
Chezy baru saja datang pagi tadi dan istirahat sebentar di hotel selama setengah hari. Mengetahui jika Dallas berada di kantor cabang, dia pun pergi. Karena orang-orang di kantor cabang tidak mengenalinya, Chezy hanya bisa menggunakan kartu identitas khususnya agar bisa diizinkan masuk. Sebenarnya dia ingin memberikan kejutan.
Siapa yang tahu saat datang, Dallas justru sedang menyikut perut sekretarisnya hingga terjatuh. Dia menyadari jika wanita lain sedang merayu pria itu dan ditolak.
Mendapati Chezy datang, Dallas dalam suasana hati yang baik saat ini dan meminta Asisten Jill untuk membawa sekretarisnya keluar dan pergi ke ruang personalia. Mulai hari ini, sekretarisnya dipecat tanpa adanya gaji terakhir.
Dallas bangkit dan menghampiri wanita itu, merangkul pinggangnya dan memberikan ciuman yang cukup sengit. Di kantor hanya ada mereka berdua saat ini. Setelah misi berakhir Chezy tidak lagi berpura-pura menjadi wanita miskin yang tidak bisa membeli tas bermerk.
“Kamu akhirnya di sini,” bisik Dallas penuh kerinduan.
“Tentu saja, aku di sini untuk memenuhi pernikahan kontrak kita yang belum berakhir. Bukankah masih tersisa satu bulan lebih sedikit?” Chezy menimpalinya dengan enteng. “Aku sedang berpikir saat ini. Menurutmu, apa yang harus kulakukan?” tanyanya pura-pura bingung.
“Ada apa?” Dallas menyipitkan mata.
Chezy menghela napas tidak suka. “Aku hamil anakmu. Haruskah aku menggugurkannya setelah kontrak pernikahan kita berakhir?” tanyanya dengan santai.
Dallas tertegun cukup lama. Tanpa sadar, tangannya yang berada di pinggang wanita itu sedikit mengencang. Dia memiliki sedikit keyakinan. Jantungnya berdegup kencang. Dia mencoba menenangkan diri.
"Menggugurkannya? Istriku, anakku tidak mungkin mudah digugurkan begitu saja. Karena kamu mengandung keturunanku, maka lahirkan ke dunia," jelasnya.
__ADS_1
Jika Chezy hamil, maka itu bagus. Dia akan menjadi seorang ayah. Wanita itu tidak akan bisa melarikan diri dari genggaman tangannya. Bagaimana pun juga, keluarga Edelmar tidak akan membiarkan Chezy menggugurkan kandungan begitu saja.
Dallas memeluknya sedikit erat. "Chezy, mari hidup bersama sebagai pasangan asli. Maukah kamu?" bisiknya.
Chezy membalas pelukannya dengan sebelah tangan. "Tergantung kemampuanmu," jawabnya.
"Aku pasti mampu. Sudah berapa lama masa kehamilan mu?"
"Ini lebih dari satu bulan. Aku tidak merasakan gejala-gejala ibu hamil pada umumnya, jadi tidak ada masalah. Tubuhku sudah kuat sejak awal," jelasnya. Meski begitu, ibunya berkata dia hampir keguguran ketika koma sebelumnya.
"Mulai sekarang jangan melakukan aktivitas berat. Tahukah kamu?" Dallas menyipitkan mata. Dia sedikit gugup. Dia harus pulang dan bertanya pada ibunya tentang ibu hamil.
"Bagus!" Dallas bisa lega.
Keduanya berbicara di kantor selama berjam-jam. Dallas menyingkir pekerjaannya lebih dulu dan mengajak wanita itu ke berbagai tempat. Namun karena Chezy sedang hamil, Dallas sedikit lebih protektif daripada sebelumnya.
Mereka pergi ke supermarket dan membeli beberapa produk kebutuhan ibu hamil. Dallas tidak tahu menahu tentang masalah ini tapi Chezy mengerti. Dia selalu meminum susu khusus untuk ibu hamil selama masa pemulihan di rumah.
"Sudahkah kamu mengeceknya ke dokter?"
__ADS_1
Chezy menggelengkan kepala. “Ibuku adalah dokter. Meski dia bukan dokter kandungan, tapi dia masih memiliki kemampuan untuk memeriksa ibu hamil. Dia berkata aku stabil sekarang. Hanya saja memang harus dicek ke dokter kandungan di masa depan,” jawabnya datar.
“Mari kita periksa lain waktu.”
“Yah, tidak perlu terburu-buru,” katanya.
Entah kenapa Chezy merasa jika Dallas sedikit gugup dan khawatir saat ini. Dia memilih semua kebutuhannya tanpa pandang bulu bahkan tanpa ragu bertanya pada wanita hamil beberapa bulan yang sedang membayar belanjaan di meja kasir.
Chezy merasa malu dan mengira jika Dallas berlebihan. Dia segera menarik pria itu menjauh.
“Bisakah kamu tidak sembarangan bicara? Tidak perlu sampai seperti itu juga,” bisiknya.
Dallas terbatuk tidak nyaman dan menyadari jika tindakannya sedikit tidak seperti temperamennya. dia hanya tersenyum dan merangkulnya seperti pasangan muda yang baru saja menikah. Wanita hamil yang tadi ditanyai Dallas akhirnya mengerti. Ternyata istrinya sedang hamil muda. Wanita itu hanya tersenyum malu-malu dan pergi dengan suaminya.
Setelah berbelanja, Dallas membawa Chezy pulang ke rumah utama keluarga Alston lebih dulu untuk memberikan kabar ini pada ibunya.
“Jangan khawatir, ibu tidak akan menolak hubungan kita lagi. Setelah dia bersedih dan mengurung diri akibat kepergian kakak, sikapnya menjadi lebih toleran dan tidak berpakaian terlalu berlebihan. Dia menjadi nyonya yang jujur di rumah,” jelas pria itu seraya menyetir. “Jika mau masih tidak menyukai ibu, aku tidak akan memintamu untuk memaafkannya. Tapi jangan terlalu kasar padanya di masa depan, dia tidak akan keberatan,” imbuhnya.
Chezy menggelengkan kepala. “Aku tidak pernah menganggapnya serius sejak awal. Waktu itu aku berpura-pura miskin dan bahkan hanya karena perjanjian kita. Dia tidak menyukai atau tidak, aku tidak peduli. Aku tidak pernah kekurangan apapun.”
__ADS_1