
Gaines yang merasa jika jantungnya akan berhenti berdetak kapan saja, akhirnya tersenyum lega pada Dallas. Dia memuntahkan seteguk darah segar. Darah merembes dari dada kirinya. Napasnya mulai terputus-putus. Dia telah kehilangan kekejaman di wajahnya.
Ya, dia memang sengaja menggunakan pistol kosong hanya untuk memancing Dallas. Dia sudah merencanakan semuanya sejak lama. Di matanya, Dallas adalah anak yang selalu membuntutinya sejak kecil. Keduanya tumbuh bersama dan memiliki perlakuan yang sama dari keluarganya.
Hanya saja dia memiliki pikiran yang mudah diperdaya orang lain hingga Kakek Alston kecewa padanya. Dia sudah menembak ini sejak lama tapi tidak mau mengungkapnya. Dia khawatir keluarga Alston akan menjadi incaran pihak Negara C terlalu awal.
“Hei, kamu benar-benar adikku yang baik, Dallas,” kata Gaines lembut. Dia sudah berbaring dengan genangan darah di sekitar darahnya. “Kamu tidak mengecewakanku,” imbuhnya.
“Kenapa … kenapa kamu melakukan ini?” Dallas selalu ingin bertanya alasan yang sebenarnya.
“Mungkin … karena … ini jalanku,” jawab Gaines enteng. Dia merasa jika jiwanya akan segera meninggalkan tubuh. Dia menatap Dallas yang kini ada di depannya. “Hati-hati … dengan … pihak Negara … C. Dallas, kamu akan selalu … menjadi adik kesayanganku.”
Setelah itu, Gaines sepertinya berusaha untuk merekam langit biru untuk terakhir kalinya. Setelah itu, dia benar-benar meninggal dunia. Tanpa sadar, sebuah gelang detector jantung di pergelangan tangan kirinya berkedip merah sebelum akhirnya mengeluarkan bunyi panjang yang lembut. Menandakan jika pemakai telah meninggal.
Dallas memeriksanya dan akhirnya tak bisa menahan diri untuk berlutut. Pistol terlepas dari tangannya. Tanpa sadar, dia bahkan menitikkan air mata setelah menyaksikan Gaines mati di tangannya sendiri. Dia juga ambruk di sampingnya.
“Kamu juga … kakak kebanggaanku,” gumamnya. Setelah itu, dia pingsan karena kelelahan dan kehilangan banyak darah.
Akhirnya, sebuah helikopter penyelamatan mendekat ke arah perusahaan Alston Group dan melihat dua orang tergeletak di atap gedung. Mereka akhirnya segera melakukan evakuasi.
Tim penyelamat mendapatkan sebuah pesan misterius dari pihak tak dikenal dan mengatakan jika terjadi pertarungan hidup dan mati di atap gedung tersebut. Tidak mau mengambil risiko yang lebih buruk lagi, tim penyelamat akhirnya bergegas.
__ADS_1
Siapa yang tahu ternyata semuanya benar.
Ketika mendarat, salah satu anggota tim penyelamat segera memeriksa kondisi keduanya.
“Yang satu pingsan dan kehilangan banyak darah. Yang satunya lagi meninggal,” lapornya.
“Siapa keduanya?” tanya rekannya.
“Ini … Dallas Alston, CEO Alston Group saat ini dan … Gaines Alston, buronan berbahaya yang sedang dicari pasukan khusus anti teror saat ini,” jelasnya.
Mendengar jika yang satunya lagi adalah Gaines, mereka segera berekspresi serius.
......................
Tak jauh dari perusahaan Alston Group saat ini, seorang pria berkacamata hitam berdiri di bawah pohon rindang sambil melihat ke atas, memperhatikan helikopter yang meninggalkan atap gedung. Lalu pria itu melepaskan kacamatanya dan terlihat mata sipitnya yang memancarkan aura ketenangan.
Jika Chezy ada di sana, dia akan langsung mengenali pria itu yang tak lain adalah Kallen Parker, pemilik dan bos dari toko bunga tempat Chezy bekerja.
Kallen menghela napas, menghapus pesan yang dikirimnya pada tim penyelamat dan membuang kartunya agar tidak terlacak lagi. Dia memegang sebuah tas hitam tipis dengan erat, seakan-akan tas hitam tersebut adalah harta yang tak ternilai.
“Hidup itu sulit, terlebih lagi jika menyangkut saudara sedarah,” gumamnya. “Gaines, kenapa kamu memilih jalan ini?” gumamnya.
__ADS_1
Tas hitam misterius yang dipegangnya saat ini merupakan sesuatu yang harus diserahkan pada Dallas nanti. Semuanya diberikan oleh Gaines dua hari sebelumnya. Dia awalnya tidak tahu kenapa Gaines ingin memercayainya tentang masalah ini, namun jelas, Kallen bukan orang yang picik.
Dia segera memakai kacamata lagi dan meninggalkan tempat tersebut, berperilaku seperti pekerja kantoran biasa. Dia memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ibu kota, Negara C.
Di perusahaan tertentu, seorang pria paruh baya mendengar semua laporan yang terjadi di Negara A saat ini. Dan hatinya langsung tenggelam. Kelompok Rogers dan Gaines gagal dan bocornya kerja sama organisasi pembunuh berantai dengan Negara C kini telah menjadi diskusi orang-orang tertentu.
Pria paruh baya bermata agak sipit itu duduk di kursi kekuasaannya sambil melihat dokumen yang sempat diberikan oleh Gaines padanya.
Asistennya tak bisa menahan diri untuk berkata, “Bos, setidaknya pegangan keluarga Alston ada pada pihak kita. Perusahaan mereka seharusnya sudah bisa menjadi milik kita bukan?”
Namun reaksi pria paruh baya itu justru marah dan melemparkan semua dokumen ke lantai.
“Rumput!!” umpatnya. “Gaines menipuku! Ini bukan dokumen yang asli!” teriaknya sangat geram.
Asistennya sangat ketakutan dengan kemarahan bosnya dan hanya bisa menutup mulut.
Jika Gaines tidak mengambil dokumen yang asli, maka sejak awal, pria itu tidak berniat untuk menyerahkan keluarga Alston. Sialnya lagi, Negara A bukan negara kecil, itu hampir sama luasnya dengan Negara C. Sejak dulu, kedua negara selalu berselisih tentang masalah keamanan militer dan perkembangan teknologi di dunia.
__ADS_1