
"Ayah, apa yang terjadi?" Sonya merasa jika masalah yang dikatakannya oleh asisten ayahnya itu berhubung dengan dirinya.
Tuan Marweth tidak bicara untuk waktu yang cukup lama karena berusaha untuk menekan amarah nya agar tidak naik. Dia merasa malu. Terutama saat hubungan Sonya dan Gaines terungkap di internet.
Gaines juga mendapatkan telepon dari orang kepercayaannya di kantor dan menceritakan apa yang terjadi. Segera wajahnya menjadi tidak enak dipandang.
Foto yang beredar jelas ambigu dan termasuk dalam adegan yang sangat bergairah di tempat tidur.
Foto diambil dari sudut jendela kamar Sonya.
Bukankah dia makan malam bersama Chezy sebelumnya dan minum anggur bersama?
Setelah itu, dia tidak terlalu ingat.
Tapi ... Gaines ingat jika dirinya ingin diantarkan ke rumah Sonya. Lalu meminta Chezy memapahnya ke mobil. Supirnya menunggu di sana.
Barulah setelah itu dia benar-benar tidak terlalu ingat apa-apa.
"Aku akan mengurus masalah ini. Tapi yang pasti pertunangan Sonya dan Dallas tidak bisa lagi dilanjutkan. Aku akan bertanggung jawab untuk Sonya. Aku akan pergi dulu." Gaines bangkit dari duduknya dan sempat melihat Sonya sesaat.
Wanita itu ketakutan olehnya tapi dia sama sekali tidak peduli.
"Baiklah, kalau begitu ... mohon bantuannya." Tuan Marweth hanya memejamkan mata dan mengangguk padanya.
Setelah Gaines pergi, Tuan Marweth akhirnya tak bisa menahan diri lagi dan menendang Sonya cukup keras, lalu memukul dan menamparnya.
"Ayah, ayah! Ayah, ampuni aku! Kumohon jangan ... jangan pukul aku," rintih Sonya yang menjerit kesakitan.
Nyonya Marweth ingin membantu. Tapi situasinya saat ini pasti tidak baik. Dia melihat foto Sonya dan Gaines yang bercinta di tempat tidur, akhirnya tak bisa menahan tekanan dan pingsan.
Kekacauan di keluarga Marweth benar-benar membuat para pelayan tidak bisa berbuat banyak, hanya menjauh dan menunduk, pura-pura tidak tahu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya di apartemen tempat Chezy berada.
__ADS_1
Marine telah menatap perkembangan rumor Gaines dan Sonya di internet sejak pagi tadi. Dia hanya duduk di sofa, benar-benar merasa puas atas hasil kerja kerasnya dengan Hadwin malam kemarin.
Siapa yang meminta pria itu untuk berbuat sesuatu pada Chezy, benar-benar cari mati.
"Aku tidak menduga obat hipnotis yang dikembangkan oleh kakakmu sangat luar biasa. Kenapa kamu tidak pernah memakai cara ini sebelumnya?" tanya Marine seraya melemparkan ponsel ke samping.
Chezy yang sibuk berkirim pesan dengan Dallas pun menatapnya sebentar. "Kakakku baru saja mengembangkan obat ini dua bulan lalu. Dia hanya memberiku sampel untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang menimpaku. Dia bilang manusia dengan pikiran lemah bisa terhipnotis dengan mudah."
"Jadi Gaines sama sekali tidak memiliki pikiran yang kuat? Tidak heran menjadi playboy. Dia juga seharusnya tidak mencintai Sonya. Kira-kira apa yang akan dilakukan Gaines kali ini?"
"Mungkin mengakui hubungan dan menggantikan Dallas untuk pertunangan," jawab Chezy enteng.
Hadwin baru saja keluar dari dapur sambil memegang panci penggorengan. Dia baru saja selesai menggoreng telur untuk pelengkap mi instan.
"Waktunya makan malam," kata Hadwin.
"Oh." Marine malas untuk bergerak. Dia menatap Chezy lagi. "Apakah Gaines akan curiga kali ini?"
"Seharusnya tidak tapi mungkin akan memeriksa dirinya sendiri. Semalam aku menciptakan ilusi untuknya dan membuat ingatan baru agar tidak dicurigai." Chezy berpikir sejenak. Lalu dia segera menghubungi kakaknya yang ada di Negara K. "Aku akan bertanya dulu padanya tentang efek obat hipnotis ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang pria tampan berambut hitam dengan iris mata kecokelatan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pria jangkung berjas putih laboratorium tersebut memegang tabung kimia berisi cairan berwarna. Dia juga memakai masker serta kacamata transparan khusus untuk melindunginya dari bahaya obat.
