
Happy reading....
Setelah kepergian Mela dan juga Revan, saat ini Rika masih duduk di depan TV bersama dengan Adi. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang kekar sang suami.
Rika memegang tangan Adi yang begitu kekar, dia merasa tangan itu begitu kokoh, hingga mampu untuk merobohkan 20 lawan sekaligus.
"Tangan kamu ini benar-benar kokoh Mas. Lihat tanganmu! Begitu kekar seperti sudah terbiasa nge-gym. Apa di sini kamu sering nge-gym?" tanya Rika sambil menengadahkan wajahnya.
Adi terkekeh, "Kamu ini ada-ada aja sayang. Nge-gym di sini jauh harus ke kota, jadi untuk memperkuat tanganku hanya perlu berolahraga lewat alat-alat yang ada saja, tidak perlu sampai nge-gym. Karena menjadi petani juga bisa memperkuat otot-otot kita kan?"
Mendengar itu Rika mengangguk, kemudian dia menghela nafasnya dengan berat. Adi yang melihat hal tersebut pun merasa heran.
"Ada apa, Sayang? Apa ada yang mengganjal pikiranmu?"
Rika menganggukkan kepalanya. "Iya, ada."
"Apa itu? Apa yang membuat istriku sampai kepikiran dan mengganggu perasaannya?"
"Kamu!"
"Aku? Kenapa bisa aku?" bingung Adi sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Rika menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menatap sang suami, kemudian dia berjalan ke arah kamar, membuat Adi merasa heran. Tak lama Rika kembali sambil membawa Kotak di tangannya.
Adi yang melihat itu pun merasa kaget, karena Rika mengetahui kotak yang selama ini ya simpan. Kemudian wanita tersebut menyimpannya di hadapan Adi.
"Jelaskan Mas! Kenapa bisa ada ini. Dan dari mana?" tanya Rika tanpa berbasa-basi.
"Dari mana kamu bisa mendapatkan itu?"
"Kamu ingat kan sebuah pepatah? Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Dan sepandai-pandainya kamu menyembunyikan sesuatu, pasti aku akan tahu juga. Jadi sekarang jelaskan Mas! Dari mana kamu mendapatkan ini semua?" tanya Rika.
Adi terdiam, membuat Rika semakin kesal karena pria itu tidak menjawab pertanyaannya. "Kalau kamu tidak mau menjawabnya, dan kamu tidak mau jujur padaku. Ya sudah, aku tidak akan mau berbicara denganmu lagi! Dan aku akan tidur bersama dengan Mela!"
Adi yang mendengar itu pun kaget, dia tidak mau jika berpisah kamar dengan istrinya. Kemudian Adi menggenggam tangan Rika.
__ADS_1
Dia sebenarnya ingin mengatakan siapa dirinya sebenarnya, tapi takut membuat Rika kaget, karena wanita itu tahu jika dirinya adalah seorang petani dan pria biasa.
"Katakan! Atau aku akan benar-benar tidur bersama dengan Mela! Dan aku tidak ingin kembali kepadamu sebelum kamu mengatakan yang sejujurnya!"
Mendengar itu tentu saja Adi panik. "Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi kamu jangan kaget ya!"
"Oke, aku tidak akan kaget," jawab Rika.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, saat ini Rika merasa deg-degan, karena entah kenapa dia merasa bahwa sebentar lagi akan ada kenyataan yang begitu mengejutkan dirinya.
Kemudian Adi membuka kotak tersebut yang berisi 3 batang emas, lalu mengeluarkannya. "Kau ingin tahu emase-mas ini dari mana?"
"Itu yang kutunggu dari tadi, Mas," jawab Rika dengan gemas.
"Baiklah. Kamu benar sayang, kita sudah menikah dan tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Apapun itu, aku juga tidak mungkin menyembunyikan identitasku kepadamu."
Mendengar penuturan suaminya, Rika merasa sepertinya akan ada rahasia besar yang dibongkar oleh Adi. Jujur dia tidak sabar, namun dirinya juga merasa deg-degan.
"Sejujurnya aku bukanlah seorang petani," jelas Adi.
Namun terlihat wajah Adi begitu serius, membuat Rika yang melihatnya pun seketika menghentikan tawanya.
"Sejujurnya aku bukanlah dari kalangan bawah, aku memiliki beberapa perusahaan. Jika dijelaskan panjang ceritanya, namun aku harus bersembunyi untuk keselamatan Mella."
"Keselamatan Mela? Maksud kamu apa, Mas?" Bingung Rika.
Kemudian Adi pun menjelaskan jika sudah 10 tahun dia berada di desa itu, untuk keselamatan Mela. Sebab dulu saat Mela masih berseragam SMP, musuh dari ayahnya menyerang hingga membuat mereka kecelakaan, dan Mela terkena benturan yang cukup keras, hingga membuat separuh ingatannya hilang. Sedangkan kedua orang tuanya meninggal.
