
"Aku—" Chezy akhirnya terdiam. Haruskah dia memberi tahunya? Dia ingat bahwa Dallas adalah Tamu Malam. "Aku ... Aku tahu. Aku juga tahu identitasmu," cibirnya tidak mau mengakui.
Dallas mengembuskan napas dingin. "Aku juga ingin tahu identitasmu sesungguhnya. Pacar teman wanitamu itu benar-benar tahu cara menembak. Sangat cocok menjadi penembak jitu."
Chezy mengerutkan kening. Pria yang dimaksud Dallas adalah Hadwin. Dia menunduk dan merasakan kaki kirinya sedikit sakit.
Ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Dallas, apakah kamu benar-benar Tamu Malam?" tanyanya langsung meminum sisa air di gelas.
"Jika benar, apa masalahnya? Apakah kamu mau mengakui wanita bertopeng kucing itu adalah kamu?" Dallas sangat santai saat bertanya tentang ini, hanya menebak secara acak.
Siapa tahu, Chezy yang sedang minum air segera menyemprotkannya ke wajah Dallas tanpa berperasaan.
Dallas terkejut dan akhirnya kesal hingga menunjukkan ekspresi jijik.
"Tidak tahu etika!" ejeknya. Dia mengambil sapu tangan dari saku jas lalu mengelap wajahnya.
Chezy sedikit malu dan meminta maaf. "Aku tidak sengaja."
Reaksi Chezy yang berlebihan sudah membuat Dallas yakin sepenuhnya jika wanita itu salah wanita misterius yang membunuh Danius.
Chezy adalah agen rahasia?
Mengenai hal ini, Dallas tidak akan mengungkitnya lagi. Identitas Chezy bahkan lebih sensitif dibandingkan dirinya.
Setelah memberikan gelas kosong pada Dallas, Chezy akhirnya menghela napas. "Kamu mungkin sudah menebak identitasku. Tapi tolong ... Rahasiakan ini. Pura-pura lah tidak tahu dan jangan ikut campur dalam urusanku," katanya serius.
"Aku bukan pengganggu." Dallas berkompromi.
"Lalu bagaimana denganmu, Tamu Malam yang terhormat," ujar Chezy juga ingin tahu.
Dallas menyipitkan mata padanya. Membuat keputusan. "Ketika sampai rumah, kamu akan tahu."
__ADS_1
"Pelit."
Dallas tidak menanggapi.
"Seharusnya kamu sudah menebak pihak lain yang menelponmu bukan?" Chezy mengambil topik lain.
"Aku menyinggung bosnya, bukan anak buahnya. Jangan pedulikan itu. Dia sudah melarikan diri saat ledakan terjadi."
Chezy memberi tahunya. "Namanya Drake, orang kepercayaan bos pembunuh berantai."
Dallas menatap wanita yang pucat di tempat tidur dan mengupas buah apel untuknya. "Mari bicarakan ini di rumah. Dinding memiliki telinga," ujarnya sedikit pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu di rawat di rumah sakit Chezy akhirnya diperbolehkan pulang. Dallas tidak mau wanita itu menggunakan kruk. Chezy terpaksa duduk di kursi roda.
Keluarga Marweth sedikit gelisah akhir-akhir ini dan Gaines sibuk bekerja. Mereka berpura-pura tidak tejadi apa-apa.
Ketika sampai rumah, Chezy dan Dallas melihat Kakek Alston duduk di ruang tamu.
"Kakek, kenapa kamu di sini?" Chezy terkejut.
Kakek Alston melihat kaki kiri wanita itu dan merasa sedikit takut. "Tidak apa-apa. Datanglah dan lihat cucu menantuku. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Tidak apa-apa. Dokter bilang hanya perlu perawatan berjalan dan cek secara berkala."
"Baguslah kalau begitu." Kakek Alston tidak bisa berkata banyak di depan Dallas. "Aku mendapat pesan dari kakekmu. Dia bilang ... Selama kamu masih hidup, rawat saja. Kamu sudah terbiasa," jelasnya.
"..." Chezy tahu kakeknya selalu berpura-pura tidak peduli saat khawatir.
"Bagaimana dia tahu aku terluka?"
"Matanya ada di mana-mana." Kakek Alston jujur. "Baiklah, aku tidak akan menggangu kalian berdua." Dia menatap Dallas. "Ingatlah untuk menjaga istrimu dengan baik. Jangan karena kakinya patah, kamu berpaling begitu saja!"
__ADS_1
Dallas tentu saja tahu ini. "Kamu tidak perlu khawatir."
"Huh!" Kakek Alston akhirnya meninggalkan rumah itu.
Kursi roda Chezy tidak bisa dibawa ke atas. Jadi Dallas membeli dua kursi roda khusus untuk lantai satu dan lantai dua. Pria itu hanya bisa membopongnya menaiki anak tangga.
Ketika tiba di kamar, Chezy tidak bisa melakukan aktivitas lain selain berbaring dan melakukan pemulihan.
"Kakek tahu identitas mu?"
"Ya. Dia kenalan kakek dan ayahku."
Dallas menaikkan sebelah alisnya. "Ayahku juga tahu?"
"Awalnya hanya tebakan. Tapi mungkin dia sudah yakin sekarang. Jangan berkata apa-apa saat kamu tiba di rumah keluarga besarmu. Terutama Gaines. Semuanya bisa berakibat fatal," bisiknya.
Dallas curiga jika kakaknya terlibat dalam sesuatu. Namun Chezy benar, tutup mulut lebih baik.
"Istirahat dulu. Aku akan menyelesaikan pekerjaan yang tersisa di ruang belajar. Jika butuh sesuatu, beri tahu butler Sun. Kamu juga bisa berteriak memanggilku."
"Aku masih punya satu kaki yang sehat. Ada kursi roda juga. Jangan khawatir."
"Ya." Dallas juga tahu itu. Dia hanya tidak ingin wanita ini terlalu lelah.
Dallas meninggalkan ruangan setelah memastikan jika Chezy patuh berbaring di tempat tidur.
......................
Dallas turun ke lantai satu dan melihat Asisten Jill sudah menunggunya. "Bagaimana kondisi keluarga Marweth saat ini?"
"Sesuai dengan instruksi Bos, Sonya dan tuan muda tertua melangsungkan pernikahan hari ini. Saham perusahaan keluarga Marweth menurun setiap hari dan kemungkinan terancam bangkrut jika tidak segera diatasi. Tuan muda tertua mengatasi ini dan semuanya hampir stabil," jelasnya.
Dallas mencibir. "Ini hanya permulaan," gumamnya.
__ADS_1