Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Seperti Cat Woman


__ADS_3

Pemadaman listrik di gedung apartemen membuat para penghuni lainya tidak nyaman. Terutama bagi mereka yang sedang sibuk memasak atau melakukan aktivitas yang membutuhkan listrik.


Pada saat itu, sosok ramping keluar dari apartemen dengan gerakan yang ringan dan lihai. Sama sekali tidak menimbulkan suara.


Di apartemen, Hadwin menutup laptopnya setelah melakukan beberapa penguncian keamanan peretasannya.


"Berapa lama pemadaman ini akan berlangsung?" tanya Marine.


"Seharusnya sampai besok."


"Sangat lama? Bukankah mereka akan segera mengetahui penyebabnya?" Marine sudah memberikan pujian dalam hati.


"Tentu saja tidak. Ayo turun dan potong kabelnya."


"..." Kamu sangat licik! Batin Marine. Dia tidak jadi memujinya.


Marine mengikuti Hadwin sambil menyoroti jalan. Dia membuat alasan pada penjaga untuk pergi karena malam ini adalah jadian mereka yang ke sekian kalinya.


Penjaga apartemen melihat tas berisi kue dan beberapa perlengkapan lainnya, mereka kasihan. Hadwin pergi ke parkiran tapi sebenarnya dia diam-diam pergi ke ruangan khusus untuk memotong kabel sebelum akhirnya meninggalkan apartemen bersama Marine.


Penjaga apartemen yang melihat keduanya bertengkar sebelum memasuki mobil pun merasa tidak nyaman.


Sementara di sisi lain, Marine dan Hadwin tidak bertengkar lagi setelah meninggalkan halaman apartemen. Keduanya hanya berakting.


"Kabel mana yang kamu potong?" tanya Marine.


"Aku tidak tahu, potong saja semua."


"..." Apakah kamu pura-pura tidak pernah menyentuh pelajaran elektronika? Batinnya.


Mobil hitam mereka melaju ke arah di mana Chezy berada saat ini. Marine menghidupkan ponsel lipatnya yang terlihat jadul tapi sebenarnya memiliki perangkat canggih berupa GPS.


Chezy memasang pelacak pada tubuhnya sendiri sehingga keberadaannya bisa diketahui oleh Marine dan Hadwin.


"Dia benar-benar seperti cat woman, cepat sekali tiba di tujuan," pujinya.


"Dia tidak cepat, kita yang lambat." Hadwin menyadarkannya dari khayalan Ara pahlawan super.


"..." Bisakah kamu menghibur pacarmu sedikit saja? Batinnya lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Chezy yang berpakaian serba hitam telah berdiri di kegelapan. Dia bersembunyi di balik pohon rindang sambil mengamati sekitar. Sebuah alat detektor magnet diaktifkan, melacak keberadaan CCTV dan benda lainnya yang mungkin bisa membuatnya ketahuan.


Tak jauh di depannya, ada beberapa bangunan bekas pabrik kayu yang kini tidak terpakai lagi. Namun penjagaannya cukup luar biasa.


Belum lagi, ada beberapa mobil hitam terparkir di sisi lain, cukup tersembunyi. Sepertinya orang-orang ini kedatangan banyak tamu.


Chezy mendapati sebuah pesan dari Marine bahwa keduanya telah tiba dan menunggunya. Dia membalasnya dengan beberapa kata lagi menyusup dengan tenang.


"Malam ini, bos kedatangan tamu penting. Aku dengar tamu itu adalah pria bertopeng hitam yang misterius. Kelompok dunia bawah menyebut mereka sebagai 'Tamu Malam'."


"Benar-benar Tamu Malam?"


"Pria misterius ini hanya muncul saat malam hari jika ingin bernegosiasi. Tapi sulit untuk dilumpuhkan. Tidak heran bos ingin bernegosiasi dengannya."


"Tapi bos adalah pembunuh bayaran dan tamu malam adalah pendukung keadilan. Bagaimana mungkin bisa bersama?"


"Entahlah. Tapi bos ingin senjata yang dimiliki tamu malam. Kudengar senjata militernya sangat bagus akhir-akhir ini."


