
Tuan Alston tidak memikirkan bagaimana Arran tahu hal ini. Dia segera meminta Arran untuk mengecek kondisi Kakek Alston. Pria tua yang lengan kirinya terluka itu akhirnya menghela napas tidak berdaya dan menepuk putranya yang tampak panik.
“Jangan berlebihan seolah-olah aku akan mati! Ini hanya luka tembak di lengan. Lihat, siapa ayahmu ini? Seorang veteran perang yang telah banyak mengalami situasi. Jangan berlebihan,” ujarnya. Walaupun wajahnya pucat saat ini, suaranya masih seperti biasanya.
Tuan Alston tampak tidak tenang sedikit pun. “Ayah, kamu terluka seperti ini. Aku selalu khawatir kamu akan meninggalkanku kapan saja.”
“Bocah bodoh! Aku belum melihat cicitku, bagaimana mungkin secepat itu untuk mati?!” Kakek Alston kesal dan menggampar lengan putranya dengan tangan yang sehat.
Nyonya Alston masih bingung saat ini. Bagaimana mungkin Gaines menembak kakeknya sendiri seperti ini. Belum lagi ….
“Ayah, apakah Gaines tadi …” Nyonya Alston ingin bicara saat kakek Dallas sudah dipindahkan ke kamarnya.
Kakek Alston menghela napas. “Letta, apakah kamu kecewa padaku saat Gaines tidak kupilih sebagai pewaris keluarga ini? Tidakkah kamu selalu ingin tahu alasannya?”
Nyonya Alston terdiam sejenak dan menggelengkan kepala. “Baik Gaines dan Dallas adalah putraku sendiri. Siapapun yang mewarisi keluarga, itu pasti yang terbaik untuk keluarga ini. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Tapi aku ingin tahu, kenapa Gaines tidak terpilih? Jelas dia adalah yang tertua.”
Saat ini, Nyonya Alston seperti seorang ibu yang hatinya telah dipotong oleh putranya.
Barulah Kakek Alston menjelaskan kembali apa yang terjadi pada mereka sampai Gaines tidak menjadi pewaris. Tuan Alston mungkin tahu tentang pembunuh berantai yang dulu hampir dibasmi oleh Kakek Alston. Tapi Nyonya Alston yang mengetahui itu langsung pingsan, tidak menyangka jika putra tertuanya akan menjadi seorang pembunuh.
Setelah lengan kiri Kakek Alston diurus dengan baik, dia segera menghubungi Dallas dan memberi tahukan apa yang terjadi. Setelah menghubungi Dallas, Kakek Alston menatap Tuan Alston.
“Hubungi saudaramu tentang ini. Suruh mereka untuk berhati-hati dan tidak membuat gerakan.”
“Ya, Ayah.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
“Kakekmu terluka?” Chezy yang kini masih bersama Dallas di rumah sakit pun terkejut.
Tebakannya benar, Gaines menyerang Kakek Alston. Sekarang Gaines sudah mengkhianati keluarga. Tidak alasan lain bagi Dallas untuk membujuknya. Dia dan Gaines sudah menjadi musuh sejak lama.
“Ya. Kemungkinan besar sekarang Gaines berada di perusahaan untuk mengambil alih.”
“Kamu Membiarkannya begitu saja?”
“Kelompok pembunuh berantai baru saja bergerak. Kakek bilang bos pembunuh berantai ini adalah musuh lamanya. Dia pasti sudah tiba di ibu kota.”
“Dia akan datang padamu untuk mengancam kakek. Apa yang akan kamu lakukan kali ini?” Chezy tersenyum. Dia seperti sedang menyaksikan keluarga Alston dalam krisis setiap saat.
Dallas meraih pinggang wanita itu hingga jatuh ke pelukannya. Dallas tidak perlu berpura-pura sakit lagi sekarang dan menunggu musuh untuk datang.
“Bagaimana menurutmu?”
Dallas masih enggan sebenarnya. “Kamu juga,” timpalnya, lalu mencium pipi wanita itu sekilas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hutan gelap yang jauh dari pemukiman, beberapa pria bersenjata api berkumpul di satu titik. Salah satunya adalah Drake yang sedang merokok. Dia tampak patuh di samping bosnya, Rogers yang kini sedang merakit senjata api di bawah cahaya minim seraya mengunyah permen karet.
Rogers adalah pria paruh baya yang memiliki beberapa bekas luka di tubuhnya. Dia juga kehilangan penglihatan mata kanannya akibat pertarungan di masa lalu.
Setelah bersembunyi di Negara K, dia akhirnya bisa kembali ke negara ini untuk membuat sebuah prestasi besar. Membunuh orang adalah hobinya.
"Bos, Gaines sedang mencoba untuk mengambil alih keluarga Alston," kata Drake.
__ADS_1
Rogers mencibir. "Apakah dia berbelas kasihan pada keluarganya?"
"Tidak. Kami mendapatkan kabar jika dia menembak kakeknya. Tapi mungkin tidak sampai mati."
"Itu wajar. Jake Alston adalah pria tua yang penuh semangat juang. Jika tidak, aku tidak akan bersusah payah melarikan diri dari orang-orangnya di masa lalu dengan cedera parah. Sekarang dia pensiun tapi masih memiliki bawahan setia di bawah sayapnya. Jika Gaines sampai membunuhnya, dia mungkin dalam masalah besar," jelas Rogers.
Baginya, Gaines adalah jembatan untuk memasuki Negara A sejak awal. Dia melarikan diri dari Negara K dari kejaran para agen rahasia dan juga kepolisian khusus di sana. Meski berhasil, dia masih harus berhati-hati agar polisi Negara K tidak mengintainya di Negara A.
"Apakah kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan akhir-akhir ini?" tanyanya pada Drake.
"Tidak. Kecuali wanita bertopeng kucing yang dikabarkan muncul dan membunuh anak buah Bos, semuanya baik-baik saja."
Rogers juga curiga jika polisi Negara K ada di negara ini. Terutama agen rahasia yang bisa saja menyamar di sekitarnya.
"Lalu bagaimana dengan wanita Dallas? Sudahkah kamu membunuhnya?"
Drake sedikit tidak berdaya dan kesal. "Tidak berhasil! Dallas melindunginya dengan baik. Wanita itu memiliki dua pengawal yang selalu mengikutinya. Belum lagi, dua pengawal yang dipilih Dallas tidak lemah. Dua mobil anak buah kita yang mencoba untuk membunuhnya di jalan justru mengalami kecelakaan," jelasnya.
Rogers tampaknya berpikir. Ini tidak masuk akal. Seberapa cerdasnya seorang pengawal, tidak mungkin mampu mencelakakan dua mobil anak buahnya sekaligus.
Kecuali ... Wanita Dallas adalah seorang ahli!
Memikirkan kemungkinan ini, Rogers akhirnya berkata, "Siapa nama wanita itu?"
"Namanya Chezy Edelmar."
"Edelmar?" Rogers bergumam. Pada akhirnya menyeringai setelah mengetahui kemungkinan siapa itu Chezy Edelmar. "Rupanya dia ... Anak keluarga Edelmar dari Negara K!"
__ADS_1
Chezy Edelmar adalah agen rahasia yang mengebom markas besarnya di Negara K. Hanya ada satu marga itu di Negara K yang masih berkerabat dengan keluarga kerajaan.