
Happy reading...
Seperti biasa, Rika sekarang menjalani hari-harinya dengan membuatkan sarapan dan juga membantu Mella bebersih rumah. Setelah itu dia akan ke ladang bersama dengan Adi.
"Apakah sudah siap, sayang?" tanya Adi saat melihat Rika menyiapkan bekal untuk ke ladang.
"Sudah Mas, ayo kita berangkat sekarang! Nanti keburu siang. Aku juga mau ngambil sayuran dan kulihat kemarin ada cabe yang siap dipanen, sepertinya lumayan untuk dijual," jawab Rika.
Namun, sepanjang perjalanan wanita itu terus saja terdiam. Dia memikirkan ucapan sang Mama semalam ditelepon, dan itu membuat hati Rika merasa resah.
Melihat Adi yang menuntun sepeda dengan dia yang duduk di atasnya, membuat Rika terharu. Pengorbanan cinta Adi begitu sangat tulus kepada dirinya, dan dia tidak pernah melihat ketulusan itu di mata pria yang selama ini mengejar-ngejar dia.
'Aku tidak akan pernah melepaskan Mas Adi. Apapun yang terjadi. Semoga saja kekuatan cinta kita mampu menerjang badai sekuat apapun itu!' batin Rika penuh harap.
Saat sampai di saung mereka segera menata sarapannya, sementara Adi berjalan mengelilingi sawah dulu karena padi juga sudah mulai menguning dan sebentar lagi akan panen. Tentunya banyak burung di sawah yang mematuki padi tersebut.
Itu kenapa tugas Adi lumayan berat saat padi akan panen, karena dia harus menjaga ketat agar tidak ada burung di sana.
Sedangkan Rika hanya menatap suaminya dari jauh. Senyumnya terukir indah saat melihat pria tampan dengan kulit sawo matang tengah mengusir burung-burung yang berada di tengah sawah.
"Mungkin memang dia tidak sempurna dari segi harta. Tapi dari segi perlakuan, kasih sayang dan juga cinta, Mas Adi menang dan unggul dalam hal itu. Aku sungguh seperti bidadari dalam hidupnya. Dia memanjakanku seperti layaknya seorang istri, bahkan dengan kehidupan yang sederhana, entah kenapa aku merasa tidak kesusahan?" gumam Rika dengan lirih.
__ADS_1
Kemudian dia pun berteriak memanggil Adi untuk sarapan, "Mas! akita sarapan dulu yuk!" ajak Rika.
Adi mengangguk, kemudian dia berjalan setelah mengusir burung, lalu dia duduk saat Rika sudah menyiapkan kopi di cangkir kemudian dia memotong daun pisang lalu mereka pun makan.
Jujur saja, seumur hidupnya Rika baru merasakan bagaimana makan di tengah sawah dengan pemandangan yang begitu asri. Apalagi ditambah beralaskan daun pisang.
Selama ini Rika makan dengan piring dan juga gelas serta perabotan yang mewah, tapi kali ini dia benar-benar harus merakyat sekali. Menghilangkan kebiasaan mewahnya berganti dengan kebiasaan orang sederhana.
"Ternyata menjadi orang miskin itu enak ya, Mas. Bahkan makan di alaskan daun pisang terasa begitu sangat lezat. Aku sampai Nambah loh, bisa-bisa kalau kayak gini berat badanku naik?" kekeh Rika.
"Tidak apa-apa sayang, kan lebih empuk, hehe ... ya beginilah kami. Walaupun hidup sederhana tapi kami tidak mempunyai beban mengurusi bisnis dan juga lain-lain, hanya berpikir untuk bertahan hidup saja. Kalau soal makan, Insya Allah Rezeki itu tidak akan tertukar. Allah sudah menyiapkan rezeki dan juga takarannya masing-masing, jadi kita sebagai manusia tidak usah ketakutan," jelas Adi sambil meminum kopi buatan istrinya.
"Maaf ya jika Mas harus membawa kamu dalam kesengsaraan. Kamu yang biasanya bergelimang harta sekarang malah harus hidup sederhana, bahkan makan beralaskan daun pisang," ucap Adi yang merasa tak enak kepada sang istri.
