Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Hari Tenang Berakhir


__ADS_3

Setelah menghadiri pemakaman, keluarga dari pihak Nyonya Marweth atau Tuan Marweth sendiri mengusir keluarga Alston. Mereka membenci mereka dan akhirnya persahabatan terakhir pecah.


Kakek Alston tidak mau menambah banyak api di pemakaman dan akhirnya mengajak anggota keluarganya untuk pulang.


Meski Nyonya Alston enggan, dia tidak lagi memiliki muka untuk bertemu mereka. Kebencian mereka pasti akan berakhir seumur hidup. Dia khawatir tidak akan ada negosiasi perdamaian sedikit pun.


Meskipun pembantaian keluarga Marweth dilakukan oleh pembunuh berantai dan Tuan Marweth adalah tangan kanan, namun tetap saja pembunuhnya adalah Gaines.


Sesampainya di rumah, Nyonya Alston pingsan karena tidak kuat menahan rangsangan lagi. Tuan Alston segera membawanya ke kamar. Kakek Alston mengajak Dallas dan Chezy ke ruang belajar.


"Situasinya krisis saat ini. Para pembunuh berantai itu telah menghabisi banyak tokoh penting negara dan bekerja sama dengan Negara C." Kakek Alston mendapatkan kabar itu dari informan Negara K.


Mereka mengatakan jika Negara C terlibat saat ini dns kemungkinan besar ingin menguasai beberapa sumber daya Negara A. Tapi sejak dulu, Negara A telah mendominasi dunia bersama dengan negara-negara Eropa lainnya. Tidak mungkin diguncang dengan mudah.


Hanya saja, Negara C juga kuat, wilayah yang luas dns kemajuan teknologi tidak lagi diragukan. Dengan kemiliteran yang luar biasa, tak kalah dengan Negara K.


"Negara C campur tangan?" Chezy mengerutkan kening.


"Kemungkinan besar bos bawah tanah yang berkuasa. Sejak dulu, selain pemerintah yang mendominasi negara, ada bos-bos dunia bawah tanah yang berkuasa. Ini tak terelakkan. Setiap negara pasti memiliki nya," jelas Kakek Alston.


Lalu pria tua itu menatap Dallas. "Aku sudah tua dan wewenang militer tidak ada lagi bersamaku. Sekarang tugas generasi muda yang memimpin garis depan. Dallas, meski kamu bukan seorang prajurit di medan perang, kamu adalah bos perdagangan senjata. Kakek harap kamu bisa membedakan mana yang penting bagi negara dan mana hak pribadi ...."


Dallas tahu jika kakeknya ingin menasihati dia untuk tidak sewenang-wenang menggunakan senjata rahasia militer demi membasmi pembunuh berantai.

__ADS_1


"Kakek, aku tahu. Jangan khawatir." Dallas tidak pernah mengabaikan nasihat pria tua itu.


Lalu Kakek Alston menatap Chezy seperti sedang menyelidiki sesuatu. "Masih ada waktu untuk menghabiskan hari-hari bersama Dallas. Jangan mati sebelum mencapai medan perang. Cucuku tidak bisa menjadi duda kontrak begitu cepat," candanya.


"..." Sudut mulut Chezy berkedut sedikit. Pria tua itu tidak pernah mengubah gaya ejekannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu kemudian, perusahaan utama Alston Group dalam kekacauan. Salah satu ruang perusahaan tiba-tiba saja meledak dan menghancurkan beberapa bangunan di sekitarnya. Lagi-lagi, masyarakat mulai redah dan mengira jika pembunuh berantai itu sudah kembali lagi.


Kenyataannya memang begitu.


Marine dan Hadwin serta Chezy sudah menjalankan tugas organisasi untuk mencari tahu keberadaan kelompok Rogers yang kemungkinan besar sudah memasuki Negara A kembali. Hanya saja kali ini mereka menemukan beberapa pembunuh berantai asing dari Negara C. Sedikit lebih sulit.


Chezy sudah menegang pistolnya dan mengisi peluru. Sedangkan Hadwin mengamati melalui teropong senjata api laras panjang.


"Kali ini target mereka bukan hanya keluarga Alston, tapi orang banyak." Hadwin memperhatikan jika salah satu lantai gedung perusahaan utama Alston Group dipenuhi oleh asap ledakan.


Pemadam kebakaran sepertinya sedang berusaha untuk memadamkan api.


"Mereka juga mencari kita," kata Chezy.


"Lalu apa rencana kita selanjutnya. Melihat Rogers membawa sekutu Negara C, ini jelas bertentangan dengan rencana kita." Marine mengerutkan kening.

__ADS_1


Chezy menghela napas. "Aku sudah memberi tahu markas. Sayangnya mereka akan memberi kita bantuan dalam kurun waktu beberapa hari lagi. Mereka juga sedang mempersiapkan rencana darurat. Belum lagi, organisasi kita harus mendapatkan izin beroperasi di negara ini," jelasnya.


"Surat perizinan biasanya tidak akan diproses terlalu lama. Apalagi jika ini darurat militer." Hadwin menanggapi.


"Benar juga. Meski organisasi kita bukan termasuk militer, tapi sama pentingnya seperti prajurit." Marine merasa tercerahkan.


Setelah mengamati situasi, ketiganya segera meninggalkan gedung kosong dan bermaksud untuk melumpuhkan beberapa anggota pembunuh berantai yang kemungkinan besar membahayakan banyak orang.


Sayangnya, setelah ketiganya berpencar untuk menjalankan tugas, Chezy terkena sial lebih dulu. Dia bertemu Rogers di pertengahan jalan.


"Lama tidak berjumpa wanita kucing!" Rogers menyeringai seraya memegang senapan.


Chezy tersenyum sedikit. "Rogers, apakah kamu punya markas baru? Mau hadiah lagi?"


Rogers mengubah ekspresi wajahnya menjadi ganas. "Tidak ada waktu berikutnya. Kali ini, aku pasti akan membuatmu menyesalinya."


"Kalau begitu, coba saja." Chezy mengeluarkan dua belati dari sarungnya dan berniat untuk menyerang mereka tanpa menggunakan pistol. Baginya serangan jarak dekat lebih menyenangkan.


Rogers siap menembak. Chezy sudah maju lebih dulu sambil menghindari setiap tembakan dari Rogers dan anak buahnya


Gerakan Chezy lincah seperti cheetah dan fleksibel layaknya seekor kucing. Dia berhasil mengayunkan belatinya untuk menyayat leher mereka seraya menjadikan mereka tameng dari tembakan Rogers.


Jika ingin mengurus Rogers, maka harus mengalahkan anak buahnya lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2