
Happy reading...
Saat ini jam menunjukkan pukul 21.00 malam. Mela dan juga Rika memutuskan untuk pulang, karena jagung juga sudah habis.
Namun, saat mereka berada di tengah jalan tiba-tiba ada segerombolan Pemuda mencegah jalan Mela dan Rika, membuat kedua wanita itu terdiam karena jalanan juga lumayan sepi.
"Sebaiknya kalian pergi! Awas, aku mau pulang!" ucap Mela mengusir ketiga pria yang berada di hadapannya.
"Ya ampun Neng Mela, jangan galak-galak dong! Kita cuma pengen kenalan kok sama cewek cantik yang ada di samping kamu," ucap pria yang bernama Bram.
"Nggak usah genit-genit. Dia Kakak iparku. Kalian mau diberi pelajaran sama Mas Adi, hah!" gertak Mela.
Ketiga pria itu malah tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Mela. "Apa! Dia Kakak iparmu? Mana mungk jika Adi mempunyai istri?"
Bram tidak percaya jika wanita yang berada di samping Mela adalah kakak iparnya, karena Adi sama sekali tidak mengadakan resepsi pernikahan.
"Kakak ku menikah di kota. Sudahlah, jangan menghalangi jalan kami! Pergi!" usir Mela.
Namun, ketiga pria itu enggan untuk pergi. Mereka memaksa untuk berkenalan dengan Rika, namun jauh di dalam lubuk hati wanita itu dia sangat takut.
Rita takut jika ketiga pria itu berbuat macam-macam. 'Mas Adi, kamu di mana? Aku takut sekali. Mana jalanan sepi lagi?' batin Rika sambil menengok kanan dan kiri.
Kemudian Bram maju ke hadapan Rika, lalu mengulurkan tangan. "Halo Nona cantik, namaku Bram. Namamu siapa?"
Tanpa menjawab uluran tangan dari Bram, mereka menyebutkan namanya. "Nama saya Rika tolong kalian minggir! Kami mau pulang," jawab Rika dengan nada tak senang.
"Boleh saja. Tapi kami antar pulang ya?" goda Bram sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian dia mencoba merangkul Rika namun ditepis kasar oleh wanita itu.
"Jangan kurang ajar ya! Saya bisa teriak kalau kamu berani kurang ajar sama saya!" marah Rika saat Bram tiba-tiba saja memegang tubuhnya.
"Heh Bram. Sebaiknya kamu jaga etitude ya! Tidak baik memegangi istri orang!"
__ADS_1
Namun lagi-lagi Bram tidak peduli, dan dia tidak percaya dengan ucapan Mela. Pria itu mencoba mendekati Rika kembali. Dia mencoba untuk memegang tangannya, tapi tiba-tiba saja terhenti karena ucapan bariton seseorang.
"Hentikan tanganmu!" gertak seseorang dengan nada yang dingin.
Semua mata memandang ke arah suara tersebut, dan ternyata dia adalah Adi.
Mela dan juga Rika tersenyum lega saat melihat kehadiran Adi dan juga temannya yang bernama Indra, berjalan mendekat ke arah mereka, kemudian Adi langsung menatap Rika dari atas sampai bawah.
"Kamu tidak apa-apa, Dek? Maaf jika Mas telat. Tadi ada yang harus diurus?" tanya Ardi sambil menatap istrinya.
"Aku nggak papa Mas, tapi aku sedikit takut sama mereka," jawab Rika sambil memeluk tubuh Adi.
Adi menatap ke arah pria yang berada di hadapannya dengan tajam. Dia tak terima sang istri di sentuh oleh pria lain selain dirinya.
"Kenapa kalian mengganggu istriku? Tidak ada gadis yang bisa kalian goda kah, selain istri orang?" tanya Adi dengan tatapan dingin mengarah kepada Bram dan juga kedua rekannya.
"Apa! Jadi dia adalah istrimu?" tanya Bram dengan tatapan kaget. Begitu pun dengan 2 teman temanya.
Adi menganggukan kepalanya, "Iya, dia memang adalah istriku. Dan jangan pernah menggodanya lagi! Jika tidak, aku akan mematahkan tanganmu!" ancam Adi dengan aura dinginnya.
