Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Acara Makan Malam Keluarga Bangsawan


__ADS_3

Waktu tak terasa berjalan cepat dan seminggu kemudian akhirnya tiba.


Pada malam hari, Chezy sibuk memilih gaun malam yang cocok untuk dikenakan ke acara makan malam keluarga bangsawan. Dia sudah berulang kali mencocokkan semua gaun di depan cermin hingga Dallas yang baru saja selesai mandi mulai bosan.


Pria itu mengerutkan kening. Tetesan air jatuh dari rambut dan handuk menggantung di lehernya. Dia memakai jubah mandi yang masih memperlihatkan sebagian dada bidangnya.


Kenapa wanita begitu merepotkan? Bukankah hanya memilih gaun? Pikirnya.


"Dallas, menurutmu, gaun mana yang cocok untuk dipakai malam ini?" Chezy bertanya padanya seraya menunjukkan beberapa gaun.


"Terserah." Dallas bahkan tidak tertarik dengan selera wanita.


"Oh, kalau begitu, aku akan memakai yang ini. Gaun ini seksi dan cantik. Belahan dadaku terlihat kencang, pantatku berisi dan pahaku juga tampak mulus. Pria benar-benar tidak tahu selera," kata Chezy sambil tersenyum seraya mencocokkan gaun berwarna merah.


Gaun merah dengan renda di punggung dan bagian paha terbelah itu tampak nya sangat cocok. Pria seperti Dallas benar-benar membosankan.


Dallas mengubah ekspresi wajahnya saat ini setelah mendengar apa yang dikatakan wanita itu. Katakanlah bahwa dia tidak memiliki selera?


Dia mendekati Chezy dan melemparkan gaun yang dipegangnya ke pojokan kamar. Wanita itu merasa bingung.


"Apakah kamu gila? Melemparkan gaun yang begitu cantik!"


"Gaun itu tidak cocok." Dallas mencari alasan. Dia memperhatikan beberapa gaun yang tersebar di tempat tidur. "Pakai yang ini saja."


Dallas menunjukkan gaun berwarna hitam yang sedikit menonjolkan tubuh tapi memberikan kesan misterius.


"Kamu yakin? Apakah kamu mencoba membuatku jelek?" Chezy tidak percaya.


"Reputasiku sendiri, aku tahu yang terbaik."

__ADS_1


Dallas tidak mempedulikannya lagi dan mengambil pakaian yang telah disiapkan oleh Asisten Jill.


Malam ini, Dallas juga memakai setelan tuksedo. Warna pakaiannya serasi dengan gaun yang dipakai Chezy.


Keduanya diantar oleh Asisten Jill yang sudah siap sejak lama.


Setibanya di halaman rumah keluarga besar Alston, Dallas kembali memperingati Chezy untuk tidak banyak bertingkah.


Namun demi rencananya, Chezy hanya bisa menjadi wanita yang patuh di depan pria itu. Lupakan saja. Demi meninggalkan rumah Dallas selama satu bulan, ini sepadan, batinnya.


"Aku gugup," kata Chezy pura-pura canggung saat melingkarkan tangannya di lengan pria itu.


Dallas mencibir, sama sekali tidak berniat untuk menghiburnya. "Kamu bahkan berani mengambil uang Miley, kenapa kamu gugup saat ini?" ejeknya.


Chezy tidak memakan ejekannya. Apakah pria itu memiliki rencana lagi untuk bermain dengannya kali ini?


Rumah keluarga besar Alston terang benderang malam ini. Ada banyak mobil mewah terparkir dan penjaga di depan rumah segera menyambut kedatangan Dallas dengan hormat.


Ternyata makan malam keluarga bangsawan seperti ini di negara A. Seperti lebih memamerkan status alih-alih mempererat hubungan persaudaraan.


Negara A sungguh bebas, batin Chezy.


