Pernikahan Kontrak Agen Rahasia

Pernikahan Kontrak Agen Rahasia
Meninggal Dunia


__ADS_3

“Aku tidak bermimpi ‘kan? Seorang anak berusia tujuh tahun benar-benar bisa melukis pemandangan sebagus ini?” Pria Tua yang suka dipanggil Tuan Kutt itu melihat hasil lukisan Efrain yang tampak rapi dan rumit. Matanya berbinar seolah-olah sedang melihat harta karun.


Lozkava mengangguk saat mengetahui apa yang dimaksudnya. “Ya, aku juga terkejut. Sepertinya posisiku sebagai pelukis termuda di tahun-tahun yang lalu akan berpindah pada anak itu,” jawabnya.


Tuan Kutt tertawa senang. “Benar, kamu tidak cocok lagi untuk menyandang gelar itu,” katanya tidak munafik.


“…” Lozkava mencibir, tidak tersinggung sama sekali.


Melihat Tuan Kutt membereskan mejanya dan hendak pergi, Lozkava penasaran. “Pak Tua, ke mana kamu akan pergi dengan tergesa-gesa seperti itu?”


“Aku akan berlibur ke Negara A dalam beberapa hari ini, jadi tidak akan sibuk denganmu.” Tuan Kutt segera menghilang di balik pintu ruangan.


Lozkava sekilas melihat surat pemberitahuan pemenang lomba melukis yang sempat dibawa oleh Tuan Kutt, tiba-tiba saja tersenyum masam. Sepertinya pria tua itu ingin menyerahkannya sendiri pada orang yang menjadi pemenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Negara A beberapa hari setelahnya.


Suara cangkir pecah di lantai tiga menggema di rumah Dallas. Chezy yang baru saja pulang menjemput ketiga anaknya dari sekolah langsung terkejut. Dia ingin pergi ke lantai tiga untuk melihat apa yang terjadi tapi tidak lupa berkata pada ketiga anaknya.


“Kalian kembali ke kamar, ganti pakaian lalu turun dan makan siang. Ibu akan melihat apa yang terjadi di atas,” katanya.


Ketiganya mengangguk. Melihat ibu mereka pergi ke lantai atas dengan tergesa-gesa, si kembar saling melirik.


“Apakah sesuatu terjadi pada ayah?” tanya Egan. Dia tahu ayahnya ada di rumah saat ini dan sedang bekerja di lantai tiga.

__ADS_1


"Mungkin ayah sedang marah," kata Efrain.


Edrick sedikit mengerutkan kening tapi tidak terlalu penasaran. "Setidaknya ibu dan ayah tidak bertengkar. Cepat ganti pakaian dan makan siang," timpalnya lebih tenang.


Efrain tampak cemberut. "Aku adalah anak tertua tapi kamu bertingkah lebih dewasa dariku."


"Kamu hanya lima menit lebih tua dariku." Edrick tidak terpengaruh.


"..." Efrain tidak bisa berkata-kata karena itu kebenarannya.


Sementara itu, Chezy yang pergi ke lantai tiga mencoba menemukan Dallas. Dia melihat pria itu berdiri dengan linglung di depan meja kerjanya sambil memegang telepon. Cangkir kopi yang pecah di dekat kakinya.


Melihat ada yang salah dengannya, Chezy segera menghampiri. "Suamiku, apa yang terjadi denganmu?" tanyanya.


"Apa ...?" Chezy tertegun.


Kakek Alston meninggal?


Padahal baru dua hari yang lalu Kakek Alston masuk rumah sakit karena batuk yang cukup parah hingga kesulitan bernapas. Ditambah usia Kakek Alston yang telah lanjut usia dan tergolong orang yang berumur panjang. Tapi tetap saja, kematian selalu mengintai di hari tua.


Chezy telah kehilangan sosok Kakek Edelmar sebelumnya dan kini kehilangan sosok Kakek Alston juga. Dia segera memeluk Dallas yang berduka dan tahu jika pria ini sangat menyayangi kakeknya.


Saat Dallas menerima panggilan telepon dari ibunya, dia sedang minum kopi. Tanpa diduga, kabar kematian kakeknya benar-benar membuat hatinya merasa kehilangan.


"Mari pergi ke rumah sakit," kata wanita itu.

__ADS_1


Dallas menenangkan hati dan pikirannya lalu membalas pelukan Chezy. "Ya. Bawa anak-anak juga."


Keduanya segera meninggalkan lantai tiga dan memberi tahu ketiga putranya tentang meninggalnya Kakek Alston. Dallas menggendong Diana yang masih belum paham tentang masalah tersebut lalu membawa ketiga putranya memasuki mobil.


Pasangan suami istri dan empat anaknya itu langsung menuju rumah sakit.


......................


Setibanya di rumah sakit, si kembar tiga mulai menangis saat tahu Kakek Alston meninggal. Bagaimanapun juga, ketiganya juga dekat dengan sosok Kakek Alston, terutama Edrick yang matanya memerah saat ini.


Edrick masih ingat apa yang sering diajarkan oleh Kakek Alston selama sini. Begitu pula Egan yang telah belajar seni bela diri dari orang kepercayaan Kakek Alston.


Chezy menenangkan anak-anak seraya melihat Nyonya Alston yang mengusap air matanya. "Bu ...," ujarnya lemah.


Nyonya Alston tersenyum dan menggelengkan kepala. "Baiklah, tidak apa-apa. Mari bicara di rumah. Kakek kalian memiliki beberapa surat wasiat yang telah disiapkan sejak lama," katanya.


Setelah melihat Kakek Alston untuk terkahir kalinya, mereka kembali ke rumah. Dallas sedikit enggan untuk pulang awalnya dan ingin mengatakan beberapa hal seorang diri. Namun Chezy segera membujuknya.


Kabar meninggalnya Kakek Alston juga sampai ke keluarga Edelmar.


Di rumah, Nyonya Alston dan Tuan Alston duduk dengan keheningan. Chezy dan Dallas duduk di sisi lain bersama ketiga anaknya. Sedangkan Diana yang sudah tidur siang selama perjalanan pulang sudah berada di kamar bersama pelayan yang menjaganya.


Saat ini, Tuan Alston mengeluarkan sebuah dokumen dan menyerahkannya pada Dallas.


"Setelah si kembar lahir, kakekmu telah membuat surat wasiat. Ini semua adalah kerja kerasnya selama bertahun-tahun untuk cucu dan cicitnya," jelasnya dengan suara rendah.

__ADS_1


__ADS_2