Setelah mengatakan itu Adi menggandeng tangan Rika, kemudian pergi meninggalkan Bram beserta kedua temannya yang masih diam terpaku.
Sementara Indra menatap Bram dengan lekat. "Jangan pernah mengganggunya! Dia adalah istri Adi. Mereka baru menikah," jelas Indra. Kemudian dia berjalan beriringan bersama dengan Mela di belakang Adi dan Rika.
Sesampainya di rumah Mela langsung mencuci kaki dan tangannya, lalu dia pun tidur karena besok Mela harus bekerja di ladang pak Parjo. Bgitupun dengan Adi dan juga Rika, keduanya saat ini sedang terbaring di atas kasur yang ada di lantai, dengan kepala Rika yang berada di atas lengan sang suami.
"Maaf ya jika Mas tadi lama. Kamu tidak di apa-apain kan sama dia?" tanya Adi sambil menyingkirkan rambut di kening istrinya.
"Tidak apa-apa Mas. Memangnya tadi Mas ke mana? Kok lama banget sih keluarnya? Sampai aku dan Mela sudah selesai dagang pun Mas belum kembali," jawab Rika dengan wajah cemberut.
Kemudian Adi pun menjelaskan jika tadi dia bertemu dengan Indra membahas soal pekerjaan, setelah itu dia ke rumahnya Pak RT untuk memberitahukan tentang pernikahan mereka berdua. Sebab Adi tidak mau nantinya terjadi fitnah, jadi biar semua orang tahu kalau Rika adalah warga di desa itu dan dia adalah istrinya.
__ADS_1
Mendengar itu Rika pun tersenyum lega. "Syukurlah, jadi tidak ada nanti yang salah paham lagi," jawab Rika.
Lalu tatapan mereka terkunci satu sama lain. Adi menatap lekat kedua manik indah milik istrinya, hingga wajah mereka pun tidak berjarak sama sekali, dan tautan bibir tidak bisa di hindarkan.
Namun saat mereka sedang menikmati olahraga bibir tersebut, tiba-tiba saja ponsel milik Rika berdering, hingga membuat keduanya melepaskan tautan tersebut.
Rika dan juga Adi bernafas terengah-engah, kemudian wanita itu pun mengambil ponselnya.
"Dari siapa?" tanya Adi setelah menetralkan nafasnya.
"Dari mama, Mas," jawab Rika.
Kemudian Rika menggeser tombol hijau ke atas, sehingga telepon pun tersambung. "Halo Assalamualaikum Mah," ucap Rika.
Hening.
Tidak ada pembicaraan. Rika fokus mendengarkan ucapan sang Mama di seberang telepon. Namun matanya melirik ke arah Adi seperti ada sesuatu.
Terlihat wajah Rika seketika menjadi sendu, namun juga menahan kekesalan, hingga telepon sudah terputus Rika pun menghela nafasnya dengan kasar.
"Ada apa sayang? Apakah mama mengatakan sesuatu yang membuat kamu sedih?" tanya Adi sambil menatap lekat ke arah sang istri.
"Tidak apa-apa kok Mas, dia cuma nanyain kabar aku aja," bohong Rika.
Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya, karena Rika tidak ingin membuat Adi merasa sakit hati dengan ucapan sang mama.
"Sebaiknya kita tidur yuk!" ajak Rika. "Soalnya ini juga sudah malam. Besok kan kita mau ke sawah lagi?" sambungnya lagi sambil menarik selimut.
Adi tahu jika ada yang disembunyikan oleh istrinya, kemudian dia pun mengangguk. "Boleh, tapi satu ronde dulu ya!" pinta Adi dengan tatapan memohon dan sayu.
Rika tidak bisa menolak, akhirnya mereka pun berolahraga malam itu. Namun bukan hanya satu ronde, melainkan mencapai 3 ronde, sehingga membuat keduanya kelelahan dan terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, sudah mau berjuang bersama aku. Makasih juga sudah menerima keadaanku," ucap Adi dengan lirih sebelum ia terlelap.
BERSAMBUNG....