"Jaga mulutmu. Jangan sampai orang lain menguping. Kita bisa tamat!" Rekannya yang lain segera meminta mereka untuk diam.


Percakapan itu berakhir. Chezy mengerutkan kening. Dia penasaran dengan Tamu Malam yang mereka maksud.


Melihat dua penjaga di dekat pintu ruang bawah tanah, Chezy menembakkan jarum yang telah diolesi dengan obat tidur kelas berat. Segera, kedua penjaga itu mengantuk.


"Kenapa aku sangat mengantuk?" gumam salah satu dari mereka.


"Entahlah. Tidak! Ada musuh datang!" Rekannya mulai menyadari sesuatu namun sebelum bertindak untuk mengambil alat komunikasi, Chezy melumpuhkannya di tempat.


Rekannya sendiri sudah tertidur di sampingnya.


"Bodoh." Chezy mencibir. Penjagaan di sini ternyata tidak sekuat yang dia kira.


Melihat sekeliling dan memastikan tidak ada pihak lain, Chezy membuka pintu dan mengendap-endap tanpa menimbulkan suara.


Ruang bawah tanah ini ternyata memiliki beberapa lorong yang cukup sempit. Ada lampu yang tidak terlalu bagus pencahayaannya sehingga membuat suasana remang-remang.


Dia lolos dari semua kamera pengawas.

__ADS_1


Beberapa penjaga yang dia temui segera dihabisi di tempat agar tidak menimbulkan keributan. Namun Chezy tidak berniat untuk masuk langsung ke ruangan paling penting di sana. Dia mencoba mencari lokasi yang tepat untuk mengintai lebih dulu.


Untungnya ada lorong yang dibuat di atap ruang bawah tanah sehingga Chezy bisa masuk dan merangkak ke arah ruangan pertemuan berada.


Ada lubang plafon yang hanya ditutupi jaring kawat khusus.


Chezy memegang pistolnya dan diarahkan ke pihak lain.


......................


Sementara itu di ruang pertemuan rahasia ruang bawah tanah ....


Dua pria dengan identitas berbeda duduk di tempat yang berlawan. Yang satu berpakaian serba hitam seperti pembunuh bayaran. Sedangkan yang satunya lagi memakai jas formal dengan topeng serigala yang terlihat cocok dengan karakter misteriusnya.


Masing-masing di belakang keduanya terdapat beberapa anak buah yang siapa kapan saja untuk saling melindungi.


Pria yang memakai pakaian serba hitam itu tersenyum pada pria dengan topeng serigala. "Sepertinya Tamu Malam tidak mau bekerja sama dengan kita sejak awal. Apakah khawatir mengkhianati militer negara?"


Pria berjas hitam rapi dengan topeng serigala itu sama sekali tidak memiliki banyak gerakan. Masih duduk sambil menyilangkan kaki.


"Negara ini dilindungi hukum," jawab Tamu Malam tanpa basa-basi.


Danius adalah seorang pembunuh bayaran peringkat ke sepuluh dalam organisasi pembunuh bayaran dunia.


Dia telah berada di Negara A selama beberapa bulan terakhir dan menjalankan misi dari tempat ini. Kebetulan Negara A ini cukup liberal.


Danius terkekeh. "Pemerintah tidak akan peduli dengan ini. Kenapa kamu tidak bisa bekerja sama diam-diam denganku?"


"Tidak."


Ekspresi Danius akhirnya berubah kejam. "Tampaknya kita tidak memiliki kesempatan yang baik untuk berdiskusi."


Anak buah Danius mulai bersiap dengan senjata api. Daripada meloloskan musuh dari sarang, lebih baik membungkam mereka.


Danius juga memiliki pistol di bawah mejanya dan siap untuk menembak kapan saja.


Kelompok Tamu Malam juga sama. Keduanya dalam adegan yang menegangkan saat ini.


"Kalau begitu, jangan bermimpi untuk keluar dari tempat ini." Danius menodongkan pistolnya ke arah Tamu Malam.

__ADS_1


Namun yang paling tidak terduga, suara tembakan yang bukan dari kedua belah pihak terdengar.


Ekspresi Danius akhirnya berubah kejam dan melihat ke arah langit-langit. "Siapa di sana?!" teriaknya.


__ADS_2