
Di apartemen, Marine dan Hadwin telah berpakaian lengkap saat ini. Keduanya melihat berita di televisi sambil menunggu kabar dari Chezy. Wanita itu pergi sendiri ke markas para pembunuh bayaran untuk meledakkan sarang.
Terlalu berbahaya.
"Identitas Chezy jelas telah terbongkar. Ah, siapa yang menduga jika bosnya adalah Rogers Si Pria Tua jelek itu!" Marine kesal dan mematik televisi.
Hadwin mengerutkan kening. "Roger jelas tahu tentang Chezy. Lalu kenapa selalu ini tidak menyadarinya?"
"Mungkin terlalu meremehkan istri Dallas. Atau mungkin Gaines tidak peduli dan tidak menceritakannya. Siapa yang tahu. Anggap saja keberuntungan. Tinggal sepuluh bulan di sini, kita hidup nyaman tanpa teror mereka," jelasnya.
"Ini juga benar."
Tiba-tiba aja mereka waspada saat mendengar suara langkah kaki yang berantakan di luar. Lalu ada beberapa teriakan ketakutan dan tembakan. Hadwin bangkit dan melihat melalui jendela, beberapa.mobil Jeep terparkir sembarangan dan sekelompok pria bersenjata muncul.
Hadwin mendengkus. "Cepat berkemas dan pergi! Mereka menemukan kita!"
"Secepat itu?"
Marine tidak berdaya. Dia langsung berjalan cepat menuju lemari dan mengeluarkan koper hitam yang dikunci menghuni kata sandi suara.
Setelah membukanya, ada perlengkapan khusus di dalamnya. Dia memakai semua perlengkapan itu, mengantongi dua pistol di pinggang, belati serta beberapa jarum beracun yang masih belum pernah digunakan.
Hadwin sendiri mengeluarkan senjata laras panjangnya yang cukup berat, mengisi peluru. Lalu memakai sepatu boot hitam yang telah dilengkapi dengan senjata di ujungnya. Jadi ketiak menendang orang, dia bisa menekan senjata tersembunyi dan melukai lawan.
Tepat setelah itu, pintu apartemennya didobrak dan sekelompok pria berpakaian hitam berteriak pada mereka untuk memprovokasi.
Marine yang telah siap pun tersenyum main-main. "Sudah lama aku tidak mengalami hal-hal ini," gumamnya.
Akhirnya tembakan beruntun terdengar. Para pembunuh berantai itu jelas mendapatkan perintah untuk membunuh Marine dan Hadwin.
Hadwin bersembunyi sebentar dan mengambil bom asap dari tas kecil yang dibawanya, melemparkannya ke arah mereka. Seketika, asap segera memenuhi ruangan.
"Sialan! Bermain curang!" Salah satu pembunuh berantai marah dan menembaki semua benda di ruangan tersebut hingga penuh lubang.
__ADS_1
Dar dor!
Dar dor!
Tembakan beruntun terus terjadi.
Akhirnya Marine dan Hadwin kelaut dari persembunyiannya dan menentukan semua lokasi pembunuh berantai dengan akurat.
Marine segera menembak mereka dan membawa tas berusia laptop khusus di punggungnya.
"Ah!" Beberapa pembunuh berantai berhasil dilumpuhkan.
Marine dan Hadwin tidak bersantai. Setelah menembaki semua yang ada di ruangan, keduanya keluar.
Marine sedang mengisi peluru pistolnya lagi. "Lumayan. Ini cukup merepotkan. Bagaimana denganmu?"
"Tidak masalah. Hanya saja aku lebih suka menembak jarak jauh."
Beberapa pembunuh berantai menyusul dan menembak ke arah keduanya. Marine dan Hadwin pandai mengelak dan sepertinya sudah menganggap biasa semua tembakan itu.
"Dasar jala*g! Awas saja jika kamu jatuh ke tanganku! Aku pasti akan memperkosa mu dulu!" Salah satu dari mereka marah dan menegang senjata api laras panjangnya dengan penuh aura membunuh.
Hadwin tidak suka jika pria lain berani melecehkan kekasih dengan kata-kata kotor. Dia langsung menembaknya di tempat.
Pria yang baru saja berbicara kotor tentang Marine pun tewas di tempat.
"Itu mangsaku," ujar Marine kesal padanya.
"Dia memiliki niat buruk tentangmu. Bunuh saja!" Hadwin tidak berbelas kasihan.
"Kamu hanya cemburu!" Marine mengekspos pikiran kekasihnya.
Saat ini keduanya tidak bersantai dan berlari secepat mungkin keluar dari apartemen. Tapi dia setiap lorong pasti ada saja anggota pembunuh berantai yang mencoba untuk menembak keduanya.
__ADS_1
"Terlalu banyak!"
Hadwin tidak mau mengambil risiko. Dia lagi-lagi mengungkapkan bom asap untuk mengaburkan pandangan mereka. Lalu menarik Marine ke satu sisi. Kedua menggunakan belati untuk membunuh.
Belum sempat menuruni tangga darurat, sebuah ledakan terjadi. Marine dan Hadwin berpegangan dan mencoba menyeimbangkan tubuh. Ledakan itu terjadi di lantai atas apartemen dan puing-puing bangunan pasti akan runtuh.
Keduanya mengutuk para pembunuh berantai itu dan buru-buru meninggalkan apartemen sebelum bangunan tersebut ambruk.
Tidak tahu ada berapa banyak korban jiwa dalam pengeboman ini, namun dampaknya tidak kecil.
Sayangnya apartemen runtuh lebih cepat daripada yang keduanya kira.
"Bom bunuh diri!" Marine menggertakkan gigi.
"Jangan pedulikan itu. Kita harus segera keluar dengan selamat. Jika tidak ... Kita tamat!" Hadwin bernapas berat.
Keduanya tidak menuju pintu utama tetapi pergi ke salah satu ruangan yang cukup sempit. Hadwin menemukan sebuah jalan rahasia bawah tanah.
"Sejak kapan kamu menemukan ini?" Marine terkejut.
"Ada saluran air di bawah dan aku membuatnya sendiri saat sepi. Ini untuk digunakan selama keadaan darurat. Siapa yang tahu itu berhasil."
Keduanya memasuki saluran air bawah tanah dan menutupnya kembali agar tidak mudah ditemukan. Karena tidak berani bersantai, mereka berjalan cepat-cepat untuk menemukan jalan keluar.
Di sekitar apartemen yang sedang runtuh saat ini.
Sekelompok pembunuh berantai segera melarikan diri secepat mungkin saat suara mobil polisi dan pasukan khusus anti teror bergegas.
Salah satu dari pemimpin pembunuh berantai itu meludah dan tidak melihat adanya tanda-tanda dua agen rahasia yang dibicarakan oleh Gaines.
"Sial! Mereka mungkin melarikan diri dari jalan lain! Kembali dulu!"
Mereka benar-benar meninggalkan tempat itu tanpa memedulikan korban yang berjatuhan.
__ADS_1
Ketika pasukan khusus anti teror tiba, hanya ada kumpulan penghuni apartemen yang berhasil melarikan diri. Mereka segera diamankan oleh petugas.