Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Keluarga Marweth Berantakan


__ADS_3

Dallas menyipitkan mata. Ini memang aneh. Semalam Chezy dan Gaines makan malam hingga menghabiskan berjam-jam di luar. Dan baru pulang pukul sepuluh malam.


Lalu bagaimana bisa Gaines tiba-tiba ada di tempat tidur Sonya pagi ini?


Bisakah kakaknya memanjat dinding rumah dengan mudah tanpa ketahuan?


Ini aneh.


Semakin dipikir lagi, rasanya ada yang janggal.


"Sepertinya aku harus mencari tahu mulai sekarang. Istriku sepertinya menyimpan banyak rahasia ...," gumamnya. "Sama sepertiku."


Dallas memikirkan lantai tiga. Rahasia nya ada di lantai tiga dan ruang bawah tanah yang cukup tersembunyi.


Awalnya Dallas tidak terlalu mementingkan urusan Gaines atau Sonya. Tapi kali ini sepertinya ada yang janggal. Keluarga Marweth mungkin tidak setenang di permukaan?


Dallas segera menghubunginya Asisten Jill.


"Awasi Gaines dan Sonya. Lalu sebarkan berita jika Gaines bermalam dengan Sonya." Dallas mencibir dan mengakhiri panggilan telepon sebelum Asisten Jill tahu apa maksudnya.


Dallas meninggalkan rumah dan mengendarai mobilnya sendiri untuk berangkat ke tempat kerja. Namun yang tidak terduga, rumor Sonya dan Gaines sudah pecah di internet sebelum Asisten Jill melakukan tindakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di keluarga Marweth.


Nyonya Marweth yang pingsan akhirnya siuman setelah menghirup aroma minyak esensial. Dia berbaring di atas tempat tidurnya sendiri sambil menunjukkan ekspresi terkejut.


"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya panik.


Pelayan wanita paruh baya yang menemaninya pun menghela napas lega setelah Nyonya Marweth bangun.


"Nyonya pingsan sebelumnya."


"Pingsan?"

__ADS_1


Nyonya Marweth mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya pingsan. Lalu ekspresi wajahnya menjadi kejam.


"Di mana suamiku?" Nyonya Marweth yang telah menjernihkan pikirannya segera bangun dari tempat tidur dan pergi ke tempat di mana suaminya berada saat ini.


Menurut pelayan, Tuan Marweth sedang berbicara dengan Gaines dan Sonya. Nadanya sedikit buruk tapi tidak ada pertentangan.


Ketika Nyonya Marweth tak sengaja mendengar jika suaminya akan membiarkan Sonya menikahi Gaines, tentu saja tidak setuju.


"Tidak mungkin! Apakah kamu gila?" teriak Nyonya Marweth seraya membuka pintu ruang tamu.


Tiga orang yang ada di ruang tamu terkejut dan segera melihat Nyonya Marweth yang masih sedikit pucat.


Sonya melihat ibunya begitu frustasi, hatinya merasa tidak nyaman. Dia bangkit dan pergi ke sisi ibunya untuk menghibur.


Saat Tuan Marweth melihat istrinya datang, tentu saja ada sedikit ketidaksenangan. "Kenapa kamu di sini?"


"Kenapa tidak? Aku ini ibu Sonya, istrimu juga. Hal-hal besar seperti ini dibicarakan tanpa memberitahu diriku dulu. Apakah kamu masih menganggap ku sebagai istri?" teriak Nyonya Marweth tanpa memedulikan keberadaan Gaines sama sekali.


Melihat wajah Tuan Marweth sedikit buruk, Sonya yang sudah diracuni oleh banyak kata-kata pun mau tak mau membujuk ibunya untuk tenang.


Nyonya Marweth sama sekali tidak memperhatikannya, masih marah. "Baik-baik saja? Sepertinya kamu lupa bahwa Dallas adalah tunanganmu. Tapi kamu telah berselingkuh dengan calon kakak iparmu! Apakah kamu masih memiliki otak?!"


"Bu!" Sonya tidak menyangka jika ibunya bahkan tidak mengambil kata-katanya sama sekali.


Sonya sangat khawatir saat melihat Gaines saat ini. Pria kejam itu tidak akan memiliki rasa kasihan sama sekali.


Gaines dan ayahnya mungkin memiliki rahasia yang tidak pernah diberitahukan pada ibu dan dirinya. Sonya tidak mau ayah dan ibunya bertengkar karena masalah kecil ini.


