PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Almassyifa.


__ADS_3

Rumah tipe 80 yang awalnya sepi kini tampak ramai, empat remaja sedang menjalankan tugas masing-masing.


"Ini di simpam di mana, Mel?" tampak Bombom walaupun gemuk badanya, paling kuat, menarik freezer mencari posisi yang pas.


"Sebelah sini saja, Bom," jawab Melati. Garasi yang awalnya hanya berisi satu motor kini tampak sepuluh freezer berjejer. Freezer inilah yang akan dititipkan ke toko-toko guna memasarkan produk ice cream olahan mereka.


"Wuih, porsi makan loe setiap hari lima ribu kalori tidak sia-sia, Bom," Alex berseloroh, sambil tertawa terbahak-bahak. Ia sedang mencetak Logo dan Merek produk ice cream agar menarik untuk para konsumen.


"Jangan mbacot loe! bukan bantuin malah rese," Bombom mlengos kesal. Begitulah mereka jika berkumpul selalu seperti orang bertengkar tetapi sebenarnya tidak.


"Huh! kalian berdua ini berisik terus." jawab Risda. Ia sedang mengotak atik lap top mencari, tahu, Supplier. Yang menyediakan barang-barang produk berkwalitas.


"Sudah waktunya makan siang soalnya, jadi kalian pada ribut seperti suara cacing di perut kalian." Melati menimpali.


"Ahahaha..." semua mentertawakan banyolan Melati.


"Ris, kamu pesan nasi padang saja, di seberang jalan," kata Melati.


"Aku saja yang pesan," Bombom bersemangat.


"Benarkan, kalau masalah makan, Bombom nomor satu," sindir Alex.


"Bodo! yang penting pekerjaan beres... iya nggak Mel," Bombom minta dukungan.


"Iya saja dech" jawab Melati tersenyum.


Ia sedang mantengin komputer, menghitung modal secara rinci. Usaha ini modal mutlak miliknya, tidak seperti yang di rencanakan mereka sebelumnya, masing-masing akan menanam modal. Tetapi, Melati menggunakan uang pesangon yang diberikan kakaknya.


Flashback on.


"Kak Mawar, mulai besok... aku akan mengundurkan diri dari Rose shop ya." kata Melati.


"Loh kenapa?" Mawar tampak kaget.


"Aku punya rencana kak, sudah seharusnya aku mandiri," tutur Melati. Mereka sedang di ruangan Mawar.


"Terus... apa rencana kamu? selagi positif kakak akan mendukung." jawab Mawar, yang masih berkutat dengan kegiatannya.


"Aku sama teman-teman... ada rencana membuka usaha kecil-kecil lan, Kak" jawab Melati sambil mengamati kakaknya yang sedang menghitung omset penjualan produk.


"Okay... kakak setuju, nanti kakak akan memanggil calon karyawan yang kemarin terakhir melamar,"


Mawar mendukung sepenuhnya rencana adiknya bahkan Rose shop juga siap memasarkan produk ice cream buatan Melati nantinya.


"Terus... mengenai modal, kamu sudah siap, Mel?" tanya Mawar inilah yang menentukan.


"Kami ingin patungan kak," Mela bersemangat.

__ADS_1


"Sebaiknya... jika sudah niat usaha, akan lebih baik, jika kamu modal sendiri saja, mereka cukup membantu kamu, tidak usah turut andil modal." usul Mawar.


"Nggak cukup kak, cicilan rumah aku belum selesai, cicilan motor juga masih setengah," Melati tampak pesimis.


"Kamu tenang saja Mel, kakak ada pesangon, buat kamu, lagian... kamu ini! kalau ada apa-apa nggak mau bilang aku, setidaknya aku kan bisa membantu kamu, Mel" kata Mawar panjang lebar.


Mawar memang sudah menyiapkan pesangon untuk para karyawan, yang sudah bekerja dua tahun, apa lagi Melati sudah ikut merintis usahanya sejak awal.


"Beneran kak, mau kasih aku pesangon?" Melati lantas merangkul kakaknya.


"Beneran lah," pungkas Mawar.


Flashback off.


"Ayo kita makan dulu" kata Melati, lalu duduk lesehan rame-rame. Bombom lalu memberi nasi bungkus satu persatu.


"Makan-makan, makaaann," Bombom lantas membuka nasi padang tampak masih panas, menyuap dengan rakus.


Setelah makan bekerja lagi hingga sore kemudian mereka pulang.


Sore hari saatnya melepas lelah, ketika tenaga kita terkuras seharian seperti yang dirasakan Melati saat ini. Ia sedang ayunan di taman yang ia buat sendiri.


Tali tambang di ikat dipohon mangga, dua sisi kanan kiri. Terasa ada yang mendorong ayunan tersebut kencang. Tampak kerudung Melati berkibar terkena terpaan angin.


