
Dallas menuju gedung terbengkalai dan menemukan Chezy di salah satu lantai yang cukup gelap dan sunyi. Wanita itu memakai pakaian serba hitam, rambutnya diikat ekor kuda dan topeng kucing tergeletak di sampingnya.
Wanita itu menyodorkan minuman kaleng beralkohol.
“Kamu mabuk?” Dallas duduk di sampingnya. Meski agak kotor, dia tidak peduli sama sekali. Dia membuang punting rokoknya.
“Kadar alkoholnya tidak banyak, jangan khawatir untuk mabuk.”
Keduanya minum bersama dalam keheningan. Tak lama, Dallas sedikit mabuk dan menyandarkan kepalanya di bahu Chezy. Pikirannya sedikit berantakan. Dia memiliki kesedihan juga sebagai manusia biasa. Terutama saat menyangkut kerabatnya sendiri.
Chezy menyadari jika Dallas belum mencukur janggutnya selama beberapa hari ini. Dia jarang mengajaknya minum di tempat sepi seperti ini.
“Apakah memikirkan keluarga Marweth?” tebaknya.
“Ya. Kakakku yang membunuh mereka,” jawab Dallas pelan.
“Lalu … jika kamu dan dia berhadapan dan saling membunuh, maukah kamu membunuhnya?”
Dallas terkekeh dan membuka kaleng kedua dan minum beberapa teguk. Dia melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemejanya.
“Jika itu demi keamanan negara, maka … bunuh saja. Bahkan jika dia ditangkap, Bukankah masih akan diberi hukuman mati?”
Chezy tidak berbicara lagi. Dia tahu suasana hati pria itu pasti tidak baik saat ini. Selama beberapa bulan bergaul dengannya, Chezy belum pernah melihat sisi lain Dallas yang rapuh. Seberapa kuat dan dinginnya Dallas, hatinya juga tidak terbuat dari batu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa ikut campur dalam masalah emosional mu. Bagaimana jika di masa depan, aku dan kamu menjadi musuh?" Chezy sedikit bercanda dengannya.
"Bagaimana menurutmu?" Dallas sedikit tertarik.
Meski tidak mungkin bagi dirinya dan Chezy menjadi musuh, tapi siapa yang tahu takdir tuhan?
Chezy sedikit tersenyum dan meneguk kaleng bir lagi. "Kalau begitu jangan ragu, bunuh aku. Karena pasti, itu tidak baik."
Dallas tiba-tiba saja memeluknya begitu erat dan memberikan ciuman di lehernya. "Tidak akan ada hari seperti itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mabuk bersama sebelumnya, Chezy dan Dallas kembali ke rumah untuk istirahat. Para pembunuh berantai itu bersembunyi untuk saat ini karena pasukan tim anti teror telah turun tangan.
Belum lagi Chezy meledakkan markas utama Rogers, ada butuh banyak waktu bagi pria tua itu membuat persiapan kembali. Tidak tahu apakah sekarang masih ada di negara ini atau tidak.
Dallas fokus dengan laptopnya, mengecek beberapa pembaruan terkini di pangkalan militer. "Tidak. Orang-orangku akan segera memberi kabar jika melihat mereka."
"Itu bagus. Aku juga tidak bisa menghubungi mereka saat ini. Aku khawatir mereka disandera," katanya.
Jika Marine dan Hadwin disandera, maka mau tidak mau, Chezy harus turun tangan sendiri dan bernegosiasi lebih dulu. Atau memanggil bantuan organisasi. Meski dalam misi, kemungkinan meninggal di tangan musuh sangat besar, tapi apa salahnya berusaha.
Chezy telah menjadi rekan keduanya sejak lama dan mengalami banyak hal bersama-sama. Jika mereka tidak selamat dalam misi kali ini, dia bisa dianggap gagal sebagai ketua.
__ADS_1
Dallas menutup laptopnya dan menghampiri wanita itu, menepuk kepalanya dengan ringan. "Jangan khawatir, orang-orang ku akan membantu mereka jika dalam bahaya."
"Ini kerja keras," timpal Chezy langsung tersenyum, mengesampingkan masalah itu lebih dulu.
Keduanya segera makan malam sambil membicarakan beberapa hal ringan.
......................
Pada keesokan harinya, suasana sedikit mereda. Kelompok pembunuh berantai sepertinya bersembunyi lebih dulu saat ini dan Rogers diketahui berada di negara tetangga setelah berhasil melarikan diri bersama anak buahnya.
Miley sibuk di markas, begitu juga dengan Dallas di ruang bawah tanah.
Hingga saat pemakaman keluarga Marweth dilangsungkan sore hari, Dallas mengajak Chezy untuk menghadirinya sebagai penghormatan terakhir.
Meski keluarga Marweth telah banyak melakukan kesalahan, tapi persahabatan dengan keluarga Alston masih ada. Yang paling bersedih saat ini tentu saja Nyonya Alston yang juga ada di tempat pemakaman bersama beberapa anggota keluarga Remar lainnya.
Nyonya Alston menangis begitu banyak dan mengingat hari-hari nya bersama Nyonya Marweth saat masih muda.
Tiba-tiba saja ibu mendiang Nyonya Marweth menatap Nyonya Alston dengan nanar dan penuh kebencian.
"Jika bukan karena anakmu yang menjadi penjahat, putriku tidak akan menjadi mayat! Kamu adalah sahabatnya. Cucuku adalah calon menantu mu pada awalnya! Lalu kenapa menjadi seperti sekarang? Kenapa anakmu membunuh putriku yang malang!" Suara serak ibu mendiang Nyonya Marweth tampak akan terputus kapan saja.
Anggota keluarga Nyonya Marweth yang tersisa juga sangat sedih dan menyalahkan semuanya pada keluarga Alston.
__ADS_1
Nyonya Alston menggelengkan kepala dan meminta maaf pada mereka dengan tulus. Dia juga tahu ini salah putranya. Dan dia tidak tahu kenapa putranya menjadi seorang pembunuh seperti ini.
Persahabatan keluarga Alston dan keluarga Marweth pecah tak terkecuali dengan keluarga besar Nyonya Marweth sendiri. Meski Nyonya Marweth bukan dari kalangan bangsawan atas yang menonjol, tapi citranya sangat baik semasa hidupnya.