Adi hanya ingin melindungi adiknya. Berbagai cara sudah ia lakukan, namun banyak musuh di dalam selimut, akhirnya Adi pun memutuskan untuk pergi dan menghilangkan jejak dengan tinggal di desa tersebut.
Sementara Rika hanya dia menyimak penjelasan sang suami.
Adi juga menjelaskan jika dia dari kalangan orang atas, bahkan memiliki banyak perusahaan yang dikelola oleh asisten pribadinya. Dia hanya mengecek lewat email saja, dan setiap bulannya Adi akan mendapatkan transferan untuk kebutuhan hidup mereka, itu kenapa tidak pernah kekurangan sedikitpun.
"Tunggu! Tunggu! Ini kenapa macam novel-novel sih Mas? Identitas tersembunyi gitu, maksudnya?"
__ADS_1
"Itulah faktanya sayang," jawab Adi.
"Tapi apa Mela tahu kalau kamu itu anak orang kaya? Maksudku kalian berasal dari keluarga yang berada?"
Adi menggelengkan kepalanya, dia juga menjelaskan jika setelah Mela keluar dari rumah sakit, pria itu langsung membawanya untuk tinggal di desa ini. Sehingga membuat Mela tidak mengingat masa lalunya.
Mendenganld hal tersebut, tentu saja Rika merasa kasihan kepada adik iparnya. Dia tidak menyangka jika Mela ternyata hilang Ingatan.
"Tapi sayang, kamu jangan sampai membocorkan hal ini. Aku juga sudah meminta anak buah dari sahabatku untuk berjaga, karena jujur walaupun anak buahku banyak, entah kenapa aku tidak mempercayai mereka. Banyak musuh di dalam selimut, itu membuatku harus waspada demi keselamatan kami."
Mendengar itu Rika menganggukkan kepalanya, kemudian dia langsung memeluk tubuh Adi. Wanita itu tidak menyangka jika Adi ternyata bukanlah orang biasa.
Dia merasa hidupnya seperti berada di dalam novel-novel, di mana seorang suami berpura-pura menjadi miskin, tapi ternyata dia adalah orang terkaya.
"Sepertinya enak kalau dijadikan judul novel ya Mas, suamiku ternyata bukan cupu, tapi suhu." kekeh Rika membuat Adi seketika mencubit hidungnya dengan gemas.
"Ya sudah_ sebaiknya kita tidur yuk! Oh iya, apa kamu ingin membeli AC? Aku lihat akhir-akhir ini kamu sepertinya kelelahan dan sering merasa gerah."
Mendengar itu Rika menggelengkan kepalanya, kemudian dia mencubit kedua pipi Adi dengan gemas, membuat pria itu sedikit meringis.
"Kamu ini gimana sih Mas? Kita ini orang miskin, masa iya beli AC? Apa kata dunia?" Keke Rika. "Sebaiknya kamu beli kipas angin aja, memang akhir-akhir ini aku sering merasa gerah."
Mendengar itu Adi menyetujui, besok dia akan membeli kipas untuk istrinya. Setelah itu Rika merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di pangkuan sang suami, sementara Adi mengusap ke kepala Rika dengan lembut.
"Andai kamu membongkar identitasmu di hadapan Papa dan Mama, Mas. Pasti mereka akan menerimamu," ucap Rika sambil menonton TV.
"Untuk apa, sayang? Aku tidak ingin itu. Biarkan mereka mengetahui jika aku bukan orang yang berada, orang tuamu mungkin bisa menerima tapi dengan terpaksa. Aku ingin mereka menerimaku dengan tulus, tapi nanti jika aku memberikan pelajaran kepada mereka tidak masalah ya?"
Mendengar itu Rika hanya menganggukkan kepalanya. "Oke, tidak masalah," jawab Rika. "Tapi jangan sampai menyakiti mereka ya!"
"Siap Ratuku," ujar Adi sambil mengecup kening Rika dengan lembut.
Dia merasa lega karena Rika sudah mengetahui identitasnya, karena jujur saja Adi merasa selama ini dia gundah, gelisah, sebab menyembunyikan identitasnya kepada sang istri. Tapi sekarang semuanya sudah terungkap, dan Adi benar-benar merasa seperti beban dalam hidupnya hilang begitu saja.
Akan tetapi tetap Adi harus memberikan penjagaan yang ketat kepada Mela dan juga istrinya. Sebab Ia tidak mau jika musuh dari Ayahnya masih berniat untuk mencelakai dirinya. Sebab asisten pribadinya yang bernama Vano, masih mengabarkan jika musuh Adi masih Mencari keberadaannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG .....