
Dallas dan Chezy melihat isi dokumen dan ada beberapa lembar di dalamnya. Setelah membaca lebih lanjut, Chezy terkejut. Dia bahkan tak bisa membayangkan jika Kakek Alston memiliki kekayaan sebanyak ini.
Melihat wanita itu terkejut, Nyonya Alston bahkan tersenyum lemah tapi tidak cemburu atau meremehkan.
"Kakek Dallas adalah pewaris di masa lalu dan banyak banyak harta warisan atas namanya saat itu yang juga telah dibagi dengan kerabat Alston lainnya. Tapi warisan di tangannya masih banyak. Mengingat jika Dallas adalah kepala keluarga saat ini, tentu saja semua harta jatuh padanya. Beberapa bagian warisan milik ... Gaines ... sebelumnya juga telah dimasukkan. Dia telah mewariskannya pada kalian sekarang," jelas Nyonya Alston panjang lebar lalu mendesah tak berdaya. "Kami sudah tua dan tidak memiliki banyak kebutuhan sebagai orang yang telah menjadi kakek dan nenek. Hanya berharap kalian hidup aman dan sehat," imbuhnya.
Chezy merasa tersentuh saat ini dan bohong jika tidak berhati lembut. Dallas sendiri tidak menyangka jika kakeknya memiliki banyak kekayaan dan semuanya kini diwariskan pada cicitnya.
Bagian Diana sebenarnya lebih besar daripada si kembar. Kakek Alston rupanya sangat menyayangi Diana. Mungkin juga merupakan satu-satunya cucu perempuan dari garis keluarga utama. Tentu saja tidak boleh kurang.
Dallas menutup dokumen itu. Semua warisan bisa diwariskan secara sah pada anak-anaknya ketika mereka berusia delapan belas tahun. Usia itu sudah cukup untuk memegang warisan.
Setelah mendiskusikan tentang warisan, semua urusan tentang Kakek Alston langsung diselesaikan. Para kerabat datang satu persatu dan mengantarnya ke peristirahatan terakhir.
Kakek Alston dimakamkan di samping makam Nenek Alston yang telah meninggal lebih awal.
Selama seminggu terakhir, duka di keluarga Alston belum pudar. Namun di depan anak-anak, mereka harus tersenyum agar tidak meninggal bayangan psikologis bagi mereka.
Pada hari berikutnya, Chezy kedatangan tamu tak dikenal datang ke rumahnya.
"Siapa?" Chezy yang sedang bekerja di lantai tiga mendapati Butler Sun datang untuk melaporkan kedatangan seseorang.
Butler Sun masih bersikap sopan. Usianya yang sudah mulai mendekati pensiun menunjukkan tanda-tanda sedikit lelah.
"Orang itu mengaku sebagai salah satu penilai akhir lomba melukis di Negara F sebelumnya. Tuan muda pertama mengikuti lomba melukis sebelumnya. Mungkin orang itu ..." Butler Sun tidak berani menebak.
Tapi Chezy seperti sudah tahu tentang ini. "Baiklah, aku akan turun dan menemuinya. Bawa orang itu ke ruang tamu. Jika si kembar sudah pulang sekolah, biarkan Efrain menemuinya juga."
"Ya, Nyonya." Butler Sun membungkuk sedikit dan segera kembali.
Sedangkan di lantai dasar, seorang pria tua berdiri gelisah. Dia berjalan mondar-mandir selama beberapa kali sebelum akhirnya melihat sosok anak kecil masuk dengan seragam dan tas sekolahnya.
__ADS_1
"Nak, apakah namamu Efrain Alston? Anak kecil yang mengikuti lomba melukis dua minggu lalu?" tanyanya antusias. Dia menggunakan bahasa Negara A agar bisa dipahami anak itu.
Anak laki-laki berusia tujuh tahun di depannya menatap pria tua itu dengan ekspresi bingung dan datar. Lalu membuang muka.
"Aku bukan anak yang kamu cari," jawabnya malas.
"..." Tuan Kutt yang diperlakukan dingin sedikit tak berdaya saat ini.
Melihat anak laki-laki itu naik ke lantai dua, sudut mulutnya berkedut. Apakah temperamen anak itu sangat dingin? Batinnya.
Tak lama kemudian, dia melihat sosok yang sama berjalan ke pintu masuk dan melewatinya. Tuan Kutt menghentikannya lagi.