Melati memegang erat tali, setelah ayunan mulai pelan, ia memutar bola matanya.


"Kak Abim? ngapain kakak disini?"


Seketika Melati loncat dari ayunan, kemudian duduk di kursi taman, sambil meneguk air dalam botol.


"Aku ngantar ibu," jawa Abim lalu bergantian ia naik ayunan.


"Ibu sudah pulang ya kak?" Melati melihat kearah pintu rumah.


"Sudah, bareng aku tadi" jawab Abim singkat.


"Bagaimana kabar Diah, kak? maaf ya, aku belum sempat nengok lagi" Melati merasa tidak enak hati.


"Nggak apa-apa." Jawab Abim singkat. Kali ini Abim lebih banyak diam, entah kenapa.


Krett... krett... kreett" derit ayunan berbunyi saat Abim yang naik. Wajar, badan Abim yang tinggi dan kekar, tentu berbeda dengan tubuh Melati yang langsing semampai tidak begitu berpengaruh.


Melati menatap Abim tampak, menginjak tanah saat ayunan akan berhenti terus menerus. Hingga setengah jam tidak sepatah kata pun berbicara, dan tidak mau pulang.


Keduanya Diam larut dalam pikiran masing-masing.


"Kak, sebaiknya... kakak pulang saja, aku khwatir ada yang melihat kakak di sini, kalau Diah salah sangka bagaimana?" tanya Melati, was-was.

__ADS_1


Ia memang khawatir ada fitnah.


"Nggak apa-apa, Mel, tenang saja sih... didalam kan ada bapak sama Ibu," jawab Abim memang benar adanya.


"Yah... terserah kakak saja" Melati lantas masuk kedalam meninggalkan Abim.


*******


Seminggu kemudian, Diah sudah di izinkan pulang. Selama seminggu itu pula, ketiga keluarga bergantian menjaga baby.


Abim telaten menjaga baby, bergantian dengan Mawar dan Intan, walaupun tidak mendapat kasih sayang dari ibunya setidaknya banyak yang menyayangi.


"Bim, Syifa aku bawa ya" pinta Mawar. Ya Abim telah memberi nama anak perempuanya. (Almassyifa) Pribadi yang berharga.


"Jangan kak, biar aku yang merawat sendiri," tolak Abim, tentu tidak rela jika Syifa pisah denganya.


"Bim, kamu nggak percaya sama aku, jika tinggal di rumahmu siapa yang akan mengasuh? aku tahu, keluargamu sibuk semua" terang Mawar


Memang benar adanya, jika tinggal dirumah Mawar, walaupun Mawar bekerja tidak akan kurang kasih sayang. Pasalnya, Mawar bekerja tidak perlu meninggalakn rumah.


"Tapii... aku nggak mau jauh dari Syifa kak," lirih Abim.


"Benar yang di bilang Mawar Bim, kamu bisa menengok ketika pulang kerja." Adit menambahkan.


Abim tampak merenung menatap Syifa anak yang tidak berdosa harusnya mendapatkan kasih sayang yang utuh. Abim percaya Adit dan Mawar memang yang paling tepat merawatnya. Toh Abim juga masih bisa tiap hari bertemu.


"Baik kak" jawab Abim pada akhirnya.


"Tapi... tolong pantau Diah kak, sudah dua ali kami memergoki dia ingin mencelakai Syifa," Abim berkaca-kaca kembali menatap Syifa yang sedang tidur pulas.


"Pasti Bim, kami akan menjaganya, dan tidak akan membiarkan Diah mendekati, Syifa ." Mawar meyakinkan Abim.


Abim sudah check dna dan hasilnya akan di ketahui tiga minggu kemudian. Jika nanti hasilnya memang bukan darah dagingnya. Abim akan tetap menyayangi Syifa.


Sementara di ranjang pasien, pak Renggono membantu Diah bersiap akan pulang hari ini.


Sedangkan bu Reny hanya datang kerumah sakit sekali. Apa yang dilakukan wanita sengah baya itu entahlah, tidak ada yang tahu.


"Sudah siap?" tanya pak Renggono.


"Mas Abim kemana?" Diah balik bertanya, Diah pikir dia akan di bawa pulang kerumah Abim.


"Sekarang kamu tidak usah menanyakan Abim Diah... mulai sekarang, dan seterusnya, kamu tanggung jawab Bapak," tutur bapak.


"Apa maksud, Bapak?!" Diah mengeluarkan urat leher hingga tampak hijau menonjol.


"Abim sudah mengembalikan kamu lepada Bapak, kamu tinggal menunggu tanda tangan surat cerai," pak Renggono memperjelas.

__ADS_1


"Tidaaaaakkk....!!!


.


__ADS_2