
NB: Warning
...****************...
Chezy tidak mengetahui psikologi pria di depannya saat ini. Bahkan ketika batang pria itu menegang dan berdiri, masih tidak berani untuk memperhatikan. Ini sungguh bukan asupan mata yang sehat.
Lalu Chezy tersenyum kaku dan merilekskan tubuhnya. "Ah, sayang ... Kenapa kamu begitu serius? Sejak awal kamu yang memanfaatkanku untuk menghindari pernikahan dengan Sonya. Bukankah wajar jika aku atau kamu tergelincir dalam perselingkuhan? Lagi pula kontrak kita hanya setahun," jelasnya.
Dallas paling tidak suka membahas tentang kontrak pernikahan mereka akhir-akhir ini. Dia melangkah ke arah wanita itu. Tapi Chezy yakin Dallas akan membuatnya pingsan malam ini. Lebih baik segera pergi.
Tapi gerakan Dallas lebih cepat darinya. Dallas meraih pinggang wanita itu dan memeluknya begitu erat. Ada rasa nyaman menjalar ke tubuhnya saat ini. Benar saja, wanita ini mampu membuatnya merasa lebih nyaman.
"Lepaskan!" Chezy tidak nyaman.
"Tidak! Chezy, bagaimana jika kita akhiri kontrak lebih awal?" bisiknya.
"Apa maksudmu? Kamu menyesal dan ingin segera menikahi Sonya?" Chezy cukup terkejut. Apakah pria ini masih berpikir jernih saat ini?
Dallas membenamkan wajahnya di leher wanita itu. Tangannya berkeliaran di tubuhnya. "Kamu berhasil mencuri hatiku, Chezy. Aku jatuh cinta padamu," bisiknya agak teredam.
Wanita itu tertegun. Apakah dia salah dengar? Dallas jatuh cinta padanya?
"Apakah kamu berpikir matahari terbit dari barat besok?" candanya.
Dallas tahu wanita ini keras kepala dan lebih kejam darinya soal perasaan. Dia hanya bisa membuktikannya di tempat tidur.
Ditekan di tempat tidur seperti sekarang, Chezy bisa melihat ekspresi Dallas yang penuh api di matanya. Bahkan mencium bibirnya dengan lembut. Tidak seperti biasanya yang penuh kegilaan,
Dallas melakukannya dengan hati-hati. Tidak sabar.
Chezy memerah. "Apakah kamu mabuk?"
"Tidak," jawab pria itu sadar.
Dallas yang lembut seperti ini tidak seperti sifat dinginnya. Belum lagi Dallas mencium punggung tangan Chezy berulang kali.
Pikiran Chezy agak berkabut. Merasakan sesuatu masuk ke titik sensitif nya berulang kali, membuatnya tanpa sadar mengeluarkan suara-suara ambigu.
__ADS_1
Setelah cukup lama berolahraga dengan gaya yang sama, Chezy meremas seprai sekuat tenaga. Bersamaan dengan Dallas yang mencapai puncaknya. Pria itu menggeram kecil, memejamkan mata dan mencium leher wanita itu berulang kali.
"Apakah kamu menyukainya?" tanya pria itu.
Chezy masih merasakan sisa-sisa musim semi. Hanya tersenyum kecil. Tidak perlu ditanya, jawabannya sudah pasti. Bisakah dia menemukan pria seperti ini lagi di masa depan? Pikirnya.
Dallas belum pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Setelah mengonfirmasi hatinya terhadap wanita ini.
"Ayo akhiri pernikahan kontrak dan jalin hubungan nyata. Maukah kamu mencobanya dengan ku?" tanya Dallas.
Chezy menggelengkan kepala. Dia tidak memiliki niat untuk ini. "Jangan terburu-buru. Penuhi saja kontraknya. Untuk hubungan lain ... tidak ada yang tahu. Jalani saja."
Tidak memaksa, Dallas hanya bisa berkompromi. Dia masih menginginkannya malam ini.
"Ayo, selanjutnya."
Akhirnya ekspresi Chezy yang kelam berubah marah. "Libertine!!" teriaknya.
"Jangan munafik! Kamu jelas menikmatinya barusan." Dallas mengubah posisinya.
Merasakan tubuhnya mulai kembali dimanjakan, Chezy hanya diam-diam mengutuknya dalam hati.
......................
