Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Dallas juga tahu bahwa masalah ini tidak mudah. Pihak Negara C masih hidup dengan aman dan sehat hari ini. Mungkin karena Negara C tidak bisa diganggu dengan mudah. Bahkan jika Dallas ingin membuat keributan di negara itu, sulit untuk menyelesaikannya.


“Kakek, aku tahu masalah ini disebabkan karena diriku. Tidak masalah jika keluarga kerajaan ingin membuka jalan, tapi aku ingin berpartisipasi dalam masalah ini secara langsung,” jelas Dallas.


“Tidak masalah, itu mudah dilakukan. Orang-orangku sudah tiba di sini seminggu yang lalu dan kamu bisa memanfaatkan mereka sesukamu.”


“Terima kasih.” Dallas tidak munafik. Dengan adanya pihak keluarga Edelmar, dia mudah terbang ke Negara C untuk menyelesaikan masalahnya.


Orang-orang kerajaan Negara K, kemungkinan besar pemerintah Negara C tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa berkompromi.


“Ini bukan masalah besar, kita adalah keluarga. Setelah itu, biarkan Cade ikut bersamamu untuk mencari pengalaman,” kata Kakek Edelmar enteng.


Cade sedikit tersedak saat minum teh. “Kakek, aku masih harus pergi ke laboratorium untuk eksperimen lanjutan,” katanya sedikit cemberut.


Kenapa dia harus menemani pria itu ke Negara C? Ini buang-buang tenaga dan uangnya.


Pria tua itu memberikan tatapan tegas. “Jangan menolak. Kamu kira laboratorium adalah pacarmu?!”


Cade ingin memuntahkan seteguk darah tua. Apakah kakeknya begitu jelas tentang hal itu? Dia memang tidak punya pacar. Laboratorium adalah pacarnya. Tapi Kakek Edelmar sudah bicara, Cade tak bisa menolak lagi. Dia hanya bisa berkompromi.


Cade akhirnya menatap Dallas. “Bisakah kita bicara empat mata?” tanyanya.


“Tentu saja.” Dallas tidak menolak. Dia berpikir jika Cade tidak hanya ingin bicara empat mata saja dengannya.


Bahkan Kakek Alston tak bisa menahan diri untuk mendukungnya. “Ayo, kalian harus bicara satu sama lain dengan baik. Jangan terlalu keras. Selama tidak sampai pingsan,” katanya.

__ADS_1


“…” Dallas sepertinya mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan kakeknya.


Dallas mengajak Cade ke ruang belajar kakeknya. Setelah pintu ditutup, Cade langsung memberikan beberapa pukulan langsung. Dallas menghindar dan melawan balik. Akhirnya, pertarungan satu lawan satu terjadi selama lima belas menit.


Tak lama setelah itu, keduanya keluar ruang belajar dengan beberapa luka lebam di wajah. Cade menunjukkan ekspresi tidak senang. Namun dia tak mengatakan apa-apa.


“Kakak Ipar, kemampuanmu tidak kecil, tapi masih harus banyak belajar lagi,” kata Dallas.


Cade mendengkus, “Itu karena aku tidak terlalu serius,” sangkalnya. “Jangan senang dulu, adikku belum tentu mau hidup denganmu. Lebih baik selesaikan dulu urusanmu,” imbuhnya.


Dallas segera berekspresi serius. “Jangan khawatir. Aku yakin Chezy tahu pilihan terbaiknya.”


Justru karena inilah Cade tambah kesal. Apakah adiknya disihir oleh wajah tampan pria ini?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Chezy sedang makan siang dengan ayah dan ibunya ketika Kakek Edelmar kembali.


“Kakek, apakah semua baik-baik saja?”


Kakek Edelmar tersenyum senang. “Semuanya beres.”


“…” Nyonya Edelmar dan suaminya tidak bisa menghela napas diam-diam. Tentu saja pria tua itu senang setelah melihat teman seperjuangannya di masa lalu.


“Chezy, setelah makan, ada sesuatu yang ingin Kakek diskusikan denganmu,” kata pria tua itu serius.

__ADS_1


“Oke.”


Setelah makan siang, Chezy pergi ke ruang belajar untuk memenuhi panggilan kakeknya. Nyonya Edelmar dan Tuan Edelmar berada di depan pintu untuk mencoba menangkap pembicaraan keduanya. Namun gagal. Kakek Edelmar sepertinya menggunakan alat pengedap suara untuk mencegah orang lain mendengar.


Nyonya Edelmar sedikit khawatir. “Apa yang akan dibicarakan mereka kira-kiranya?”


“Mana aku tahu. Kita tunggu saja di sini,” jawab Tuan Edelmar tidak berdaya.


Nyonya Edelmar memelototinya. “Kamu adalah putranya. Kamu harusnya bisa menebak apa yang ingin dibicarakan ayahmu.”


Tuan Edelmar hanya bisa menyeka keringat. Sebenarnya dia masih lebih suka tidak memprovokasi istrinya daripada ayahnya sendiri. Baginya, Nyonya Edelmar seperti singa betina yang bisa mengamuk kapan saja.


“Sudahlah, kita tunggu saja,” katanya menenangkan. Dia segera membawa istrinya menjauh dari sana.


Saat ini, di ruang belajar ….


Kakek Edelmar sedang membahas masalah serius tentang hubungan Chezy dengan Dallas di masa depan. Entah itu kehidupan setelah pernikahan kontrak berakhir atau rencana lainnya. Kakek Edelmar hanya tidak ingin Chezy mengambil langkah yang salah.


Karena itu, setelah Chezy melaporkan misinya yang berhasil ke organisasi, tentu saja harus memikirkan pernikahan kontraknya yang belum berakhir.


“Apakah kamu berniat menjalani kehidupan serius dengan Dallas?” tanyanya.


“Kakek, kenapa kamu begitu serius dengan ini?” Chezy mengerutkan kening. Dia sudah ditanyai hal serupa oleh ayah, ibu dan juga kakaknya. Apakah mereka begitu mengkhawatirkan ini?


“Tentu saja! Kamu mungkin belum tahu … Bukankah ayahmu berniat untuk menjodohkanmu dengan anak temannya yang ada di Negara A?”

__ADS_1


Chezy langsung kehilangan mood. “Tentu saja aku tahu, apakah masalah ini masih harus dibahas? Sudah kubilang, aku tidak mau dijodohkan. Jika ada pilihan, tinggal bersama Dallas lebih baik meski dia sedikit tak tahu malu. Lagi pula, aku sudah memilikinya di perutku,” jelasnya tegas seraya menyentuh perutnya.


Akhirnya Kakek Edelmar yakin jika Chezy belum tahu. “Apakah kamu tahu siapa pria yang dijodohkan ayahmu waktu itu?”


__ADS_2