Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Kehidupan Triplet E, Edrick Alston (Extra 3)


__ADS_3

Tidak ada yang bisa membayangkan jika situasinya akan menjadi seperti ini.


Setelah berciuman, pria itu menatap gadis di bawahnya dengan rasa candu yang kuat. "Selama kamu menjadi sekretaris pribadi ku, tugas kuliahmu menjadi magang tidak lagi sulit."


Marissa yang masih tidak percaya akan dicium oleh Edrick merasa buruk. "Meski aku sedang mencari pekerjaan untuk magang, aku tidak mau menerima aturan tersembunyi dari atasan. Aku ingin melakukannya dengan kemampuanku sendiri."


"Ini berbeda." Edrick tersenyum aneh. "Ini bukan aturan tersembunyi, tapi aku sudah menginginkannya sejak lama. Marissa .... Aku sudah menunggumu sejak lama," bisiknya agak serak.


"..??!" Marissa tidak mengerti. Apa artinya semua ini?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada keesokan paginya, Marine berteriak marah di ambang pintu kamar Edrick sambil memaki Chezy. Suaranya menggema hampir di seluruh ruangan dan beberapa orang yang menginap di rumah Dallas terganggu secara alami.


Sebagian dari mereka bahkan masih tidur pulas. Ini masih pukul enam pagi.


"Ahh!! Chezy! Putramu benar-benar baji*gan! Beraninya memperkosa putriku!" Marine melihat situasi di kamar Edrick, hatinya berdarah tanpa adanya luka.


Di dalam kamar, Marissa yang berada di pelukan Edrick tanpa selesai pakaian langsung terbangun akibat teriakan ibunya. Dia sedikit takut dan khawatir ayah dan ibunya akan marah karena masalah ini.


Edrick juga terbangunkan oleh teriakan itu dan sepertinya sudah menebak apa masalahnya. Dia melihat jika Marisa sedikit pucat di sampingnya.


"Jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja," katanya menenangkan.

__ADS_1


Semalam, Edrick mengambil langkah berani untuk meniduri gadis itu. Dia acuh tak acuh di hari kerja dan jarang menunjukkan ekspresinya untuk suatu keinginan. Tapi sebenarnya dia sudah diam-diam memperhatikan Marissa selama beberapa tahun terakhir.


Karena waktu itu Marissa masih di bawah umur dan fokus dengan masa belajarnya, maka Edrick tidak mengambil langkah dulu agar tidak menganggu konsentrasinya.


Tak lama, Chezy keluar dari kamarnya dan diikuti Dallas.


"Marine, kamu masih memiliki suara yang bagus meski usia tidak lagi muda. Lihatlah garis halus di wajahmu semakin jelas. Kenapa berteriak di pagi hari seperti ini?" Chezy kesal. Dia memakai baju tidur satin yang memiliki warna senada dengan milik Dallas.


Marine hampir mati kehabisan napas. "Apa? Tentu saja putra ketigamu yang brengs*k! Lihatlah, kepolosan putriku hilang!" timpalnya marah.


Hadwin juga keluar kamar tamu dan menenangkan istrinya. "Baiklah, kenapa marah? Anak-anak sudah dewasa dan mereka memiliki pikirannya sendiri."


Dia melihat putrinya berada di ranjang yang sama dengan Edrick. Tidak banyak kejutan. Baguslah juga putrinya ada di tangan anak itu, ini lebih menjanjikan, batinnya.


"..." Hadwin terdiam. Memprovokasi harimau betina ini lebih buruk daripada omelan atasannya.


Edrick turun dari tempat tidur. Dia bertelanjang dada dan memakai celana pendek selutut. Chezy melihat putra ketiganya mengambil inisiatif untuk Marissa, hatinya lebih bahagia. Dia sama sekali tidak marah dan tersenyum pada Edrick dengan penuh penghargaan di wajahnya.


"Putraku bekerja keras. Ingatlah untuk membawa buku nikah di masa depan. Menantuku tidak bisa dirugikan," katanya.


"..." Marine tahu jika Chezy selalu ingin menjadikan putrinya sebagai menantu. Dia marah tapi tidak berani protes. Nasi sudah jadi bubur, apa yang harus disangkal lagi?


Edrick sudah menebaknya dari awal hingga akhir dan mengambil kata-kata baik ibunya. "Ibu yang terbaik. Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab untuk Marissa."

__ADS_1


"Bagus. Jangan seperti ayahmu di masa lalu, mulutnya pedas dan hatinya munafik!" Chezy tak sengaja melirik Dallas yang terlihat polos di samping Hadwin.


"..." Dallas mengerutkan kening. Tidak suka dengan kata-kata istrinya tapi itu fakta. Dia tak bisa menyangkalnya.


Putranya mewarisi gen nya sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu.


Sementara Marissa sudah seperti udang yang dikukus, wajahnya panas. Dia tidak menyangka jika semuanya akan berkembang seperti ini.


Berita tentang Edrick dan Marissa yang telah mengambil malam bersama di kamar langsung membuat Egan dan Efrain tersedak salivanya sendiri. Namun Diana sangat bahagia hari ini dan rencananya berhasil.


Beberapa hari kemudian, natal dan tahun baru tiba. Dallas membawa istri dan anak-anaknya ke rumah tua Alston untuk merayakannya bersama Nyonya Alston dan Tuan Alston. Orangtuanya kini telah menjadi kakek dan nenek.


Sebelum masuk mobil menuju rumah tua Alston, Edrick memberikan kartu hitam pada Diana.


"Kakak, apa ini?" tanyanya bingung. Meski dia dimanjakan, ayah dan ibunya selalu ketat dengan pengeluaran. Diana tidak bisa boros uang.


Edrick mengacak kepala adiknya dan tersenyum. "Hadiah atas kerja kerasmu. Belilah sesuatu yang kamu inginkan. Jangan khawatir ayah dan ibu akan menyitanya. Ini uang saudaramu."


"..." Diana tidak menyangka jika kakaknya akan tahu tentang rencana melemparkan Marissa ke tempat tidurnya.


"Kalau begitu ... terima kasih saudaraku," kata Diana agak tidak terduga.


...****************...

__ADS_1


NB: Novel terbaru Author yang berjudul The Blind Wife Of Fortune telah hadir untuk menemani pembaca di bulan ini. Jangan lupa ditengok juga, ya. Selamat menyambut bulan suci Ramadhan.


__ADS_2