun kecuali kamu, karena, aku sangat mencintaimu," tangan Diah menggapai-gapai dari kursi roda ingin memegang tangan Abim, yang tidak jauh darinya.
"Sayangnya, cinta saya sama kamu, sudah luntur, saat malam pertama," pungkas Abim.
Abim lalu keluar menuju mushola ingin melaksanakan shalat isya sambil menenteng sepatu yang menginjak kotoran kucing entah dimana hendak mencucinya.
Diah menatap kepergian Abim, kemudian menatap anaknya dalam box yang sedang tidur pulas merasa geram. "Ini gara-gara kamu!" gumamnya.
Diah mengedarkan pandangannya kesekeliling, mencari sesuatu. Ia menjalankan kursi roda dengan kedua tangannya menuju telepon fasilitas rumah sakit disudut ruangan. Karena handphone dia tidak dibawa.
"Hello!" jawab seseorang di seberang setelah Diah menekan nomor.
"Hello, hiks, hiks" Diah menagis tersedu-sedu.
("What's wrong with you?") kamu kenapa?" tanya orang itu.
"Hiks hiks hiks,( I gave birth to your child." ) aku melahirkan anakmu" tutur Diah.
("don't worry i will be responsible" ) jangan khawatir aku akan bertanggung jawab."
"I love you"
"Love you too..."
Diah menutup telepon lalu kembali ke pinggir box. Ia menelisik wajah bayinya, dengan susah payah ia berdiri sambil menahan sakit diperutnya paska operasi obat biusnya sudah mulai menghilang.
"Kamu haruuus..." Diah tidak melanjutkan ucapanya kedua tangannya ingin mencekik leher bayinya sendiri.
"Hentikaaaan...!!" Diah mengangkat kepalanya menatap siapa yang datang, mengurungkan niatnya.
"Plak, plak, plak.
__ADS_1
Tiga tamparan terjun bebas diwajah Diah. Darah mengalir dibibirnya.
.