
Di keluarga Alston, setelah makan malam, Gaines tiba-tiba saja ingin bicara empat mata dengan Kakek Alston. Pria tua itu mengajaknya ke ruang belajar dan duduk saling berhadapan sambil menyesap secangkir teh.
Kakek Alston sepertinya sudah menebak apa yang diinginkan oleh cucu tertuanya.
“Apakah harus melakukan ini? Gaines, kamu tidak seperti ini dulu. Apa yang membuatmu menjadi seperti sekarang?” tanya Kakek Alston memulai percakapan.
Gaines mengerutkan kening dan merapatkan bibirnya, tidak bicara secara langsung. Tapi diamnya sudah membuat Kakek Alston yakin. Kemudian Gaines ingat masa kecilnya bersama dengan Dallas dan keluarganya. Tapi semua itu sudah terlambat. Dia tidak mungkin menarik diri dari organisasi pembunuh berantai.
“Kenapa kamu tidak memberikan posisi pewaris padaku, tapi pada Dallas tahun itu?” tanya Gaines.
“Karena kamu mudah dipengaruhi oleh orang lain. Sebelum aku menyerahkan posisi pewaris pada Dallas, Bukankah kamu sudah dihubungi oleh mereka untuk mengambil alih keluarga Alston?” Kakek Alston menyipitkan mata. “Aku adalah seorang veteran perang yang pernah berurusan dengan Rogers, bosmu saat ini. Siapa yang menduga jika dia akan menargetkan keluarga Alston setelahnya.”
Kakek Alston telah menyembunyikan ini selama bertahun-tahun. Dia tahu tentang pengkhianatan Gaines dari anak buahnya dan saat itulah dia menyadari jika Rogers telah kembali setelah melarikan diri tahun itu.
Rogers adalah bos pembunuh berantai dari dulu hingga sekarang. Sebagian anak buahnya sudah gugur saat Kakek Alston memimpin di masa lalu dan bekerja sama dengan Negara K untuk membasminya.
Tapi Rogers berhasil selamat meski terluka parah dan tidak pernah muncul lagi selama bertahun-tahun lamanya. Sekarang kemunculannya di ibu kota pasti tidak kecil. Keluarga Alston adalah salah satu tujuan balas dendamnya.
Gaines terkekeh, “Ternyata Kakek tahu banyak.”
Dia menyipitkan mata, sedikit marah di hatinya. Dia memang tidak seteguh Dallas dalam hal perasaan. Dia dulu hanya bertanya-tanya kenapa Kakek Alston memberikan posisi pewaris pada Dallas alih-alih dirinya sebagai cucu tertua.
__ADS_1
Lalu dia telah bergabung dengan Rogers untuk menjadi seorang pembunuh, melampiaskan emosinya pada orang lain dan senjata. Saat Itulah Gaines menyadari jika Tamu Malam yang selalu menggagalkan semua rencananya adalah adiknya sendiri, Dallas.
Kemudian, Gaines mengeluarkan pistol dari saku jas licinnya dan menodongkannya pada Kakek Alston.
“Apa yang kamu inginkan sekarang?” Kakek Alston tampak lelah dan tidak menduga jika cucu tertuanya sendiri menodongkan pistol padanya.
“Kakek, permintaanku sangat sederhana. Aku hanya ingin keluarga Alston dan menggantikan Dallas. Sekarang Dallas terluka dan tidak mungkin untuk memimpin lagi, aku ingin kamu menyerahkannya padaku. Jika tidak, aku tidak bisa menjamin hidup Dallas dan istrinya,” jelas Gaines dengan mata memerah. Dia bersiap menarik pelatuk kapan saja, mengarahkannya ke dahi Kakek Alston.
“Apakah kamu ingin mengkhianati keluarga?”
“Ya. Setelah aku keluar dari rumah ini, aku adalah musuh keluarga Alston. Tentu jika kamu menyerahkan keluarga Alston padaku, aku akan masih akan melindungi kalian.”
Kakek Alston memejamkan mata, tampak tidak berdaya. “Tidak mungkin bagiku menyerahkan keluarga Alston padamu. Gaines, Rogers adalah musuhku dan tidak akan kubiarkan dia mengambil alih keluarga ini. Gaines, sadarlah, di matanya, kamu hanya alat.”
Setelah itu, suara tembakan terdengar di ruang belajar tapi orang di luar ruangan tidak tahu apa yang terjadi.
Setelah itu, Gaines keluar dari ruang belajar dan menuruni anak tangga satu persatu. Barulah dia berpapasan dengan Tuan Alston dan Nyonya Alston.
“Gaines, apa yang kamu bicarakan dengan kakekmu? Kenapa begitu lama? Apakah semuanya baik-baik saja?”
Nyonya Alston melihat putranya turun, akhirnya tak bisa menahan diri untuk penasaran. Namun Nyonya Alston melihat Gaines memegang pistol, wajahnya pucat.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kamu memiliki benda itu? Apa yang terjadi sebenarnya?”
Tuan Alston menduga jika Gaines mungkin menembak Kakek Alston dan tak bisa berhenti terkejut.
“Kamu … kenapa kamu melakukan ini?” tanyanya.
Gaines tersenyum. “Tentu saja demi keluarga kita. Ayah, beri tahu Dallas jika dia tidak menyerahkan keluarga Alston padaku, semuanya akan hancur. Aku akan menghancurkan keluarga ini,” jawabnya.
Tuan Alston juga sama pucatnya seperti istrinya. Melihat Gaines meninggalkan rumah, dia buru-buru naik ke lantai dua untuk mengetahui kondisi Kakek Alston.
“Ayah!” teriaknya.
Tuan Alston membuka ruang belajar dan melihat Kakek Alston duduk di sofa dengan lengan kirinya yang berdarah. Wajahnya jelas pucat dan sepertinya telah menjadi lebih tua. Melihat darah mengucur dari luka tembak, Tuan Alston akhirnya tidak bisa menahan diri untuk gemetar.
Nyonya Alston baru saja tiba di sana dan melihat kondisi Kakek Alston yang tampak linglung.
“Ini …” Dia tampak bingung dan ketakutan. Belum pernah melihat darah sebanyak ini.
“Apa yang kamu tunggu? Cepat hubungi dokter keluarga!” teriak Tuan Alston.
Sebelum Nyonya Alston bereaksi, Arran sudah datang.
__ADS_1
“Tidak perlu, aku di sini,” kata Arran seraya berjalan menuju ruang belajar. Jas putih dokternya terlihat masih baru.