
Di Negara F.
Dallas dan Chezy sedang menikmati keindahan salah satu pantai paling terkenal di dunia akan keindahannya. Berbaring di kursi malas sambil melihat sunset, minum segelas jus atau alkohol serta makan beberapa camilan.
Hidup sangat lengkap. Cuaca sore ini sangat bagus. Menyaksikan matahari terbenam benar-benar sangat indah.
"Apakah kamu menyukainya?" tanya Dallas.
"Yah, ini bagus. Negara F tidak buruk," jawabnya. "Apakah kamu sering ke sini di masa lalu?"
"Tidak." Dallas merangkulnya dan mengambil buah anggur dari piring, melayani istrinya dengan senang hati.
Chezy memakai baju pantai yang cukup seksi. Sebenarnya Dallas masih enggan melihat istrinya sendiri dipandang pria lain. Dia tahu Chezy cantik, tubuhnya bagus, kulitnya putih dan wajah Asia nya terlihat sedikit imut.
Dallas bukan pecandu wanita sejak masih muda. Dia tidak peduli apakah wanita itu seksi, tinggi, ramping atau yang paling cantik karena pintar menghias diri. Selama dia tidak memiliki perasaan emosi terhadap lawan jenis, berarti bukan seleranya.
Tapi saat bertemu Chezy di bandara untuk pertama kalinya, Dallas merasakan getaran aneh di hatinya. Wanita itu berkulit putih dan sangat cantik pada pandangan pertama. Dia berpikir itu sama seperti wanita pada umumnya.
Namun siapa tahu, Dallas justru akan tertarik padanya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Chezy melihatnya sedikit linglung.
Dallas mengembuskan napas lega. "Senang mengenalmu dalam hidupku."
"Oh." Chezy sedikit malu di hatinya. "Aku juga."
__ADS_1
Jika dia tidak bertemu Dallas dan masih berada di Negara K saat itu, apakah masih ada takdir seperti ini?
Keduanya saling menggoda dan tertawa bersama.
Bulan madu keduanya berlangsung selama tiga hari. Tidak banyak. Keduanya hanya tidak bisa meninggalkan si kembar di tangan orang tua terlalu lama, jadi pulanglah dan bawa mereka kembali ke rumah.
Nyonya Edelmar dan Cade juga harus kembali ke Negara K untuk urusan pekerjaan.
Meski bukan madu tidak lama, Dallas masih memiliki cuti kerja dan membawa istri serta ketiga anaknya untuk jalan-jalan mengelilingi ibu kota, belanja, bermain di taman sampai malam malam.
Kelimanya menarik perhatian beberapa orang. Terutama bagi mereka yang mengenal Dallas pasti langsung menebak secara akurat. Keduanya mendorong stroller baby bersama-sama, menikmati keindahan sore di taman.
Tanpa diduga, keduanya bertemu Kallen.
"Kallen," sapa Chezy sedikit antusias. Bagaimana pun juga, Kallen adalah mantan bosnya di toko bunga.
"Apakah kamu sedang sibuk akhir-akhir ini?" tanya Chezy mengambil inisiatif. Dallas sedikit tidak senang.
Kallen mengangguk. "Aku akan pergi ke Negara K beberapa hari lagi untuk bersiap mengambil alih pekerjaan ayahku."
"Yah, memang sudah waktunya menjadi bos muda yang akan dikagumi banyak wanita," goda Chezy.
Dallas mendengkus. Kenapa dia merasa jika Kallen semakin tidak enak dipandang?
Kallen terkekeh. Sekilas melirik Dallas yang tampaknya tidak senang. Hatinya sedikit nyaman. Walau Dallas tidak bisa disentuh, tapi melihatnya cemburu, perasaannya sedikit membaik.
__ADS_1
Dia akhirnya mengalihkan perhatian pada si kembar yang kini sedang menatap dirinya dengan bingung. Sepertinya penuh keingintahuan.
Kallen menggoda ketiganya untuk sementara waktu dan beberapa temannya juga merasa gemas dengan mereka.
"Hari sudah mulai gelap, kita harus kembali. Tidak baik jika ketiganya berada di udara terbuka terlalu lama, nanti sakit," kata Dallas. Dia tak bermaksud untuk membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Chezy melihat jika langit memang sudah mulai gelap. "Ya, ini benar."
Kallen berhenti menggoda ketiganya. Chezy dan Dallas mengucapkan selamat tinggal pada mereka dan segera pulang.
Kallen melihat kepergian mereka, masih ada jejak tidak rela.
Salah satu temannya menyenggol lengan Kallen. "Apakah wanita itu yang selama ini kamu bicarakan?" tanyanya.
"Ya. Cantik bukan?"
"Cantik. Dia juga tampaknya mandiri dan pintar melakukan berbagai hal. Memang cocok menjadi istri dan ibu yang baik. Jika aku menikah dengan wanita seperti itu, pasti sudah bercinta sepanjang malam," jawab temannya langsung tertawa bercanda. Dia hanya ingin menghibur Kallen yang patah hati.
"Jangan sedih. Wanita itu bukan milikmu lagi. Ketika kamu kembali ke Negara J, mungkin ada wanita cantik seperti dirinya juga." Teman lainnya juga menghibur.
"Aku tahu itu, hanya saja tidak berniat untuk mencari pasangan saat ini."
"Jatuh cinta itu berbahaya. Dan patah hati itu bahkan sakitnya luar biasa. Perasaan memang tidak bisa dikontrol sesuka hati," ujar yang lain.
Kallen juga berpikir begitu. Dia sudah tinggal cukup lama di Negara A dan pertama kalinya jatuh cinta. Tapi cinta itu akhirnya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Menurut orang-orang yang telah berpengalaman, cinta pertama kadang tidak semulus cinta kedua. Dan ini sebagian fakta di lapangan. Melihat wanita yang pertama kali menarik hatinya bersama pria lain, rasanya tentu saja sesak.
Kallen hanya ingin pergi ke Negara J untuk serius mengambil alih perusahaan. Tapi alasan lainnya karena ingin melarikan diri dari perasaan yang tidak nyaman di hatinya.