Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Little Genius (Special Triplet E)


__ADS_3

Empat tahun kemudian ….


"Apa yang kamu lakukan? Cepat bereskan. Jika ayah dan ibu pulang, kita bisa dihukum oleh ayah lagi," kata Edrick dengan wajah dinginnya yang polos. Dia memakai baju hitam polos dengan celana selutut.


Sekilas, Edrick tampak seperti kakak tertua tapi dia adalah anak ketiga. Tapi dua kembarannya yang lain tidak bisa diandalkan dengan baik.


Ketiganya berusia tujuh tahun saat ini dan telah masuk sekolah dasar satu tahun lalu. Karena kejeniusan ketiganya, Mereka telah melompati beberapa kelas. Mungkin kepintaran mereka diwariskan dari kedua orang tuanya yang sama-sama memiliki otak cerdas.


Tapi terkadang kecerdasan tidak selamanya membuat orang tua bangga. Akibat terlalu jenius, orang tua bahkan harus mengalah saat berdebat dengan anak sendiri.


"Ayah dan ibu akan pulang nanti malam. Ini masih siang, kenapa begitu terburu-buru?" Egan yang sedang berkutat dengan mainan rakitan rumit pun mengerutkan kening.


Efrain juga sibuk memilih warna cerah untuk lukisannya. "Ah, jangan terlalu serius!" Dia tidak peduli.


"..." Edrick yang diabaikan oleh keduanya sedikit kesal.


Lalu mereka mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. Si kembar tiga langsung bangun dari sikap malasnya dan buru-buru berlari ke balkon.


Mereka diam-diam melihat mobil parkir di halaman. Sosok Dallas berpakaian kantoran keluar dari mobil dan menuju rumah. Efrain dan Egan langsung panik dan buru-buru kembali ke kamar, membereskan mainan, lukisan serta beberapa barang lainnya.


Mereka langsung mengeluarkan buku pelajaran dan memegang pulpen, pura-pura sedang belajar.


"..." Edrick yang sedari awal sudah memegang buku bisnis merasa sakit kepala. Tapi dia tak bisa membongkar kejelekan keduanya. Pura-pura lah tidak tahu.

__ADS_1


Tak lama, Dallas naik ke lantai dua dan pergi ke kamar anak-anak. Melihat ketiganya sibuk dengan diri sendiri, dia mengerutkan kening.


"Ayah, kenapa sudah kembali? Di mana ibu?" tanya Egan.


Dallas tidak memiliki kelainan ekspresi saat ini. "Ibu kalian masih di rumah sakit," jawabnya lembut. "Adik kalian masih harus dirawat sampai besok. Nanti sore ikut Ayah untuk menjenguk adik kalian," imbuhnya.


Ketiganya mengangguk. Adik perempuan mereka, Diana Alston baru berusia tiga tahun—merupakan permata di mata ayah mereka. Meski ketiganya kadang cemburu karena Diana kecil lebih sering diperhatikan, tapi lambat lain menjadi terbiasa.


Anak perempuan seperti putri raja di mata ayahnya dan anak laki-laki bagai pangeran di mata ibu mereka. Karena itu, Dallas sering berkata pada ketiganya jika di masa depan, Diana harus dilindungi. Lindungi sebagai seorang kakak menjaga adik perempuannya.


Kamar Diana juga cukup luas, berwarna merah muda, ada banyak boneka serta mainan anak perempuan lainnya. Dallas sangat memanjakan anak perempuan ini.


Dallas memasuki kamar dan berjongkok di depan Efrain. Dia mengusap pipinya dengan lembut. "Lain kali, bersihkan wajahmu dari cat lukis," ujarnya.


Dallas terkekeh. Meski ketiganya relatif jujur, tapi lebih licik daripada dirinya di masa kecil. Namun Dallas tidak menyalahkan mereka. Lagi pula, masa kecil sangat berharga dan biarkan mereka bermain dengan sesuatu yang disukainya.


Pada sore harinya, Dallas membawa ketiganya ke rumah sakit. Chezy berada di salah satu ruang inap, menjaga Diana yang demam cukup parah saat ini. Belum lagi, Diana juga alergi dengan serbuk sari. Demamnya ini disebabkan oleh alergi serbuk sari.


"Bu, jika bukan karena aku, adikku tidak akan demam seperti ini. Semua ini salahku," kata Efrain menunduk.


Kemarin, dia sengaja memetik beberapa bunga di halaman belakang dan memberikannya pada Diana. Dia pikir anak perempuan suka bunga.


Sebelumnya, Chezy memberi tahu ketiganya jika Diana tidak boleh diberi bunga karena alergi terhadap serbuk sari. Tapi Efrain ingin menjahili adiknya dan sengaja memberinya bunga.

__ADS_1


Siapa yang menduga jika Diana akan bersin berulang kali hingga hidungnya memerah dan akhirnya menangis kencang. Hal ini membuat Chezy sangat khawatir dan segera menghubungi Dallas jika Diana tak sengaja menghirup serbuk sari.


Gadis kecil itu menangis sepanjang jalan menuju rumah sakit dan Arran memeriksa kondisinya. Lalu Diana demam pada malam harinya.


Chezy menghela napas, mengusap kepala Efrain. "Tidak apa-apa. Lain kali, jangan diulangi lagi."


Efrain mengangguk.


Ketiganya melihat Diana yang terbaring lemah di ranjang, perasaan tidak nyaman menghantui pikiran mereka. Namun Edrick terlihat lebih stabil dibandingkan keduanya sehingga Dallas mau tak mau melihatnya beberapa kali.


Putra ketiganya ini mungkin bisa diandalkan di masa depan.


"Apakah kalian sudah makan malam?" tanya Chezy.


"Sudah!" Ketiganya menjawab serempak.


"Setelah mengerjakan PR, langsung tidur. Jangan bermain larut malam. Besok kalian bisa mengantuk di kelas," kata Chezy.


Dallas membawa makan malam untuk istrinya. Malam ini, dia harus kembali ke kantor untuk kerja lembur.


Setelah Chezy makan malam, Dallas membawa kembali si kembar ke rumah untuk tidur.


Ketiganya tidak lagi ditemani Dallas saat tidur jadi pria itu langsung kembali ke perusahaan setelah mengucapkan beberapa patah kata pada Butler Sun.

__ADS_1


__ADS_2