
Chezy kembali fokus pada pembicaraan sebelumnya. "Kedatangan Tuan Kutt pasti bukan hanya untuk mengantarkan surat pemberitahuan ini saja 'kan?" tanyanya sopan.
"Nyonya benar. Sebenarnya, aku berniat untuk menjadikan Efrain sebagai muridku. Jika tidak keberatan, Nyonya mungkin bisa memikirkannya." Tuan Kutt sudah memikirkan ini sebelum datang ke Negara A. Dia tertarik menjadikan Efrain sebagai muridnya.
Semakin bertambah usia, Tuan Kutt tidak tahu kapan akan kembali ke tanah. Jadi dia ingin memiliki murid yang bisa mewarisi kemampuannya di masa depan.
"Itu artinya, putraku harus tinggal di Negara F?"
"Jika tidak ada halangan, ya. Lebih nyaman tinggal denganku di sana."
"Tapi Efrain masih sekolah saat ini dan merupakan salah satu murid cerdas di sekolah. Meski usianya baru tujuh tahun, ketiga putraku berada di kelas lima saat ini. Aku khawatir sistem pembelajaran di sana tidak cocok untuknya," jelas Chezy juga serius.
Tuan Kutt merasa ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan. Jadi dia minum teh lebih dulu. "Masalah ini jangan khawatir ... Pendidikan di Negara F juga bagus. Aku jamin tidak akan ada yang salah dengan pendidikannya."
"Kalau begitu aku harus bertanya dulu pada Efrain. Jika dia mau, maka aku mungkin tidak akan melarangnya. Hanya saja ... Suamiku belum tentu setuju," ujarnya.
"Tidak, tidak masalah. Jangan terlalu mendesak. Aku akan berlibur di negara ini selama sebulan, jadi bisa dipikirkan baik-baik." Tuan Kutt tahu Dallas bukan vegetarian dan cintanya terhadap anak-anak pasti tidak kecil.
Setelah berbincang selama setelah jam, Tuan Kutt akhirnya meninggalkan rumah Dallas dan kembali ke hotel untuk beristirahat.
Sementara Chezy pergi ke lantai atas dan melihat jika Efrain sedang melukis lagi.
__ADS_1
"Bu, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Efrain antusias.
"Ya, tidak apa-apa. Tuan Kutt ingin menjadikanmu murid tertutupnya. Apakah Efrain mau atau tidak?" tanya Chezy langsung. Semua putranya cerdas, tidak perlu bertele-tele dengan mereka.
"Murid? Maksudnya, aku mengikuti tuan Kutt ke Negara F untuk kelas melukis?"
"Ya. Dia ingin menjadikanmu pewaris generasi baru."
"Bu, bisakah aku pergi?"
Chezy tersenyum licik dan dia tahu putranya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Apakah kamu ingin pergi dan berguru padanya?"
"Tidak bisakah?" Efrain mengerutkan kening.
Efrain berpikir sebentar dan tahu. "Bu, ayah bilang laki-laki harus mandiri dan menemukan jati dirinya sendiri. Laki-laki tidak boleh bergantung pada pohon keluarga sepanjang waktu. Aku ingin mandiri dan menghasilkan uang untuk membeli mobil mewah dan mendapatkan pacar saat aku besar nanti," jelasnya agak lucu dan kekanak-kanakan.
Mendengar ini, Chezy tertawa marah dan mencubit hidung anak laki-laki di depannya. "Siapa yang mengajarimu kata-kata seperti itu? Apakah ayahmu?"
Efrain sedikit bersalah dan pura-pura tidak tahu. "Teman sekelas ku menyukai salah seorang anak perempuan di sekolah. Dia bilang ingin menjadi pacar anak perempuan itu."
"Oh, jangan berpikiran bengkok sepanjang waktu. Lihatlah berapa usiamu?! Jika ayahmu tahu ini, dia akan menampar pantat mu lagi." Chezy kesal. "Masalah ini, bicarakan dengan ayahmu nanti."
__ADS_1
"Okay, aku akan menelepon ayah lagi." Efrain patuh.
Ketika Dallas pulang pada malam harinya, masalah tentang Efrain dibicarakan lagi. Chezy tidak keberatan jika anak itu ingin berguru pada Tuan Kutt. Namun rupanya Dallas masih memiliki beberapa keraguan di hatinya.
Dallas akhirnya menemui Tuan Kutt di hotel tempat pria tua itu bermalam dan membicarakan beberapa hal penting tentang Efrain.
Tuan Kutt tidak keberatan dan secara alami akan mengurus semuanya dengan baik.
Pada akhirnya, Efrain bersedia menjadi murid Tuan Kutt dan kembali ke Negara F seminggu kemudian. Transfer sekolah Efrain diurus pada saat itu juga.
Kini, hanya Egan dan Edrick di rumah.
"Apakah Efrain akan nyaman tinggal di sana? Tidakkah dia akan mengompol saat tidur atau berguling ke lantai ketika bermimpi?" Egan sedikit merasa kosong saat ini. Tidak ada sosok Efrain yang akan dilihatnya di sekolah atau pun di rumah.
Semua kebutuhan melukis juga tidak ada di rumah lagi. Efrain membawa semuanya ke Negara F kemarin.
"Aku tidak tahu. Dia pergi dengan bahagia, tentu saja tidak akan menangis." Edrick tampak acuh tak acuh.
Sat ini keluarga kecil Dallas sedang makan malam. Chezy duduk di samping Dallas dengan Diana di tengah-tengah keduanya. Gadis kecil itu juga sedang makan saat ini, Dallas yang sesekali menyuapinya.
Mendengar si kembar mengoceh sepanjang malam, Dallas dan Chezy tidak melarangnya. Efrain tidak ada, tentu saja keduanya merasa tidak nyaman untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Jangan khawatir, dia akan melakukan panggilan telepon atau panggilan video. Dan dia akan pulang setiap libur semester dan tahun baru. Kalian juga harus bekerja keras." Chezy menghibur mereka.