Dallas bangun tidur lebih awal dari biasanya. Dia memeluk Chezy sepanjang malam. Lengan kanannya mati rasa saat ini karena dipakai menjadi bantal oleh wanita itu.
Memperhatikan wajah Chezy yang damai saat tidur, Dallas tanpa sadar menyentuh alisnya. Ketika tidur, Chezy jinak seperti kelinci kecil. Tapi di hari biasa, wanita itu akan sama galaknya seperti kucing liar.
Mengingat kejadian semalam, Dallas memiliki tatapan yang jauh lebih lembut daripada hari biasanya. Dia mencium kening Chezy, menyentuh tanda kemerahan di tulang selangkanya yang halus.
Tak lama, bulu mata wanita itu sedikit bergerak. Melihatnya akan bangun, Dallas kembali ke ekspresinya yang datar dan sedikit dingin.
"Bangun?"
Melihatnya membuka mata, Dallas sangat ingin menciumnya lagi saat ini. Namun dia masih memilih untuk menjaga citranya sebagai bos dingin yang sombong.
Chezy tidak mau bergerak saat ini dan masih nyaman dengan kehangatan di sampingnya.
__ADS_1
"Aku malas bergerak. Jangan ganggu aku," katanya.
"Tidurlah lagi. Ini hari libur. Tapi aku tidak bisa libur kerja." Dallas sepertinya mengeluh pada dirinya sendiri.
Sebagai seorang pemimpin perusahaan besar, dia sangat sibuk di hari-hari biasa. Jika bukan tugas yang dilemparkan pada Asisten Jill, dia khawatir akan bekerja lembur di perusahaan. Namun di akhir pekan, dia memiliki sedikit waktu santai. Karyawan juga libur.
Chezy malas bicara dengannya dan mengubah posisi tidur, membelakangi Dallas. "Kalau begitu pergilah."
"Istri yang tidak berperasaan! Seharusnya kamu menyiapkan sarapan dan membantuku memilih pakaian untuk pergi ke kantor."
"Ada Butler Sun di rumah. Apa gunanya punya pelayan?" gumam Chezy.
"Mereka bukan istriku."
Dallas beranjak dari tempat tidur dan menyegarkan diri. Pakaian yang berserak di sekitar tempat tidur menjadi sakti betapa indahnya semalam. Tapi saat melihat pakaian milik Sonya yang masih tertinggal, Dallas mencibir.
Dia hampir lupa jika semalam meminta Butler Sun mengantar Sonya kembali ke rumah keluarga Marweth. Setelah itu, dia belum mendengar berita apapun lagi.
Dallas melihat Chezy yang kepalanya sedikit tenggelam oleh selimut tebal, diam-diam mencium keningnya lagi dan meninggalkan kamar.
Mendengar suara pintu ditutup, Chezy yang sebelumnya tampak tidur perlahan membuka mata. Dia masih sedikit bingung saat ini. Sikap Dallas sedikit berbeda pagi ini. Jarang sekali menciumnya dengan lembut selama beberapa kali.
Belum lagi perkataannya semalam tentang pemutusan pernikahan kontrak, Chezy ragu-ragu.
"Tidak mungkin menjalani hubungan nyata tanpa saling jujur satu sama lain," gumamnya. Chezy sungguh penasaran dengan isi lantai tiga.
......................
Di ruang makan, Dallas menyesap kopinya yang masih hangat. Dia melihat ada banyak panggilan tak terjawab serta pesan dari rumah tua Alston. Seperti nya terkait dengan kejadian semalam.
Butler Sun melaporkan apa saja yang terjadi malam tadi tanpa dikurangi atau ditambahkan.
Keluarga Marweth sangat marah ketika putri mereka pulang dengan keadaan tanpa pakaian, berteriak histeris hingga menyebut nama Dallas berulang kali. Meski memalukan, keluarga Marweth tidak mungkin membiarkan rumor menyebar jadi segera menampar Sonya hingga sedikit lebih sadar.
Yang lebih mengejutkannya lagi, pagi ini Nyonya Marweth menemukan Gaines di tempat tidur Sonya.
Dallas sedang merokok saat Butler Sun bercerita. "Kakakku ada di kamar wanita itu? Apakah dia memanjat rumah dan mengetahui jika rencananya gagal?" cibirnya.
__ADS_1
"Tuan, bukankah ini aneh?"