
Dallas mendengkus saat melihat kedua anak laki-laki itu memasang ekspresi cemberut. "Laki-laki harus mandiri dan merasakan perjuangannya sendiri. Kalian bukan anak perempuan yang harus dimanja," ujarnya.
Tak lama, Diana yang ada di sampingnya tersenyum. "Ayah!" panggilnya sangat manis.
Dallas mengubah eskpresi dinginnya menjadi berbunga saat ini. Dan kehangatan meluap di matanya.
"Masih putri ayah yang cantik, layak dimanjakan," ucapnya.
"..." Si kembar yang duduk seberang mereka berpikir, apakah kamu adalah ayah tiri kami?
Chezy hanya memelototi Dallas, sedikit kesal. "Biarkan Diana makan sendiri. Itu bagus untuk tumbuh kembang otaknya."
"Oh." Dallas enggan tapi masih setuju dengan alasannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anak mulai tumbuh perlahan. Berat badan bertambah, tinggi badan bertambah hingga pola pikir juga berkembang lebih luas.
Selama beberapa tahun terakhir ini, Egan dan Edrick jarang terlihat di rumah. Mereka sudah memasuki masa SMP lalu SMA. Tanpa terasa, Chezy dan Dallas telah menjadi orang tua yang akan menua seiring bertambahnya usia.
Setelah lulus SMA, Egan pergi untuk menjalani ujian seleksi ketentaraan. Sedangkan Edrick sibuk kuliah untuk mewarisi bisnis keluarga. Adapun Diana yang kini juga tumbuh menjadi gadis yang cantik, sibuk dengan sekolahnya sendiri.
Semuanya berlalu begitu cepat hingga beberapa tahun telah berlalu lagi.
Menjelang akhir tahun, natal dan tahun baru akan segera tiba. Musim dingin di Negara A cukup ekstrem hingga jalanan dan kendaraan yang terparkir sering diselimuti oleh salju tebal.
Di perusahaan Alston Group, seorang pria jangkung beriris mata kecoklatan keluar dari gedung perusahaan dan menuju mobilnya. Sikapnya acuh tak acuh, ekspresinya datar dan asisten yang berada di belakangnya sedikit kedinginan.
__ADS_1
Sebelum memasuki mobil, pria itu mendapatkan panggilan telepon dari ibunya.
"Bu, apakah ada sesuatu?" tanyanya malas.
"Edrick, jika kamu masih memiliki ibumu di hatimu, maka pulanglah malam ini dan makan malam bersama. Beberapa teman ayah dan ibu akan datang bersama anak-anak mereka untuk reuni. Pokoknya kamu harus datang!" Suara wanita paruh baya di seberang telepon terdengar nyaring.
Pria itu, Edrick, kini berusia 25 tahun. Sosoknya yang memiliki beberapa poin kemiripan dengan Dallas membuat orang di perusahaan serasa melihat bayangan CEO sebelumnya.
Edrick tidak berdaya. Dia melihat pergelangan tangan kirinya. Sebuah jam tangan mewah elegan baru saja menunjukkan pukul empat sore.
"Bu, aku tahu. Aku akan pulang." Dia mengalah.
Di belakangnya, sang asisten menghela napas. Benar saja, hanya seorang ibu yang masih bisa meluluhkan hati Bos, batinnya.
"Jangan lupa, jemput adikmu di toko bunga milik paman Kallen." Suara Chezy terdengar lagi.
"Aku tahu," katanya.
Setelah mengakhiri panggilan, Edrick dan asistennya pergi ke toko bunga yang dimaksud untuk menjemput adik perempuannya, Diana.
Setibanya di toko bunga besar yang terlihat elegan, deretan bunga terjajar rapi di dalam toko. Karena ini musim dingin, semua bunga potong atau tanaman bunga dalam pot benar-benar dirawat secara ekstra di dalam ruangan.
Edrick keluar dari mobil dan menuju toko bunga yang masih buka. Tidak ada pelanggan saat ini tapi ada dua orang sedang berbicara ramah di dalam ruangan.
Edrick mengenali gadis itu, tak lain adalah adiknya sendiri.
"Diana," panggilnya.
__ADS_1
Gadis berpakaian musim dingin itu tertegun dan mau tak mau menoleh. Melihat sosok yang akrab dipanggil kakak ketiga, dia sedikit khawatir. Mungkinkah kakaknya datang untuk memaksanya pulang lagi?
"Kak Edrick, kenapa kamu di sini?" tanyanya.
Diana masih kuliah saat ini namun sesekali akan datang ke toko bunga dan bicara dengan anak pemilik toko bunga. Dia dan anak pemilik toko bunga merupakan mahasiswa sekampus.
"Ibu memintaku untuk menjemputmu. Ayo pulang," jawab Edrick masih sedingin biasanya.
Diana sedikit tidak senang. Namun mengingat dirinya sudah di sini cukup lama, ibunya mungkin khawatir.
Laki-laki yang hampir seusia dengan Diana tersenyum dan meletakkan pot bunga potong di atas meja. Dia terlihat seperti laki-laki yang lembut dan perhatian.
"Pulanglah, kita bicara lain waktu. Aku juga akan segera tutup toko," kata Alex. Lalu dia menyapa Edrick dengan sopan. "Tuan Ketiga."
"Ya." Edrick tidak banyak berekspresi.
Alex Parker adalah anak dari Kallen Parker. Dia berwajah Asia, tubuhnya tinggi selayaknya remaja pada usianya. Tampaknya hubungan Diana dan Alex sedikit lebih dekat dari pada hari-hari biasanya.
Mau tidak mau, Diana mengucapkan sampai jumpa pada Alex dan mengikuti Edrick untuk pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Dallas saat ini, suasana malam hari sangat meriah. Banyak orang berkumpul, terutama Chezy yang sedang berbicara dengan Marine dan Jessie. Ketiganya sudah menjadi seorang ibu dan anak-anak telah tumbuh dewasa.
Sedangkan Dallas, Hadwin, Arran dan Miley memiliki topik yang berbeda sebagai seorang pria. Anak-anak yang dibawa juga sibuk dengan perkenalan masing-masing.
Tak lama, Edrick dan Diana kembali.
__ADS_1