
Chezy, Marine dan Hadwin dibawa segera ke rumah sakit sambil memberikan pertolongan darurat di dalam mobil militer. Mereka menggunakan masker oksigen kepada ketiganya, terutama Chezy.
Tidak tahu apakah mereka keracunan atau tidak, semuanya akan diketahui setelah menjalani perawatan.
......................
Di rumah sakit.
Ketiga pasien khusus segera dibawa ke unit gawat darurat untuk menjalani pemeriksaan awal. Miley menunggu di koridor dengan gelisah. Dia harap Chezy baik-baik saja. Kakek Alston juga datang setelah menerima kabar tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya panik.
"Chezy kritis. Kedua rekannya mengalami luka-luka."
Kakek Alston sedikit pucat dan dia duduk seakan kakinya tidak bisa menahan diri untuk gemetar. Dia harap wanita itu baik-baik saja. Lalu apa yang harus dia jelaskan pada sahabatnya di Negara K nanti?
Sore ini, situasinya menegangkan.
"Bagaimana dengan Dallas, apakah dia baik-baik saja di luar sana?"
Kakek Alston menggelengkan kepala. "Belum ada berita darinya."
Kemudian, suasana hening lagi. Arran akhirnya datang menyusul. Suasananya sangat hening saat dia datang.
__ADS_1
"..." Apakah ada sesuatu yang disembunyikan darinya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya di perusahaan Alston Group yang kini diberi garis polisi.
Di atap gedung tersebut, Dallas dan Gaines jelas sedang terlibat pertarungan tangan kosong selama beberapa waktu. Keduanya sudah dipenuhi oleh memar dan beberapa luka sayatan pisau. Meski tidak dalam, tapi darah terus mengalir sedikit-sedikit dan belum kering.
Kedua bersaudara itu jelas tidak saling bicara dan hanya menggunakan kekuatan masing-masing untuk bisa saling menjatuhkan.
Bahkan sudut mulut Gaines sedikit bengkak dan membiru. “Adikku ternyata memiliki kekuatan yang begitu besar. Tidak heran telah menjadi sosok Tamu Malam selama bertahun-tahun ini. Memang tidak bisa diremehkan,” ungkapnya.
“Kakak, kamu juga telah bersembunyi terlalu dalam hingga adikmu sama sekali tidak menyadarinya.” Dallas tidak senang sama sekali dengan perkataan Gaines, hanya membalasnya dengan sopan.
Gaines hanya terkekeh dan melayangkan tinjunya lagi. Angin sepoi-sepoi di atap membuat dua jas keduanya sedikit berkibar saat bergerak. Keringat sama-sama membanjiri tubuh tapi tidak ada satu pun yang mau tumbang lebih dulu.
Kali ini Gaines berhasil melukai Dallas di dadanya. Darah segar segera merembes di kemeja putihnya yang terkena sayatan belati.
Dallas sedikit pucat. Bagaimana pun juga, dia telah bertarung dengan kakaknya terlalu lama dan memiliki beberapa luka juga. Ketika luka baru muncul dan mengeluarkan banyak darah, Dallas tahu jika situasinya tidak terlalu optimis.
Gaines melihat adiknya sedikit terhuyung, dia tidak terburu-buru untuk menyerang lagi.
“Dallas, apakah hanya ini kemampuanmu? Sepertinya tidak sesuai dengan reputasimu,” ejeknya. “’ Setelah aku mendapatkan perusahaan dan menjadi pewaris sejati, kamu tidak perlu, keluarga Alston tidak akan terlalu menderita di tanganku,” imbuhnya.
__ADS_1
Dallas mencibir, tatapannya menjadi lebih dingin. “Tidak akan ada hari seperti itu!” tegasnya.
“Kalau begitu kamu harus membuktikan jika kamu layak untuk mendapatkan semuanya!” Gaines kembali menyerang dan kali ini lebih sengit dari sebelumnya.
Dallas tidak membawa belati sejak awal dan hanya sebuah pistol dengan sisa satu peluru saat ini. Dia ingin menggunakannya di saat kritis. Sambil menahan rasa sakit di dadanya akibat sayatan belati, Dallas memblokir setiap serangan kakaknya yang semakin brutal
Dia bahkan tak tanggung-tanggung untuk menendangnya. Namun pada saat yang sama juga, Dallas muntah darah dua kali. Karena ini wajahnya semakin pucat dan penglihatannya agak kabur.
“Kamu … apakah kamu meracuniku?” tanyanya.
Gaines tertawa sedikit liar tapi kali ini dia tidak berusaha untuk bangun, bahkan membuang belatinya.
“Ya. Belatiku mengandung racun. Jangan khawatir, itu bukan racun yang mengancam nyawa, hanya … kamu mungkin tidak akan memiliki keturunan di masa depan. Aku ingin tahu, apakah istrimu akan tetap bertahun dengan pria yang tak bisa memberi keturunan,” jawabnya tampak puas.
Dallas merasa dingin di hatinya dan tatapannya bahkan lebih penuh kemarahan. Dia benar-benar ingin membunuh kakaknya saat ini.
Tapi Gaines tidak mengecewakannya. Pria itu mengeluarkan pistol dari satu jas dalamnya dan menodongkannya ke arah Dallas.
“Menurutmu, peluru siapa yang akan mendarat lebih dulu, Adikku?” tanyanya datar, seolah-olah hanya sedang bermain.
Dallas juga mengeluarkan pistolnya dan menjaga tubuhnya tetap berdiri kokoh. “Bagaimana menurutmu?”
Gaines hanya terkekeh dan bersiap untuk menarik pelatuk. Begitu pula dengan Dallas. Seperti memiliki ikatan batin yang kuat, keduanya menarik pelatuk bersamaan dan suara tembakan terdengar. Anehnya, hanya ada satu tembakan di udara.
__ADS_1
Moncong pistol Dallas mengeluarkan sedikit asap dan peluru yang ditembakannya berhasil mengenai jantung Gaines. Sebaliknya, pistol Gaines sama sekali tidak mengeluarkan peluru saat pelatuk ditarik.
Akhirnya, ekspresi Dallas sedikit stagnan. “Kamu sengaja?” Nada bicaranya sedikit berat.