
Happy reading ....
Mela mendekat ke arah Dimas, dia melihat banyak sekali botol minuman yang berserakan di sana, wanita itu merasa miris melihat kondisi Dimas.
"Kak?" panggil Mela.
Dimas menoleh, akan tetapi dia melihat jika itu bukan istrinya, melainkan Natasha.
au apa lagi kamu ke sini, hah? Tidak puaskah kamu sudah membuat hidupku hancur, Natasha? Apa kau tidak puas!" bentak Dimas dengan suara merancau.
"Kak, ini aku .. Mela, bukan Natasha."
"Mela? Hahaha ... kamu bohong. Tau apa kamu tentang istriku, hah? Dia hanyalah wanita yang dititipkan suaminya kepadaku. Dia hanya wanita kasihan yang harus kulindungi. Jika bukan karena kakaknya, aku juga tidak ingin menikah. Aku tidak ingin berkomitmen dalam sebuah pernikahan." Dimas terus merancau.
Hati Mela teriris sakit saat mendengar penuturan pria tersebut. Memang saat ini Dimas sedang tidak sadar, akan tetapi ketidak sadaran seseorang membuat ucapannya selalu benar, karena biasanya itu di bawah alam sadar.
"Jadi selama ini kamu kasihan kepadaku, Kak?"
"Kau pikir apa, Natasha? Aku sangat mencintaimu, tapi kau malah menghianatiku. Kenapa Natasha? Kenapa!" teriak Dimas.
Mela memejamkan matanya, hatinya terluka saat mendengar jika suaminya mencintai wanita lain. Walaupun Mela tidak mencintai Dimas, tetapi mendengar pria tersebut menyebut nama wanita lain membuat telinganya mendadak panas.
Namun Mela menyingkirkan egonya terlebih dahulu, kemudian dia memapah Dimas untuk masuk ke dalam kamar walaupun pria itu menolak.
"Ini sudah pagi Kak, tidak baik anginnya besar. Ayo kita masuk ke dalam!" Mela menuntun Dimas dengan jalan yang sedikit sempoyongan.
__ADS_1
Pria itu direbahkan di atas ranjang, kemudian Mela langsung melepaskan baju yang terkena muntahan Dimas..
"Uuweek!" Mela mual saat mencium bau alkohol yang begitu menyengat di mulut Dimas, dia menutup hidungnya.
Saat wanita itu akan pergi, tiba-tiba Dimas menariknya hingga Mela akhirnya jatuh di atas tubuh pria itu.
"Kau adalah wanita jalaang. Kau menjajakan tubuhmu pada pria lain. Untuk apa kau ada di sana? Tidak kusangka, ternyata kau semurahan itu Natasha." Lagi-lagi Dimas merancang dan membuat Mela merasa sakitm
'Apakah dia terukir sangat dalam di hatimu, Kak? Sampai kamu terus saja merancau memanggil namanya, walaupun dia sudah menorehkan luka kepadamu?' batin Mela.
Dia mencoba untuk pergi, akan tetapi Dimas memeluknya dengan erat, hingga Mela tidak bisa melepaskan diri akhirnya ia pun tertidur di sana.
.
.
Begitu pula dengan Mela, dia juga membuka matanya. Dan kedua orang itu pun membulat kaget saat ternyata mereka tidur seranjang.
Beberapa detik tatapan mereka terkunci, hingga pada akhirnya Dimas berkata, "Untuk apa kamu di sini? Kenapa kamu tidur di kamarku, hah?"
Mela yang sadar segera bangkit dari ranjang sambil memegangi perutnya yang buncit. "Kakak sendiri yang menarikku. Aku ingin pergi, tapi Kakak menahan."
"Aku?" tunjuk Dimas pada wajahnya dan Mela hanya mengangguk.
"Semalam Kakak mabuk, dan terus aja merancau memanggil nama Natasha," tutur Mela.
__ADS_1
"Apa! Natasha?" kaget Dimas dan langsung dibalas anggukkan mantap oleh Mela.
"Tapi untuk apa kamu tidur di sini, hah?" Lagi-lagi Dimas menatap ke arah Mela dengan tak suka karena mereka sudah berkomitmen untuk pisah.
"Aku--"
"Sudah kubilang dari awal, kita menikah ini tanpa cinta. Aku tidak pernah mencintaimu, jadi jangan pernah menjebakku. Atau jangan pernah menggoda diriku! Karena aku tidak pernah mau membuka hati ini untuk satu kata, yaitu cinta. Kau paham!" bentak Dimas.
Entah kenapa mood-nya seketika menjadi hancur saat mendengar kata Natasha, orang yang selama ini dia hapus di dalam hatinya.
"Apa! Jadi Kakak berpikir kalau aku yang menggoda Kakak, begitu? Terserah ... pikir aja sendiri semalam ngapain." kesal Mela, kemudian dia pergi dari kamar itu lalu membanting pintu kamar Dimas dengan kesal.
Dia tak menyangka jika pikiran Dimas sepicik itu, berpikir bahwa dirinya menggoda pria tersebut. Padahal semalam melayang menolong Dimas.
"Ada apa dengan pria menyebalkan itu? Semalam dia merancau nama mantannya terus-menerus, tapi aku yang disalahkan. Menyebalkan!" gerutu Mela sambil menuruni tangga.
Dimas melihat ke arah bajunya yang ada di lantai, kemudian dia berjalan ke arah balkon dan melihat beberapa botol minuman, seketika rasa bersalah terlintas di benak pria itu terhadap Mella.
Dimas mengacak rambutnya, kemudian dia berjalan ke arah luar tanpa memakai baju untuk meminta maaf kepada Mela.
Saat dia keluar kamar, melihat Mela masih berada di tangga, karena wanita itu turun dengan perlahan sebab Ia takut jika kepeleset dan malah terjadi apa-apa dengan kandungannya
"Mela tunggu!" ucap Dimas.
Mela menengok, akan tetapi kakinya tidak sengaja terpeleset hingga ... "Aaakhh!" jerit Mela.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....