"Nak, apakah namamu Efrain Alston yang mengikuti lomba melukis waktu itu?" tanyanya. Ini mungkin kembaran anak yang tadi. Keluarga Alston ternyata memiliki anak kembar.
Egan meliriknya sebentar dan sedikit tidak sabar. Dia lapar saat ini dan ingin makan sesuatu. "Bukan! Kamu mencari kakakku? Dia masih di belakang," jawabnya tidak sabaran lalu naik ke lantai dua.
"..." Tuan Kutt terkejut lagi saat ini. Bukan?
Memang, tak lama setelah Egan naik ke lantai dua, sosok anak yang sama muncul lagi. Kali ini anak itu tidak melewatinya seperti dua saudaranya yang lain tapi menatap pak tua itu dengan ekspresi penasaran.
"Kakek, apakah kamu mencari ayah atau ibuku?" tanyanya datar.
"..." Anak yang satu ini bahkan memiliki sikap yang berbeda dari dua saudara lainnya, batin Tuan Kutt merasa lebih dihargai.
Efrain menatap pria tua yang seperti akan menangis kapan saja. Apakah dia salah bicara?
"Nak, apakah namamu Efrain Alston?"
"Ya, itu namaku. Kakek mencariku?"
"Ya, ya. Ingat dengan lomba melukis di Negara F dua minggu lalu kan?" Tuan Kutt bersemangat.
__ADS_1
"Tentu saja, aku ingat. Kupikir aku tidak menang jadi hampir tidak ingat lagi ..." Efrain tidak terlalu mempermasalahkan lomba melukis saat itu. Dia berpikir jika kemampuannya harus diasah lagi.
Tuan Kutt menggeleng beberapa kali dan ingin menginformasi sesuatu, namun sosok Butler Sun kembali dan mengajak Tuan Kutt menunggu di ruang tamu.
Butler Sun juga menatap tuan muda pertama. "Tuan kecil, berganti pakaian dan turun untuk menemui Tuan Kutt," katanya.
Efrain mungkin menebak jika nama pria tua itu adalah Kutt. Dia mengangguk dan pergi ke lantai dua.
Tuan Kutt menunggu di ruang tamu. Ada secangkir teh dan camilan untuk menghilangkan kebosanannya. Lalu sosok Chezy muncul bersama dengan seorang anak yang tadi.
Chezy tersenyum sopan padanya. "Tuan Kutt datang jauh-jauh dari Negara F, maaf, hanya ada teh seadanya."
"Tidak, tidak apa-apa. Jangan pikirkan itu. Akulah yang datang dan mengganggu kalian." Tuan Kutt mengetahui kematian Kakek Alston seminggu yang lalu jadi menunda kedatangannya ke rumah ini.
Chezy dan Efrain duduk di seberangnya. Pria tua itu mengeluarkan sebuah surat pemberitahuan untuk mereka.
"Sebelumnya aku datang seminggu yang lalu namun mengetahui kalian sedang berduka, jadi tertunda selama beberapa hari. Ini adalah surat pemberitahuan tentang lomba hari itu," jelasnya.
Chezy menerima surat itu dan membaca isinya. Dia terkejut dan melihat Tuan Kutt. "Apakah ini asli?"
"Tentu saja. Aku adalah penilai akhir lomba melukis ini. Pelukis termuda sebelumnya di Negara kami adalah Lozkava. Mungkin Nyonya juga telah bertemu dengannya. Tahun ini mungkin akan jatuh ke tangan putramu ini," jelas Tuan Kutt seraya menatap Efrain dengan mata berbinar. Sungguh bibit yang baik.
"Ternyata seperti itu." Chezy menyerahkan surat itu pada Efrain.
"Bu, aku menang!" Efrain tampak senang. "Aku akan memberi tahu ayah kabar baik ini. Dia bilang akan memberiku hadiah jika menang lomba," imbuhnya.
"Yah, pergilah." Chezy memiliki beberapa patah kata untuk didiskusikan dengan Tuan Kutt dan mengusir putranya sementara waktu.
Efrain tidak tahu ibunya sedang mengusir dirinya dan segera meninggalkan ruang tamu untuk menelpon Dallas.
"..." Tuan Kutt yang melihatnya merasa sangat lucu di hatinya. Anak ini sangat bersemangat dan penuh masa depan yang cerah.
__ADS_1