Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Rogers Tertangkap


__ADS_3

Rogers yang memegang senapan dengan beberapa peluru tersisa segera menegang saat melihat berapa banyak prajurit khusus yang datang. Dia menggertakkan gigi dan ingin melawan. Tapi mereka terlalu banyak dan dia bisa ditembak langsung jika mau.


Pada akhirnya, dia hanya melepaskan senjata dan berlutut dengan kedua tangan di belakang kepala. Ketika prajurit membekuknya, Kakek Alston datang terakhir.


Rogers yang melihat pria tua itu sekali lagi berada di puncak kemarahannya.


"Jack Alston! Ini kamu lagi!" geramnya.


Kakek Alston yang masih bisa dibilang sehat dan kuat untuk berjalan itu pun menatap Rogers dengan sentuhan dingin. Seperti biasanya, dia menatap musuh-musuhnya tanpa gentar.


"Rogers, lama tidak berjumpa," sapanya.


"Kep*rat!!" Rogers mengutuk.


Akhirnya Rogers diborgol dan dikawal keluar dari hutan dengan penjagaan tingkat penuh. Bagaimana pun, Rogers adalah bos pembunuh berantai yang telah lama dicari Negara K.


Sebelum pergi jauh, Rogers berteriak marah-marah dan penuh provokasi. "Jangan berpikir ini adalah akhirnya! Aku bukan satu-satunya bos di sini. Masih ada orang di balik semua ini! Kalian semua tidak akan bisa menang! Negara ini akan segera berakhir!" Setelah itu dia tertawa tidak jelas seolah-olah telah dibutakan oleh darah korban.


Orang yang Rogers maksud mungkin berada di Negara C saat ini dan menjadi penyuntik kekuatan utama Rogers selama beberapa tahun terakhir. Tapi Kakek Alston tidak takut. Negara A dan Negara C tidak memiliki perjanjian rekonsiliasi. Mau tidak mau hanya bisa mencari Negara K untuk bantuan.


Chezy melihat Kakek Alston dan berpikir jika peluru beracun satu-satunya yang dia miliki masih aman dan belum bisa digunakan. Awalnya dia ingin menggunakan peluru beracun untuk membunuh Rogers. Tapi karena bantuan pasukan khusus anti teror datang, ini menghemat tenaganya.

__ADS_1


"Kakek, kenapa kamu di sini? Terlalu berbahaya," kata Chezy.


"Tidak apa-apa. Ini dendam lama dengan Rogers, tentu saja aku turun tangan. Lagi pula, aku masih memiliki nama di mata presiden, jadi tidak masalah," jelasnya. "Apakah kamu baik-baik saja?"


Melihat Chezy sedikit pucat dan kelelahan, Kakek Alston ingin memintanya istirahat lebih dulu namun Chezy menolak.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja aku harus langsung pergi. Dua rekanku disandera Drake. Dan aku harus tiba sebelum satu jam. Jika tidak, mereka akan membunuh keduanya."


Kakek Alston akhirnya tahu masalah ini lebih berbahaya lagi. "Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke tempat terdekat agar lebih cepat. Biarkan pasukan juga datang untuk mengepung tempat itu," katanya.


"Tidak, jangan. Aku tahu seperti apa Drake. Dia licik dan lihai menipu orang bahkan mampu melarikan diri berkali-kali. Dia belum tahu Rogers tertangkap saat ini dan berpikir aku masih berhadapan dengan Rogers. Lebih baik mendatanginya seorang diri."


"Kalau begitu Kakek tidak bisa memaksamu. Jika situasinya genting, kami akan langsung menembak."


"Tidak masalah. Kamu masih menantuku sekarang. Membantu masih dibenarkan."


"..." Kakek terlalu percaya diri, batin Chezy.


"Apakah kamu sakit? Kondisimu sepertinya tidak benar," kata Kakek Alston diam-diam mengkhawatirkan kondisinya.


"Tidak apa-apa. Mungkin sedikit lelah. Lagi pula, aku sudah berlari lama dan bertarung dengan Rogers, ini mungkin efek samping." Chezy sebenarnya masih merasakan sakit di lengan dan betisnya akibat tendangan Rogers.

__ADS_1


Untungnya tidak menendang perut. Jika sampai menendang perut, dia mungkin akan muntah dan pusing serta sulit berdiri.


Di perjalanan, Chezy menanyakan kondisi Dallas saat ini. Kakek Alston masih bersikap biasa dan berkata jika cucunya itu pasti baik-baik saja. Ini bukan kali pertama Dallas menghadapi masalah. Hanya saja, berhadapan dengan Gaines, sedikit membuat Dallas sedih pastinya.


Setibanya di lokasi, Chezy keluar sendiri dan mengucapkan sampai jumpa pada Kakek Alston.


Melihat kepergiannya, Kakek Alston menghela napas tidak berdaya.


"Tuan, kenapa tidak berkata yang sejujurnya jika tuan muda sedang bertarung hidup dan mati dengan saudaranya?" Salah satu prajurit memberanikan diri untuk bicara.


Kakek Alston tampak tidak berdaya dan menggelengkan kepala. "Menantuku adalah seorang agen rahasia, dan memprioritaskan tugas adalah misinya. Jangan sampai dia terganggu oleh hal-hal ini. Aku yakin, baik Dallas maupun Chezy pasti sudah berunding lebih dulu," jelasnya.


"Ternyata seperti itu. Jika keduanya bisa bertahan hingga akhir, ini berkah." Prajurit kecil itu sebenarnya berdoa dan memegang liontin salib di dadanya.


"Tentu saja."


Kakek Alston segera pergi dari sana dan meminta bawahannya yang lain untuk tetap berjaga-jaga jika seandainya ada masalah. Hanya saja, mereka melaporkan jika ada pasukan lain yang sedang dalam perjalanan ke tempat yang sama.


"Siapa yang datang?" tanyanya penasaran.


"Kami tidak tahu. Tapi mereka bukan musuh."

__ADS_1


"Kalau begitu aku bisa lega. Mari kembali ke kantor pusat dan interogasi Rogers."


"Ya!" Mereka menjawab serempak.


__ADS_2