"Dengar ya Mas! Aku sama sekali tidak merasa jika aku sengsara hidup bersama kamu. Mungkin memang kita tidak bergelimang harta, tapi entah kenapa aku merasa kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan selama ini. Kamu benar! Kita mungkin tidak mewah, tapi entah kenapa semuanya terasa nikmat," jawab Rika sambil menengadahkan wajahnya menatap kedua manik tegas milik Adi.
Namun Adi melihat raut kesedihan di wajah sang istri. "Kamu kenapa sih sedari semalam wajahnya terlihat begitu sedih setelah Mama menelpon? Apakah dia mengatakan sesuatu yang membuatmu sakit hati?" tanya Adi begitu penasaran.
Mendengar itu Rika terdiam, dia tidak mungkin mengatakan kepada Adi apa yang diucapkan oleh sang mama. Tapi Adi terus saja mendesaknya dengan dalih jika suami istri itu harus terbuka dan tidak ada yang ditutupi sama sekali.
Akhirnya Rika pun mengatakan yang sejujurnya kepada Adi.
__ADS_1
"Semalam Mama menelpon, dia mengancam akan mencoret hak waris atas namaku jika aku masih bertahan dengan kamu. Dan aku tidak menerima perjodohan dengan Galang. Mama juga berkata, supaya aku tidak memiliki anak dengan kamu. Sebab dia tidak ingin memiliki keturunan dengan orang miskin." Terlihat raut wajah Rika sedih, bahkan air matanya sudah menetes.
Dia tidak menyangka jika mamanya semalam bisa berkata seperti itu, padahal tante Cantika juga seorang wanita dan juga istri. Seharusnya tante Cantika bisa merasakan dan juga bisa memaklumi bagaimana hidup Rika, apalagi dia putrinya.
Rika tahu jika sang Mama tidak ingin kehidupan putrinya melarat, susah, sengsara, tapi itu adalah jalan pilihannya. Karena bagi Rika, bukan harta yang dia cari, tapi kebahagiaan batin. Dan bersama dengan Adi dia mendapatkan itu.
Mendengar perkataan sang istri, jujur saja ada rasa sakit di hati Adi. Namun, dia tidak ingin menunjukkannya pada Rika. Kemudian dia menggenggam tangan wanita tersebut.
"Jangan dengarkan! Mama berkata seperti itu karena dia orang tua. Dia ingin yang terbaik untuk putrinya. Apalagi kamu adalah Putri satu-satunya di keluargamu. Wajar saja jika mama berkata seperti itu, jangan pernah dimasukkan ke dalam hati! Kita hanya perlu membuktikan kepada Mama, kalau tanpa harta kita bisa bahagia. Dan harta bukanlah segalanya, walaupun segalanya harus pakai uang, tetapi tidak semua dipandang berdasarkan materi. Walaupun pada kenyataannya manusia zaman sekarang memandang seseorang itu dari segi materi, tapi tidak semuanya seperti itu," jelas Adi menenangkan sang istri.
Memang apa yang dikatakan Adi ada benarnya, zaman sekarang semua manusia akan dipandang jika ada uang, jika tidak ada, maka mereka akan ditendang.
Semua memerlukan uang, namun memang kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Nyatanya memang uang adalah segalanya, namun tidak bagi Adi dan juga Rika. Karena kebahagiaan definisi mereka adalah kesederhanaan dan juga cinta.
"Ya sudah, kalau gitu Mas mau nyemprot padi dulu ya, supaya tidak ada hama. Sayur-sayuran juga nanti mau Mas semprot. Mamu kalau mau manen cabe sekarang aja, nanti keburu panas sayang," ujar Adi.
"Iya Mas," jawab Rika. Kemudian dia membawa ember lalu mulai berjalan ke tengah kebun cabe dan memetiknya satu persatu.
Rika sama sekali tidak merasa kelelahan harus bekerja seperti itu, tapi dia malah merasa senang. Telinganya disumpel oleh earphone, mendengarkan musik kesukaannya sambil sedikit menggoyangkan kepala dan juga tubuhnya.
'Aku benar-benar beruntung memilikimu. Mas berjanji akan selalu membahagiakanmu, sayang.' batin Adi yang menatap ke arah Rika dari jauh.
__ADS_1
BERSAMBUNG....