
Diana sedikit pemalu. Namun dia masih bersikap santai di depan banyak orang. Chezy yang melihat keduanya pulang, segera menyambutnya. Diana kembali ke kamarnya dulu untuk berganti pakaian. Edrick bergabung dengan Egan yang telah pulang dari ketentaraan beberapa hari lalu.
Bukan hanya Egan, bahkan Efrain juga duduk bersama dua kembarannya. Ketiganya terlihat sangat mirip. Jika bukan karena pakaian dan ekspresi di wajah masing-masing, mereka akan bingung membedakannya.
Efrain terlihat lebih ramah tapi kalem. Pakaiannya sederhana, rambutnya belum dipotong lagi saat ini sehingga menambah kesan baji*gan pada dirinya sendiri.
Sedangkan Egan lebih rapi. Mungkin karena telah menjadi prajurit, sosoknya menjadi lebih maskulin dan berotot. Tatapan elang di wajahnya tak bisa dihilangkan. Ini benar-benar simbol prajurit yang tidak takut mati di medan perang.
Edrick sering merokok dan hal ini menular dari ayahnya di masa lalu. Siapapun yang dekat dengannya pasti akan mencium bau rokok yang cukup kental.
Marissa, anak Marine dan Hadwin hampir seusia dengan Diana. Dia berwajah Asia dan lebih mirip dengan Marine.
"Tuan Ketiga," sapanya sedikit malu. Wajahnya memiliki rona merasa saat melihat Edrick yang duduk di antara dua kembarannya.
Edrick melirik gadis berambut sebahu dengan pakaian hangat duduk di dekat adiknya. Dia ingat jika gadis itu adalah anak sahabat ibunya.
"Ya." Dia membalas perkataannya dengan ringan, lalu menyesap rokoknya lagi.
Sosoknya yang memakai jas formal terlihat lebih menawan.
Diana yang melihat Marissa menatap kakak ketiganya sedikit berbeda, mau tidak mau menggodanya. Dia berbisik padanya.
"Kamu suka kakak ketiga ku?" tanyanya seraya menyenggol lengannya.
__ADS_1
Marissa terkejut dan menggelengkan kepala. Dia sedikit salah tingkah. "Tidak, tidak. Kamu salah mengiranya. Siapa yang suka? Kakak ketigamu terlalu dingin," jawabnya.
"Padahal ibuku ingin kamu jadi menantunya," keluh Diana sedikit kecewa.
Dia telah berulang kali memergoki Marissa menatap kakak ketiganya dengan sedikit berbeda sejak pertama kali bertemu. Dia mengira gadis itu menyukai kakaknya. Diana tidak keberatan jika Marissa menjadi kakak iparnya di masa depan.
"..." Aku bahkan tidak memikirkannya, batin Marissa.
Malam ini, semua orang makan malam bersama dan ada banyak obrolan di meja makan. Edrick menjadi yang paling pendiam saat makan. Dia seperti terasing dari dunia namun sifatnya memang seperti itu. Jadi semua orang tidak mempermasalahkannya.
Beberapa remaja mabuk bersama setelah makan malam dan beberapa obrolan tentang kuliah atau pekerjaan tidak luput menjadi topik hangat.
Diana mengetahui jika kakak ketiganya sangat suka dengan anggur mahal berkelas. Jadi sengaja mengeluarkannya dari gudang anggur milik ayahnya.
"Kakak Ketiga, minumlah lebih banyak malam ini. Kamu jarang berkumpul dengan kami," kata gadis itu mulai cemberut.
"Humph! Kalau begitu akan ke atas lebih dulu. Biarkan Marissa yang menemani Kakak di sini." Diana segera bangkit dan pergi sebelum Edrick menolak.
Marissa yang didorong Diana untuk menemani Edrick bahkan lebih gugup. Dia bukan orang yang pemalu saat bicara dengan orang lain. Tapi entah kenapa selalu gugup saat bertemu dengan Edrick.
Dia menemaninya minum malam ini.
Egan dan Efrain pergi entah ke ruangan mana dan sepertinya sibuk sendiri.
__ADS_1
Edrick melihat gadis yang duduk tak jauh darinya, pikirannya sedikit bingung. Dia minum anggur merah lebih banyak dan mulai mabuk.
"Kudengar kamu sedang mencari pekerjaan untuk masa percobaan magang?" tanyanya mengambil topik.
Marissa terkejut dan mengangguk tanpa sadar. Ini pertama kalinya Edrick bertanya tentang masalah dirinya.
"Apakah kamu sudah menemukannya?" tanya pria itu lagi.
"Belum. Belum ada yang cocok untuk tugas mata kuliah ku. Tuan Ketiga memilik rekomendasi?"
"Oh?" Edrick sedikit menyeringai dan pikirannya lebih pasti. "Apakah kamu yakin ingin pekerjaan magang yang direkomendasikan olehku?"
"Saran Tuan Ketiga pasti bagus."
Tiba-tiba saja Edrick mendekatkan tubuhnya ke arah gadis itu. Dia bisa mencium aroma parfum ringan dari tubuh gadis di sampingnya. Jakunnya sedikit bergerak.
"Tu-tuan Ketiga?" Marissa bingung dengan pendekatannya.
"Mendekatlah dan aku akan memberi tahumu," bisik Edrick tidak terpengaruh oleh reaksi bingungnya.
Meski ragu, Marissa yang berwajah merah karena efek alkohol sedikit merapatkan diri. Edrick mungkin ingin berbisik padanya.
Wajah pria itu semakin dekat dan Marissa bisa merasakan embusan napas hangat di telinganya. Alih-alih membisikan sesuatu, Marissa justru merasa jika telinganya digigit.
__ADS_1
Tubuh gadis itu menegang seketika dan terkejut dengan apa yang dilakukan Edrick padanya. Dia langsung menjauhkan diri dan hampir saja berteriak. Jika bukan karena Edrick langsung meraih pinggang Marissa dan menahannya, mungkin situasinya berbeda.
Edrick tidak berkata apa-apa. Dia menatap wajah Marissa seperti serigala lapar yang baru saja bangun dari tidurnya. Dia menekan gadis itu di sofa dan mencium bibirnya dengan rakus.