
Di rumah Alston.
Chezy dan Dallas sedang menonton televisi sambil makan camilan dan minum sesuatu yang segar. Suasana tampak harmonis. Dallas jarang mengizinkan istrinya untuk jalan-jalan jika bukan untuk menghilangkan kebosanan.
Kemudian, ponsel pria itu berdering dan nama Miley tertera di layar.
“Tumben orang itu meneleponmu? Aku merasakan firasat yang tidak menyenangkan,” kata Chezy.
Dallas mengerutkan kening, merasa tidak suka. Namun dia masih baik hati untuk menjawab panggilan teleponnya.
“Hah, ada apa?” tanyanya malas.
“Dallas, kenapa semua putramu sangat brengs*k?! putra keduanya menculik putriku dan menidurinya. Apa kata dunia?” Miley marah di seberang telepon dan berteriak keras.
Dallas bahkan harus menjauhkan ponselnya sebentar dan mulai menimpalinya. “Putra-putraku memiliki kemampuanku. Apa yang salah dengan itu. Putrimu harus bersyukur untuk bisa menjadi pacar putraku.”
“Kamu tak tahu malu! Katakan, apakah semua anak-anakmu kaya?” tanya Miley kembali ke pertanyaan serius.
“Tentu saja. Semua anak-anakku mewarisi harta keluarga dan juga bekerja keras. Aku belum pernah memberi mereka uang selama beberapa tahun terakhir. Anak-anak itu mampu,” jawabnya.
"..." Miley yang ada di seberang telepon tidak bisa berkata-kata lagi. Dia langsung mengakhiri panggilan telepon dengan dengkusan kasar.
Dallas melihat pria itu memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Bahkan lebih tidak senang lagi.
"Ada apa?" Chezy penasaran.
"Dia bilang Egan harus bertanggung jawab untuk putrinya," jawab Dallas langsung terkekeh. Dia masih sama seperti baji*gan di masa lalu.
Chezy memutar bola matanya. Dia jelas mendengar percakapan barusan dan Miley sama sekali tidak berkata demikian. Jadi dari mana rasa kepercayaan diri Dallas saat ini?
__ADS_1
Memikirkan putra keduanya lagi, Chezy sedikit khawatir. Baik Egan dan Jennifer berada di pangkalan militer yang sama. Ini hubungan atasan dan bawahan di tempat kerja.
Tapi di luar itu, putranya menjadi binatang buas di tempat tidur. Tiba-tiba saja Chezy merasa menyesal menikahi Dallas?
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya!
"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Dallas mengerutkan kening.
Chezy berusaha menenangkan diri. "Bukan apa-apa. Aku sedang menghitung ada berapa banyak wanita liar yang sedang mengintip mu dari bayang-bayang saat ini," jawabnya.
Walaupun Dallas sudah dikatakan sebagai pria paruh baya saat ini, tapi pesonanya tidak pudar. Wanita di luar sana masih ingin menjadi bunga liar yang dibesarkan di luar rumah. Jadi Chezy tidak tahan.
"..." Aku merasa kamu sedang berbohong, batin Dallas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Negara F.
Tapi pria itu selalu memfokuskan diri pada melukis dan menganggap jika ruang seni lukis adalah hidupnya.
"Efrain, mau sejak kapan kamu mengurung diri seperti ayam yang sedang mengerami telurnya? Tidakkah kamu ingin menemaniku jalan-jalan?"
Seorang wanita berpakaian modis muncul. Dia memiliki rambut lurus sepunggung dan memakai bando. Namun ekspresinya cemberut saat ini.
"Hei, kamu mendengarku atau tidak?" tanyanya kesal.
Efrain yang sedang sibuk melukis seseorang akhirnya meyadari keberadaan orang lain di ruangannya.
"Clowy? Sejak kapan kamu datang?" tanyanya santai seolah-olah baru saja mengumpulkan jiwanya di dunia nyata.
__ADS_1
Wanita bernama Clowy itu memutar bola matanya dan melipat kedua tangan di dada. Pria itu ternyata sama sekali tidak menyadari dirinya bertanya sebelumnya.
Clowy menghela napas tidak berdaya dan mencoba untuk tetap tenang. "Aku baru saja datang. Ayo ikut denganku untuk mengambil foto," katanya.
"Foto apa?"
"Foto pernikahan kita," canda Clowy kesal. "Tentu saja foto untuk bahan melukismu. Bukankah kamu yang memintaku untuk datang kemarin?"
Efrain menjilat bibir bawahnya sedikit dan tidak menolak. "Aku tidak keberatan mengambil foto pernikahan kita untuk dilukis," katanya.
Namun Clowy mengira pria itu bercanda dengannya. Tapi meski begitu, dia masih pemalu dan pura-pura tidak mau mendengar nya.
"Kamu pergi atau tidak?" tanyanya.
Efrain meletakkan kuas dan bangkit dari duduknya. "Tentu saja. Jika tidak pergi, siapa yang akan kamu mintai tolong?"
"..." Tentu saja ada asistenku, batin Clowy.
Efrain lancar berbahasa Negara F dan segera pergi dengan Clowy menuju beberapa tempat untuk mengambil foto. Efrain memiliki pandangan tinggi terhadap lukisannya sehingga foto yang diinginkan untuk bahan melukis juga tidak boleh biasa.
Clowy adalah seorang fotografer dan mengenal Efrain beberapa tahun yang lalu. Keduanya memiliki usia yang tidak terlalu jauh sehingga bisa dikatakan sebagai teman sebaya.
"Bagaimana dengan taman bunga ini?" tanya Clowy seraya melihat hamparan bunga di depannya.
Saat ini mereka berada di taman bunga nasional dan pengunjung cukup banyak.
Efrain melihat hamparan bunga yang tertiup angin di depannya dan mengambil alih kamera dari tangan Clowy.
"Berdirilah di sana. Aku akan memotret," katanya.
__ADS_1
Clowy sedikit bingung. "Kamu bisa memotret? Apakah kamu yakin?"