"Jangan panggil aku! Apa yang harus aku katakan pada Letta tentang ini? Aku dan dia berteman baik sejak masih kuliah. Bagaimana bisa aku memiliki putri yang mempermainkan dua putranya?!"


"Bu ..." Sonya sungguh tidak berdaya. Jika biasanya dia pura-pura sedih dan takut, kali ini dia tidak berakting.


Tiba-tiba saja Tuan Marweth bangkit dan menampar wajah istrinya. Kata-kata wanita itu sudah tidak bisa dia diamkan begitu saja.


Nyonya Marweth berteriak kesakitan dan jatuh ke samping seraya menyentuh pipinya yang panas dan bersih akibat tamparan. Dia tertegun oleh tamparan itu.

__ADS_1


Suara Tuan Marweth akhir menggelegar di ruang tamu. "Cukup! Berhentilah bicara atau aku akan membunuhmu!"


Sonya bingung saat ini. Ayahnya terlihat sangat marah dan jelas sekali tidak peduli padanya atau ibu. Namun dia masih membantu ibunya untuk bangun.


"Bu, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya seraya menahan tangis saat melihat darah di sudut bibir ibunya.


Tamparan Tuan Marweth tidak lembut, hingga membuat Nyonya Marweth sendiri pusing.


Nyonya Marweth mengabaikan Sonya dan menatap suaminya dengan tidak percaya. "Kenapa kamu memukulku? Beraninya kamu memukulku? Kamu tidak pernah memukulku selama ini!" teriaknya.


"Aku hanya sedang pusing memikirkan masalah lain. Kamu jangan berteriak di depan Gaines. Betapa memalukannya. Lagi pula putri kita tidak menolak. Ini keinginan kedua anak muda itu," jelasnya.


Sonya yang dikatai seperti itu tidak bisa membantah untuk sementara waktu. Dia menatap ayahnya sesaat. Tapi yang dia dapatkan adalah tahapan kejam ayahnya. Dia tahu jika saat ini tidak ada ruang untuk membela diri.


"Bu, aku baik-baik saja. Ini aku dan Gaines yang sudah jatuh cinta sejak awal. Aku ... Aku hanya tidak suka berpura-pura ingin menikahi Dallas. Tapi ... Tapi karena persahabatan Ibu dengan bibi Letta, aku tidak punya pilihan lain selain ingin menikah dengan Dallas agar Ibu tidak sedih," tutur Sonya. Setiap kata yang dia ucapkan sangat berlainan dengan hatinya.


"Putriku ..." Nyonya Marweth tidak berdaya dan bingung harus merespons bagaimana.


Sementara Gaines mencibir diam-diam. Keluarga ini sungguh penuh drama. Suami yang tergila-gila akan kekuasaan, istri yang bodoh dan putri yang mudah dimanfaatkan. Keluarga Marweth memang cocok untuk dijadikan batu pijakan olehnya.


"Mari bicarakan ini baik-baik," kata Gaines masih memiliki ekspresi dan nada yang tidak marah ataupun senang.


Namun, sebelum Tuan Marweth duduk dan meminta maaf pada Gaines, ponselnya berbunyi. Panggilan dari asistennya membuat Tuan Marweth sedikit tidak senang.


"Ada apa?" tanyanya kesal.


"Tuan ... Tuan ... Ini gawat! Ada berita di internet menyebar dengan sangat cepat tentang rumor nona muda dan tuan pertama Alston," jawab asisten di seberang telepon.


"Apa katamu??! Berita apa? Katakan dengan jelas!" Tuan Marweth segera mengepalkan kedua tangannya.


Gaines ini mengerutkan kening. Sepertinya bukan masalah kecil.


"Ini ... Ada rumor di internet bahwa tuan muda Gaines dan nona Sonya bersenang-senang di tempat tidur. Saya akan kirim fotonya." Sang asisten yang ketakutan bahwa bosnya tidak percaya langsung mengirim foto.


Saat Tuan Marweth melihat foto tersebut, jantungnya seperti diremas sesuatu. Dia sulit untuk bernafas.

__ADS_1


"Sialan! Beraninya melawan keluarga Marweth!" Tuan Marweth membanting telepon ke lantai berkarpet bulu lembut hingga ponselnya tidak sampai pecah.


__ADS_2