
Pada keesokan paginya, Chezy sama sekali tidak tidur sepanjang malam. Dia menunggu Kallen untuk siuman. Untungnya, pria itu bangun sebelum matahari terbit. Setidaknya dia telah menghitung waktu.
"Bos, kamu baik-baik saja?" tanya Chezy.
Kallen yang setengah sadar akhirnya terkejut saat melihat tangan dan kakinya terikat. Dia melihat Chezy dengan darah di dahinya, bahkan lebih terkejut lagi.
"Kamu ..." Kallen ingat kemarin sore mengantar Chezy menuju apatritaoi mengalaminya kecelakaan mobil. Setelah itu dia pingsan. "Apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Tidak apa-apa," katanya.
"Di mana ini? Kenapa kita diikat seperti ini?"
Chezy sedikit bersedih. "Kita diculik."
"Diculik? Kenapa diculik?"
"Maaf, seharusnya mereka menangkapku saja untuk mengancam suamiku. Maaf melibatkanmu," jawab Chezy merasa tidak nyaman. Dia sudah berpikir semalaman untuk menyelamatkan Kallen dari tempat ini.
Kallen masih bingung. Tali yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya sangat kencang. Dia tak bisa bergerak bebas.
"Bukan salahmu. Tidak apa-apa. Kita pasti bisa menyelamatkan diri dari tempat ini."
Sayangnya Chezy menggelengkan kepala. "Tidak, mereka berniat untuk membunuhku di sini. Tapi aku bisa menyelamatkanmu lebih dulu."
"Jangan bercanda. Bagaimana bisa kamu menyelamatkanku tapi kamu sendiri tidak bisa menyelamatkan diri?" Kallen mengerutkan kening. Wanita ini pasti sedang bercanda dengannya. Tapi ekspresi Chezy terlalu tenang di mata Kallen. Mungkinkah tahu seseorang akan menyelamatkannya?
"..." Bos, kamu sangat berterus terang, batin Chezy sedikit lucu.
"Tidak, aku tidak bisa meninggalkanmu di sini. Jangan pikirkan itu." Kallen menolak mentah-mentah.
Chezy memejamkan mata sebentar. Dia mengantuk saat ini tapi tidak berani untuk tidur. Dia hanya menunggu Marine dan Hadwin bertindak.
"Bos, lihatlah dinding," kata Chezy.
Kallen melihat dinding ruangan yang mengurung mereka. Ada beberapa bom yang terpasang, sudah aktif dan bisa diledakkan kapan saja. Kallen mau tidak mau berwajah pucat saat ini.
"Apakah begitu kejam? Mengapa ada begitu banyak bom rakitan di sini?"
"Penculik memiliki dendam pada suamiku. Begitulah," jawabnya. Setelah itu, Chezy mendengar suara langkah kaki menuju ke ruangan ini. "Diamlah, seseorang datang," bisiknya.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana kamu tahu orang lain akan—" Perkataan Kallen terputus setelah mendengar suara pintu ruangan dibuka dari ruang.
Seorang pria berpakaian serba hitam dengan pistol di kedua pinggangnya memasuki ruangan. Pria itu memiliki ekspresi cukup galak dan kusam. Kulitnya gelap serta rambutnya sedikit berantakan.
Drake datang untuk memastikan jika keduanya masih hidup dan aman. "Apakah malam tadi kalian tidur nyenyak?" tanyanya basa-basi, tampak tidak berbahaya.
"..." Aku bahkan baru bangun dari pingsan, batin Kallen.
Namun Chezy berbeda, dia sedikit bermata merah. "Aku tidak bisa tidur. Aku menunggu suamiku datang," jawabnya.
"Sebentar lagi kamu akan mati. Tapi masih—"
"Bos!" Seorang bawahan Drake tiba-tiba saja berteriak panik dan menemuinya.
Drake tampak kesal. "Ada apa?"
"Tentara elit angkatan darat berhasil menemukan tempat ini," lapornya.
"Apa??! Bagaimana bisa—" Drake berteriak dan tiba-tiba saja memikirkan seseorang. "Dallas! Ini pasti dia! Pria itu pasti di sini. Pergi dan kemasi semuanya lalu siap untuk ledakan tempat ini," imbuhnya.
Drake menatap Chezy yang kini terlihat menyedihkan. Lalu mencibir. Dallas tidak bemain sesuai dengan keinginannya, maka jangan salahkan dia untuk membunuh istri kecilnya ini. Dia tidak peduli lagi dengan kedua orang yang disanderanya lalu pergi meninggalkan ruangan untuk mengatur sesuatu.
