Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Mengunjungi Keluarga Alston


__ADS_3

Negara A.


Perusahaan Alston Group terpaksa ditutup untuk perbaikan gedung yang hancur dan semua karyawan yang sebelumnya disandera Gaines, diberi kompensasi yang layak. Dallas tidak terlalu pelit. Untuk menstabilkan keadaan, dia langsung turun tangan ketika kondisinya membaik.


Belum lagi dia tidak menghadiri pemakaman kakaknya saat itu. Oleh karenanya, dia segera membeli seikat bunga mawar putih dan pergi ke pemakaman umum. Meski kakaknya dicap sebagai pengkhianat dan juga reputasi buruk saat meninggal, bagaimana pun keluarga Alston masih hidup. Seberapa buruknya Gaines, keluarga Alston tidak mengabaikannya.


Dallas melihat tempat peristirahatan terakhir kakaknya dan menghela napas. Dia meletakkan seikat bunga mawar putih di tengah makam di mana foto kakaknya diletakkan dekat nisannya.


Asisten Jill mengikutinya sepanjang jalan dan tidak berani untuk bicara. Suasana hati bosnya kemungkinan besar kurang baik hari ini.


Dallas menatap langit yang kini sedikit gelap. Hujan sepertinya akan segera turun.


“Kakak, kamu harusnya senang sekarang bukan?” gumamnya.


Embusan angin menyapa tubuh Dallas saat meninggalkan pemakaman umum.


Di dalam mobil, Dallas mendapatkan telepon dari markas militer tentang kemajuan penyelidikan pihak Negara C. Mereka sudah mendapatkan hasilnya dan tahu siapa yang ingin mendapatkan keluarga Alston.


Orang yang menginginkan keluarga Alston ini masih merupakan persaingan bisnis terbesar selama beberapa tahun terakhir. Setidaknya setelah Dallas menjabat, pihak di Negara C gelisah. Mengetahui jika Dallas tidak terkalahkan, mereka akhirnya bekerja sama dengan pembunuh berantai.


Mungkin sejak awal, Gaines sudah ditargetkan menjadi kambing hitam dan batu loncatan mereka. Lalu Gaines menyadari masalah tersebut dan membuat pengaturan untuk dirinya sendiri. Meski Gaines mudah dipengaruhi oleh mereka, pikirannya jelas.

__ADS_1


Setelah mengetahui pihak lain memanfaatkannya, Gaines berpura-pura patuh dan terus menjadi kejam. Pada akhirnya berakhir dengan kematian yang diinginkannya. Jika Gaines tidak mati, kemungkinan besar pihak lain akan terus mengincar keluarga Alston.


Setelah mendengarkan penjelasan di telepon, Dallas berpikir lebih dalam. Dia merasa jika kakaknya lebih mampu dibandingkan dengan dirinya sendiri selama ini. Karena peristiwa ini juga, Kakek Alston jauh menjadi lebih pendiam. Ibunya telah mengurung diri selama beberapa hari. Suasana di rumah utama tidak lagi seperti dulu.


“Baik, terima kasih atas informasinya,” kata Dallas sebelum akhirnya pihak lain mengakhiri panggilan.


“Bos …” Asisten Jill sudah duduk di kursi pengemudi dan baru saja selesai membaca pesan dari Tuan Alston.


“Ada apa?”


“Tuan memintamu untuk kembali. Mereka berkata jika pihak keluarga Edelmar datang untuk membantu menstabilkan perusahaan dan … Sisanya akan dibicarakan di rumah. Tuan tidak bisa menghubungimu barusan,” jelas Asisten Jill.


Saat di perjalanan pulang, hujan turun cukup deras. Suasana hati Dallas sedikit gugup saat ini, terutama karena pihak keluarga Edelmar ada di sini. Meski keluarga Alston tidak cukup kuat di mata mereka, Dallas tak bisa kehilangan wajah di depan keluarga istrinya.


Tidak tahu siapa yang datang saat ini.


Setibanya di rumah, Dallas langsung turun. Diikuti oleh Asisten Jill.


Suasana di ruang utama sedikit hening. Bukan hanya ada Kakek Alston dan ayahnya saja, tapi ibunya yang telah mengurung diri juga hadir. Saat melihat Dallas kembali, Nyonya Alston tersenyum dan meminta putranya duduk di sampingnya.


Dallas akhirnya bisa melihat siapa yang datang saat ini. Ada seorang pria tua yang setidaknya sebaya dengan kakeknya serta seorang pria muda di sampingnya, terlihat menatap Dallas penuh kecurigaan. Dallas menebak jika itu mungkin cucu dan kakek dari keluarga Edelmar.

__ADS_1


Hanya ada, ada beberapa pengawal berpakaian dan berkata hitam di belakang pihak lain. Keluarga Edelmar bahkan dikawal oleh orang-orang kerajaan, ini cukup mengejutkan.


Kakek Alston membuka suara. “Ini cucuku, Dallas Alston, pemimpin Alston Group saat ini,” katanya pada Dallas. Lalu dia memperkenalkan dua orang yang duduk di depannya.


Setelah saling berkenalan, Dallas tersenyum pada mereka. Terutama saat melihat Cade.


“Halo, Kakak Ipar,” sapanya.


Cade mencibir, tidak suka dengan tatapan pria itu. Apakah ini suami yang dicari adiknya? Kenapa begitu tak tahu malu? Namun Kakek Edelmar menyikutnya cukup keras dan memberikan tatapan berarti.


“Bersikaplah sopan!”


“…” Cade tidak mampu menyelamatkan wajah di depan kakeknya dan mau tidak mau menerima sapaan Dallas.


Setelah saling menyapa, mereka kembali ke topik utama. Kali ini, Dallas tidak lagi gugup, justru semakin ingin menunjukkan kemampuannya.


“Apakah kedatangan Kakek ke sini untuk membantu situasi keluarga kami?” tanyanya.


Kakek Edelmar menatap Kakek Alston sekilas. “Ini masih kakekmu yang meminta bantuan,” jawabnya jujur. “Negara A tidak memiliki persahabatan dengan Negara C. tapi Negara K kami cukup dekat dengan Negara C. Masalah keluarga Alston dengan pihak Negara C, pihak kami yang akan menjadi perantara. Bagaimana?”


Kakek Edelmar ingin tahu apakah Dallas memiliki ide lain atau tidak. Dia seharusnya bisa memercayai pria yang telah dipilih untuk cucu perempuannya di masa depan.

__ADS_1


__ADS_2