"Cade, ini sudah dini hari, pulanglah dan istirahat dulu. Pagi nanti kita lanjutkan. Kamu belum istirahat sejak siang tadi." Seorang ilmuwan tua menepuk pundak pria jangkung itu.
Cade mengerutkan kening. Matanya memang sedikit lelah. Tapi dia sangat terobsesi dengan penelitian terbarunya kali ini.
Ia ingin menolak tapi ponselnya tiba-tiba saja berdering. Tidak ada yang bisa mengakses nomor telepon pribadinya kecuali orang rumah.
Melihat siapa yang menelepon, Cade sedikit terkejut. Adikku? Tumben dia masih ingat kakaknya sendiri .... Batinnya.
"Kalau begitu, aku akan pulang dulu. Sampai jumpa, Guru," katanya.
Ilmuwan tua itu mengangguk.
__ADS_1
Cade meninggalkan ruang laboratorium setelah melepas jas putihnya. Lalu menerima panggilan dari adik kesayangannya.
"Chezy, kupikir kamu mengira kakakmu sudah meninggal? Ingat untuk meneleponku sekarang?" Cade tidak menunggu pihak lain untuk bicara lebih dulu.
Chezy yang berada di seberang telepon pun terkekeh sebentar. "Jika bukan karena ayah berkata aku hanya bisa menghubungimu di saat ada masalah, mungkin sudah menelepon mu sepanjang waktu. Kamu sibuk."
"Tidak apa-apa. Aku baru saja keluar. Kenapa kamu meneleponku dini hari seperti ini?"
"Oh? Dini hari? Ini baru saja waktu makan malam di Negara A. Malam masih panjang, saudaraku." Chezy tertawa sebentar. Sebenarnya ini berbeda dengan sikapnya yang acuh tak acuh di depan Dallas.
"..." Kamu hanya ingin dibunuh olehku, canda Cade dalam hati.
Cade Edelmar, anak sulung keluarga Edelmar yang bekerja di laboratorium saat usianya masih muda. Kini pria itu sudah berusia 30 tahun. Masih lajang dan tidak suka berkencan. Laboratorium adalah kekasihnya sejak lama. Jadi orang lain selalu salah paham jika dirinya benar-benar punya kekasih di luar sana.
Bagi orang lain, Cade selalu memiliki ekspresi dingin dan tidak suka tersenyum. Para peneliti magang di laboratorium selalu takut-takut saat melihatnya. Jika salah, mereka akan kena semprot garam meja yang menaburi luka (ucapan pedas yang menyinggung), tapi ini tidak serius. Sifatnya emang seperti itu.
Cade tidak bisa menang saat berdebat dengan adiknya. "Bagaimana kabarmu di sana? Apakah semuanya berjalan dengan baik? Apakah tidak ada yang mencurigai identitasmu?"
"Tidak ada, kecuali satu orang."
"Oh, siapa?"
"Rahasia."
"..." Cade benar-benar ingin memukul adiknya.
"Baiklah, kenapa kamu meneleponku di jam sekarang? Aku mau pulang dan tidur," kata Cade mendesak. Dia masih harus sibuk lagi besok pagi.
"Jika kamu tidak mengajakku mengobrol, aku pasti akan lupa. Aku ingin tahu efek obat hipnotis yang kakak berikan padaku. Apa saja?"
Cade mengerutkan kening. "Apakah kamu sudah menggunakan obatnya?" tanyanya serius.
"Aku baru saja menggunakannya pada musuh yang sedang kuintai. Dan efeknya mungkin bagus. Tapi aku tidak tahu, apakah ada efek samping?"
"Efek sampingnya mungkin tidak ada. Dia hanya akan lupa apa yang terjadi setelah kamu membuat ingatan palsu di pikirannya. Bahkan jika itu diperiksa, tidak akan ada yang bisa mengetahui dirinya memakai obat," jelas Cade. "Chezy, dengarkan aku. Obat hipnotis itu baru saja dikembangkan 80% dan belum sempurna. Jangan menggunakannya pada orang sembarangan, terutama mereka yang memiliki daya ingat yang kuat. Apakah kamu tahu?"
__ADS_1