Setelah mereka pergi, Chezy meminta Kallen untuk membuka ikatannya secara bergantian. Keduanya saling memunggungi.
"Apa itu?"
"Aku suka padamu. Jika kamu belum menikah, aku pasti akan melamarmu. Sayang sekali kamu memiliki suami." Kallen memberanikan diri untuk mengaku.
"Manis sekali. Tapi aku tidak bisa menerimanya."
"Aku tahu. Jangan mencoba untuk menghiburku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Marine dan Hadwin sudah berada di sekitar lokasi di mana Chezy disekap saat ini. Menggunakan teropong, keduanya melihat pasukan tentara elit datang untuk menangkap para penculik dan anak buah pembunuh berantai.
Terjadi baku tembak di beberapa tempat. Tapi pasukan tentara elit tidak lemah. Hanya saja pembunuh berantai juga tidak lembut. Mereka sangat kejam hingga mampu menggunakan pistol enam lubang berkaliber lima milimeter.
Hadwin sudah berada di dahan pohon rindang seraya bersiap untuk menembak. Sebagai penembak jitu, dia selalu bersabar untuk mengunci mangsa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Dallas tidak mengikuti keinginan mereka. Benar-benar berani untuk menyerang secara langsung. Tidakkah dia tahu Chezy bisa dalam bahaya karena ini?" Marine tidak puas.
"Chezy seperti kucing. Dia memiliki sembilan nyawa. Jangan khawatir. Jika dia dalam bahaya, keluarga Edelmar sudah mengirim orang sejak lama," jelas Hadwin seraya membenarkan kacamata beningnya.
"Apakah keluarga Edelmar masih memperhatikan ini?"
"Kakeknya Chezy memiliki kemampuan untuk mengawasi orang."
"..." Sungguh kekuatan sebuah keluarga militer yang disegani.
Hadwin sudah melontarkan beberapa tembakan pada musuh yang bersembunyi untuk melemparkan granat. Jadi saat pembunuh berantai itu hendak melemparkan granat ke arah tentara elit, mereka tiba-tiba saja terjatuh setelah tertembak di kepala.
"Ini menyenangkan!" Hadwin memiliki senyum gila di wajahnya. Dia paling suka menembak kepala musuh dengan senjata api kesayangannya..
Marine memutar bola matanya. Dasar makhluk berbatang!" gumamnya.
Dia membuka laptopnya yang mirips seperti koper mini. Ada pelacak di tubuh tubuh Chezy dan dia bisa tahu apa yang ada dis sekitarnya. Ketika layar laptop menampilkan tanda titik merah yang cukup banyak di tempat tersebut, wajahnya berubah pucat.
"Sial!! Hadwin, kita harus pergi untuk menyelamatkan Chezy! Pembunuh berantai gila itu memasang banyak bom di sana!" Marine tak bisa duduk diam lagi dan dia mulai panik.
"Kenapa baru terlihat? Bukankah dini hari tadi baik-baik saja?" Hadwin juga tidak berdaya.
"Aku tidak tahu. Sepertinya baru dipasang. Ini benar-benar darurat. Jika meledak, maka ...."
"Ayo pergi!" Hadwin tidak lagi berminat untuk menembak mereka dan turun dari atas pohon bersama Marine.
......................
Para pasukan tentara elit menyadari ada penembak jitu yang diam-diam membantu mereka membunuh beberapa penjahat yang berniat melemparkan granat, mereda terkejut. Masih ada pihak lain yang ikut campur? Sejak awal, mereka tidak menugaskan penembak jitu apapun.
Salah seorang komandan memberikan instruksi. "Pergi dan tangkap yang masih hidup, sisanya amankan tempat dan cari sandera," titahnya.
"Ya!" Mereka segera berpencar.
Para pasukan tentara elit mendobrak pintu beberapa ruangan dan melumpuhkan semua pria kekar yang ada di sana.
Di sisi lain, Dallas yang juga datang sudah memiliki raut wajah tidak menyenangkan. Dia juga datang bersama Miley dengan berbekal sepucuk pistol. Dia juga telah melumpuhkan banyak anak buah pembunuh berantai.
Dallas tiba-tiba saja melihat dua teman Chezy berlatih si kejauhan menuju ke arahnya. Kedua orang itu tampaknya meneriakkan sesuatu yang kurang jelas padanya.
__ADS_1
"Dallas! Temukan Chezy sesegera mungkin. Tempat ini sudah ditanam oleh banyak bom!" teriak Marine.
Kali ini Dallas benar-benar mengubah ekspresinya. Jantungnya berdegup kencang. Bom? Orang-orang itu sebenarnya berniat membunuh Chezy terlepas dari dirinya menikahi Sonya atau tidak bukan?