
Dallas tidak menunda waktu. Dia meninggalkan rumah sakit diam-diam tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Saat tiba di apartemen, Marine membukakan pintu untuknya.
Dallas tidak menyapa pasangan itu dan pergi ke kamar di mana Chezy berada.
Wanita itu tertidur gelisah di tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya. Dallas duduk di sampingnya diam-diam, hendak menyentuh wajahnya. Tapi seketika, wanita di tempat tidur membuka matanya dengan tatapan tajam dan memegang tangan Dallas, menariknya sekuat tenaga lalu jatuhkan.
Saat ini Chezy berpikir ada penyusup yang ingin menyerangnya. Ini sifat alami seorang agen rahasia yang terlatih.
Suara seseorang mengaduh saat punggungnya membentur lantai membuat Chezy akhirnya sedikit sadar. Tapi dia masih dalam pengaruh alkohol.
"Dallas? Bagaimana mungkin dia ada di sini?" gumamnya. "Siapa kamu?"
Dallas bangun perlahan dan menahan rasa sakit yang tidak seberapa. Tapi pura-pura menyakitkan di mata wanita itu.
"Tentu saja aku suamimu. Aku baru saja datang tapi sudah akan dibunuh olehmu. Apakah kamu tidak sabar untuk menemukan pria pengganti diriku?"
Chezy akhirnya yakin jika orang di depannya adalah Dallas. Lalu dia terkejut. "Kenapa kamu di sini dan bukannya diam di rumah sakit? Apakah kamu tidak khawatir pihak lain akan menemukanmu?" tanyanya.
Dallas menghampiri Chezy yang masih setengah mabuk. "Aku merindukanmu. Kamu tidak datang ke rumah sakit, aku kesepian dan tidak makan dengan baik."
Merasakan belaian di kepala, Chezy sedikit canggung. "Aku ... Aku sibuk."
Ingat apa yang dikatakan Marine bahwa dirinya jatuh cinta pada Dallas, rasanya tidak mungkin. Tapi kenapa saat Dallas ada di sini untuknya, ada sedikit rasa lega. Hanya saja ... dia masih ingat tentang mantan tunangan Dallas yang disiksa oleh Gaines.
"Chezy, kamu adalah istriku. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada wanita lain selain kamu. Aku tidak tahu kenapa hubungan persahabatan antara aku, Sonya dan kakak menjadi berantakan seperti ini, rasanya menyedihkan. Aku sedih tentang ini." Dallas mencoba meluruskan pikiran Chezy seperti apa yang dikatakan Marine sebelumnya.
__ADS_1
Chezy tertegun. Tidak tahu harus menimpalinya seperti apa. Mungkinkah Miley salah mengartikan? Dallas tidak sedih tentang Sonya, melainkan hubungan persahabatan masa kecil yang kini hancur?
Memikirkan jika ini benar, maka Chezy merasa buang-buang energi yang tidak perlu. Dia lega tapi tidak mampu menunjukkannya di depan Dallas. Wajahnya semakin memerah saat ini, tidak bisa berkata-kata.
"Kenapa kamu mengatakan ini padaku?" Chezy pura-pura tidak mengerti.
"Tidak apa-apa. Hanya khawatir kamu salah paham terhadap sesuatu."
"Bagaimana kamu tahu aku di sini?"
"Marine mengangkat telepon mu dan berkata kamu mabuk karena kelelahan kerja. Jadi datang dan lihatlah." Dallas membuat alasan.
Setelah itu, Dallas mencium bibirnya dengan sedikit bersemangat. Dia sudah lama tidak menyentuh wanita ini sejak sakit dan berpura-pura sakit parah. Kali ini tubuhnya baik-baik saja. Bisakah dia menyentuhnya malam ini?
Chezy yang setengah pusing menyadari jika ciuman itu semakin berapi-api. Tangan pria itu juga menyelinap ke dalam pakaiannya.
"Ya. Ini sudah sembuh. Jangan khawatir, aku masih bisa memuaskanmu malam ini."
"Jangan di sini." Chezy merasa malu. Ini apartemennya tapi ada Marine dan Hadwin di luar. Dia sedikit canggung.
"Kenapa? Kita suami dan istri. Mereka mendengarnya juga tidak masalah," bisiknya.
Dallas memanfaatkan kondisi Chezy yang setengah mabuk, melepaskan semua pakaian dan menciumnya di mana-mana hingga meninggal bekas merah.
Malam itu, keduanya tidak sempat makan malam dan memiliki aktivitas yang menyenangkan di tempat tidur. Suara-suara di dalam terdengar oleh pasangan di luar.
__ADS_1
Saat ini, Marine dan Hadwin sedang makan malam. Untungnya mereka belum mengetuk pintu kamar saat mendengar suara Chezy yang ambigu.
Marine tampak malu dan tubuhnya panas. "Sekarang aku mengerti kenapa Chezy selalu kesal saat mendengar suara kita saat bercinta."
"...??" Hadwin yang tidak mengerti tampaknya ini bukan masalah besar.
Sedangkan di kamar.
Dallas dan Chezy yang saling menempel tanpa busana sudah berkeringat. Keduanya sudah mencapai puncaknya masing-masing
Pria itu mencium bibirnya sekilas dan berbaring di samping Chezy yang kini tampaknya telah tertidur. Meski masih menginginkannya, tapi melihat tampang wanita itu yang terlihat kelelahan, Dallas tidak memaksanya lagi.
"Selamat malam," bisiknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Chezy terbangun dengan rasa sakit di tubuh. Dia sedikit bingung saat melihat tubuhnya tanpa mengenakan sehelai pakaian. Dallas sudah kembali ke rumah sakit sejak dini hari tadi dan Chezy tidak tahu.
Saat bangun dan mengingat apa yang terjadi semalam, rasanya seperti mimpi. Apakah Dallas datang semalam? Pikirnya.
Chezy bangkit dari tempat tidur, memakai pakaian dan keluar kamar. Marine dan Hadwin sudah menyiapkan sarapan. Ini sudah jam tujuh pagi.
"Kamu sudah bangun? Cuci wajahmu dan sarapan dulu," kata Marine berperilaku seperti biasanya.
Chezy mengerutkan kening. Rambut panjangnya masih acak-acakan. "Apakah Dallas benar-benar datang semalam?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Ya. Jangan bahas itu lagi. Cepat cuci wajah dan makan. Kita masih sibuk hari ini." Marine tidak sabar.
Chezy tidak lagi peduli dan mencuci wajahnya lebih dulu. Lalu sarapan bersama keduanya.