
NB: Warning ....
...----------------...
Di saat Jennifer siuman, Egan sudah memegang semangkuk bubur dan minuman hangat. Karena gadis itu bangun, dia tak perlu repot-repot menyimpan makanan untuk dihangatkan.
"Bangun?" Egan melihatnya linglung dan mau tak mau menyentuh dahinya. Tidak demam, untungnya.
"Kapten?" Jennifer terkejut melihat pria itu duduk di dekat tempat tidur single.
"Ya. Makanlah untuk mengisi perutnya lebih dulu. Jangan pingsan lagi saat latihan nanti," katanya.
Jennifer sedikit malu dan tidak menyangkalnya. Dia tidak sarapan di pagi hari karena bangun terlambat. Ayahnya adalah orang yang ketat dan dia tak bisa malas. Jadi saat pergi ke lapangan untuk latihan, dia tidak sempat mengisi perutnya.
Tanpa diduga, latihan hari ini cukup berat dan dia pingsan setelah latihan selesai. Ini bisa dianggap sebagai pertahanan diri yang kuat untuk mencegah tubuh terlihat lemah di depan musuh di masa depan.
Setelah sarapan, keduanya berbincang sejenak dan Egan harus kembali untuk melakukan pekerjaannya. Mereka masih di pangkalan. Seberapa enggannya Jeniffer melihat Egan pergi, dia tahu tak bisa melanggar peraturan militer.
Beberapa hari kemudian, Egan memiliki waktu luang untuk mengajak Jeniffer berkeliling kota. Keduanya terlihat seperti pasangan pada umumnya, menonton di bioskop, makan malam dan berbelanja.
Egan bukan pria miskin yang selalu melihat isi dompet saat melihat Jennifer memilih sesuatu yang diinginkannya. Apapun yang gadis itu inginkan, dia membayarnya tanpa ragu.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu?" tanya Egan setelah melihatnya puas berbelanja.
"Aku ingin makan kamu," goda gadis itu.
Mata pria itu menyipit. "Menggoda pria, tahukah kamu konsekuensinya?" Nada bicaranya sedikit berbahaya dan pikirannya mulai tidak baik.
__ADS_1
Jennifer melihat ekspresi pria itu sedikit mengeras dan wajahnya memerah. Dia menstabilkan pikirannya dan memberanikan diri untuk menyentuh dada bidangnya yang terbungkus pakaian.
"Aku ingin kamu," katanya.
Kali ini Egan meremas pinggang kecil gadis itu. "Jangan memohon ampun di tempat tidur," timpalnya.
Keduanya memiliki pemahaman masing-masing dan Egan bukan pria membosankan saat melihat gadis yang disukainya. Keduanya jarang berkumpul di tempat tidur karena sibuk dengan urusan di pangkalan.
Egan memiliki vila yang dibelinya dari hasil kerja keras dan membawa gadis itu ke sana untuk beristirahat malam ini.
Tapi malam itu, keduanya tidak tidur dan sibuk menyalurkan hasrat yang telah lama dirindukan. Egan menjadi binatang buas yang haus di tempat tidur. Dia menyentuh dan mengecap setiap inci tubuh gadis itu hingga meninggalkan beberapa bekas ambigu.
Jennifer merupakan gadis yang aktif dan dia tidak malu-malu saat tubuhnya dimanjakan. Lambat laun suaranya sedikit serak dan itu membuat Egan menjadi lebih bersemangat.
"Jennifer," bisik Egan langsung menggigit daun telinga gadis di bawahnya.
"Lebih cepat," bisik gadis itu serak.
Egan menurutinya. Tak lama kemudian, keduanya mencapai puncaknya masing-masing. Jennifer berteriak dan kini suaranya benar-benar serak. Dia memeluk Egan, merasakan arus hangat di perutnya. Tanpa sadar, dia terkejut.
"Kamu ... kamu tidak memakai pelindung?" tanyanya lupa tentang ini.
Pria di atasnya sedikit bernapas cepat dan kelas masih merasakan kegilaan terakhir. Dia mengusap keringat di dahi Jennifer dan malam ini dirinya telah bekerja keras untuk memuaskan gadis itu.
"Tidak apa-apa. Jika kamu hamil, maka lahirkan saja untukku. Aku tidak keberatan menjadi seorang ayah lebih awal," bisiknya.
"Egan ..." Jennifer menatap pria itu dan hatinya menjadi sedikit lebih manis. "Baiklah," katanya mengambil keputusan.
__ADS_1
Tidak masalah jika anak datang lebih awal. Ayah dan ibunya tidak akan keberatan.
Egan masih belum puas malam ini dan dia mengambil gadis itu ke kamar mandi dan keduanya kembali melakukannya di bawah pancuran air hangat.
Suara Jennifer yang memintanya untuk berhenti tidak digubris sama sekali ....
Keesokan harinya, keduanya bangun terlambat. Setidaknya sudah hampir siang hari. Jennifer lemas di tempat tidur dan kedua kakinya tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Dia menyalahkan Egan karena terlalu bersemangat malam tadi. Tapi siapa sangka, dia ditekan kembali di tempat tidur sebelum waktu makan siang tiba.
Saat makan siang, gadis itu memiliki beberapa tanda ambigu di tubuhnya. Jadi dia sengaja memakai pakaian yang lebih panjang.
"Kamu binatang buas!" Gadis itu marah padanya dan memotong steak seperti sedang mengeksekusi Egan yang ada di seberangnya.
Egan tidak terpengaruh sama sekali dan tubuhnya terlihat bugar seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda kelelahan di tubuhnya. Baginya, Jennifer seperti pengisi energi.
"Siapa yang memintanya lebih dulu semalam?"
Jennifer tidak menjawab. Tak lama, ponselnya berdering. Dia melihat nama yang tertera di layar.
"Siapa yang menelpon?" tanya pria itu.
"Ini ... Calon ayah mertuamu," jawabnya.
"Oh, kalau begitu jawab saja dan katakan kebenaran."
Jennifer segera menerima panggilan telepon dari ayahnya.
"Ayah, apakah ada sesuatu?" Jennifer terlihat malas saat bicara dengan ayah kandungnya yang pernah menjadi mantan playboy ini.
__ADS_1