Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Identitas Chezy Terbongkar


__ADS_3

Terdengar tawa renyah dari seberang telepon. "Syukurlah kalau kamu masih aman dan sehat. Jika tidak, bagaimana bisa cucuku hidup di sana," ujarnya. "Kenapa meneleponku?"


Akhirnya Kakek Alston bisa berkata dengan serius. "Aku khawatir cucu perempuanmu telah diketahui oleh orang-orang itu. Kamu tahu ... Rogers adalah musuh lamaku. Bukankah kamu bilang Chezy ini pernah mengebom markas Rogers sebelum kelompoknya melarikan diri ke Negara A?"


"Itu memang benar. Jika Rogers tahu, maka biarlah tahu. Cucuku cepat atau lambat akan menunjukkan batang hidungnya. Apakah kamu khawatir akan mengancam nyawa cucumu itu?"


"Dallas bahkan lebih keras kepala. Apakah kamu tahu identitas Dallas?"


"Tentu saja. Bukankah dia seorang bos perdagangan senjata api militer yang berteman dengan playboy Miley itu? Aku tahu, informan ku tidak selemah milikmu," jawab Kakek Edelmar.


"..." Apakah aku berhutang nyawa di kehidupan sebelumnya padamu? Batin Kakek Alston.


Apa yang tidak diketahui oleh Kakek Edelmar selama ini? Sepertinya ... jarang sekali.


"Apakah kamu punya rencana?"


"Cucuku terlibat dalam organisasi rahasia. Seberapa inginnya aku membantu dia, tidak bisa melanggar aturan organisasi. Jika mendesak, tentu saja aku akan membantu. Apakah militer negaramu begitu lemah? Haruskah aku meminta orang-orang ku turun tangan?" Suara Kakek Edelmar tampak sombong.


"Tidak perlu! Negaraku masih mampu! Jika tidak, bagaimana bisa cucuku menculik cuucmu dengan sukses?!" Tuan Alston tersulut oleh emosi tapi tidak sungguh-sungguh, hanya candaan di antara pria tua.


Setelah itu, dia mengakhiri panggilan secara sepihak tanpa perlu menunggu Kakek Edelmar menjelaskan lebih jauh.


Melihat layar ponselnya hitam, Kakek Alston masih bergumam. "Pria tua itu jelas menuduhku terlalu santai!"

__ADS_1


Nyonya Alston sedikit tidak senang. "Kenapa Ayah tidak memberitahu ku sebelumnya jika Chezy adalah anak kerabat raja Negara K?"


"Kenapa? Apakah kamu akan mengubah sikapmu jika tahu dia anak orang kaya dengan status terpandang?" cibir Kakek Alston.


"Tidak, bukan seperti itu ... Hanya saja ..." Nyonya Alston bingung sekarang. "Bukankah dia hanya sekolah biasa sebelumnya? Apakah itu hanya bohong?"


"Tentu saja bohong. Sebagai seorang agen rahasia, apa yang harus dikatakan pada orang lain? Dia tidak sekolah formal tapi otaknya encer dan lebih cerdas daripada Sonya yang kamu puji-puji itu! Jangan mengatakan semua ke luar saat ini, tetaplah di rumah dan tutup mulutmu jika ingin keluarga Remar tetap aman!" Kakek Alston tanpa sengaja mengancamnya.


Nyonya Alston segera menggelengkan kepala dengan panik. "Tidak, tidak! Aku tidak akan bicara omong kosong!"


Dia tidak berani. Keluarga Remar adalah tempat terakhir dia berlindung jika suatu hari nanti terjadi sesuatu. Bagaimanapun, dia nasihat wotang anak perempuan yang dimanja semasa mudanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruang rawat VIP itu kosong dan semuanya tampak rapi. Para pria berpakaian serba hitam itu akhirnya kesal dan menelepon Gaines.


"Bos, Dallas dan wanita itu tidak ada di rumah sakit!" lapornya geram.


"Sudah kuduga. Cepat pergi dan ledakan tempat itu. Jangan sampai tertangkap!"


"Tapi ... ada banyak pasien di rumah sakit. Apakah harus—"


"Ada apa? Berbelas kasihan?" Suara Gaines sedikit kejam.

__ADS_1


Anak buah itu menggelengkan kepala. "Tidak, tidak! Kami akan segera melakukannya."


Setelah itu, mereka meninggalkan rumah sakit setelah memasang beberapa bom di beberapa ruangan. Semua orang berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri sebelum ruang sakit meledak.


Suara sirine mobil posisi terdengar. Bahkan mobil militer juga tiba.


Salah satu anak buah Gaines memberi kode para rekan-rekannya yang lain untuk keluar secepat mungkin dari pintu belakang.


"Kenapa kamu begitu lambat memasang bomnya? Bos berkata untuk segera meninggalkan tempat ini setelah mengebom rumah sakit," ujar rekannya sedikit tidak puas.


"Menjadi seorang pembunuh mungkin adalah pekerjaanku, tapi hati nurani ku masih ada. Aku hanya ingin mereka pergi dan mengurangi korban jiwa," jelasnya. Dia benar tentang ini, rasanya sedikit tidak manusiawi. Tapi dirinya adalah seorang pembunuh berantai. Banyak nyawa melayang di tangannya.


"Okay, jangan khawatir. Aku tidak akan bilang ini pada bos." Rekannya juga telah mengalami banyak perjuangan dengannya.


Setelah meninggalkan rumah sakit, mereka menekan tombol pengendali dan seketika, beberapa bagian rumah sakit meledak hebat. Banyak jeritan orang-orang di sekitar sana dan masih banyak yang terjebak juga.


Terutama yang masih berada di lantai atas rumah sakit.


Kepolisian ibu kota mengira jika suasana menjadi lebih menegangkan. Mereka segera menghubungi markas pusat untuk meminta bantuan.


Prajurit anti teror Negara A segera bergegas dan mencari sekitar dengan cekatan. Tapi merasa telah kehilangan jejak. Para pelaku sudah melarikan diri dan berpencar untuk mengelabui pihak berwenang.


Berita rumah sakit terbesar di ibu kota yang diserang oleh pembunuh berantai pun segera menjadi topik hangat stasiun televisi.

__ADS_1


__ADS_2