Nyonya Alston menyambut putranya datang dan tersenyum kaku pada Chezy. Lagi pula acara makan malam ini sangat penting. Dia tidak bisa kehilangan wajah di depan wanita yang dibawa Dallas. Belum lagi Kakek Alston telah memintanya untuk bersikap baik malam ini.


Para tamu undangan mulai berdiskusi tentang Dallas yang sebelumnya bertunangan dengan Sonya.


"Mereka putus? Sonya sangat baik dan keluarga Marweth juga dihitung sebagai keluarga kelas atas. Kenapa tuan muda kedua ini tidak menyukainya? Siapa wanita di sampingnya?" bisik salah satu nyonya pada orang di sampingnya.


"Aku tidak tahu. Tidak heran keluarga Marweth datang dengan tidak ramah malam ini, ternyata masalahnya di sini. Mungkinkah wanita itu menjadi pihak ketiga?"

__ADS_1


"Ini sangat mungkin!"


Semua diskusi itu mencapai telinga Chezy. Sudut mulutnya hanya sedikit naik. Dia berbisik pada Dallas jika para tamu membicarakan dirinya sebagai wanita perusak hubungan pasangan lain.


Dallas tentu saja sombong dan tidak mungkin menanggung rasa malu itu. Dia merangkul Chezy dan memperkenalkannya pada semua orang.


"Perkenalkan, ini istriku, Chezy Edelmar." Dallas tersenyum pada para wanita yang baru saja membicarakan Chezy.


Ada keheningan sementara di ruangan dan semua orang bingung harus mengambil sikap apa. Untung saja para pria tahu harus merespons cepat dan mengucapkan selamat pada Dallas. Mereka tidak terlalu peduli seperti para wanita yang banyak bergosip.


Nyonya Alston berwajah kurang baik tak jauh dari mereka. Sementara Sonya yang ada di sampingnya menunduk dan menunjukkan ekspresi terluka. Seolah-olah dia baru saja menjadi pihak yang teraniaya.


"Tuan muda kedua, bukankah Anda dan Sonya bertunangan dan akan menikah tahun ini? Kenapa ada wanita lain yang muncul tiba-tiba?" Salah satu nyonya yang dekat dengan Nyonya Marweth ingin membuat beberapa keributan kecil tentang hubungan anak muda.


"Hanya ketidakcocokan, bukan berarti harus bersama hingga pernikahan. Lagi pula saya yakin jika Sonya memiliki pihak yang lebih baik di belakang," jawab Dallas tanpa menunjukkan kesopanan.


Nyonya yang baru saja bertanya itu akhirnya menutup mulutnya. Tidak mengerti apa yang dimaksud Dallas. Mungkinkah Sonya memiliki pria lain yang lebih dicintainya?


"Dallas!" Sonya bahkan memiliki mata memerah saat ini. "Maaf, aku tidak baik."


"Sonya, ini bukan salahmu. Dallas hanya dibutakan oleh wanita miskin ini, dia hanya terpesona oleh rubah untuk sementara waktu." Nyonya Alston bahkan menghiburnya.


Para tamu yang mendengarnya akhirnya mengerti jika Nyonya Alston ini tidak menganggap Chezy sebagai menantunya.


Sonya tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap Gaines yang ada di sisi lain tapi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Semua ini jatuh ke mata Chezy. Dia sudah menebak jika keduanya memiliki pemahaman satu sama lain.


Dallas membawa Chezy ke tempat di mana kakeknya berada. Dia melewati Sonya dan Nyonya Alston, sempat berhenti sejenak dan menatap Sonya dengan mata dingin.


"Lebih baik memelihara rubah daripada ular berbisa di rumah." Dia menimpali perkataan ibunya.

__ADS_1


Seketika, Sonya berwajah pucat. Jantungnya berdegup lebih kencang dan keringat dingin memenuhi punggungnya. Bahkan Nyonya Alston tak bisa berkata-kata untuk sementara waktu.


__ADS_2