
Happy reading ....
Sementara di tempat lain saat ini Revan dan juga Mela sedang duduk di salah satu Cafe yang tak jauh dari desa tersebut.
Sejujurnya Mela sangat gugup, karena ini baru pertama kali dia keluar bersama dengan seorang pria di malam hari, apalagi harus makan berdua seperti itu.
"Kenapa malah diam? Ayo dimakan! Aku tidak meracunimu, tenang saja," kekeh Revan saat melihat Mela diam saja, tidak menyentuh makanannya.
"Iya," jawab Mela dengan singkat, kemudian dia mulai menyantap makanan itu.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau untuk menerima tawaran ku," ujar Revan.
"Sama-sama, tapi apa Bu Tia tidak marah kamu jalan denganku?" tanya Mela memastikan.
Mendengar itu Revan malah terkekeh. "Marah kenapa? Emangnya aku ini sedang mencuri?"
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku takut jika Bu Tia tidak suka kamu jalan denganku. Sebab aku ini kan hanya dari kalangan orang biasa, sedangkan keluargamu dari kalangan orang berada."
Mendengar itu Revan menghentikan makannya, dia menatap lekat ke arah Mela. Jujur saja tidak ada rasa membandingkan dalam diri Revan, apalagi terhadap Mela. Walaupun dia tahu wanita itu dari kalangan bawah.
Sementara Mela merasa takut jika nanti Bu Tia akan marah dan tidak menyukainya, dia takut jika nanti Ibu Tia malah berpikir kalau Mela sedang menggoda putranya. Padahal sama sekali tidak.
"Pemikiranmu itu sangat pendek sekali ya."
Mendengar hal tersebut Mela mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Kenapa Ibuku harus marah hanya karena kamu orang dari kalangan bawah? Setiap manusia itu kastanya sama, hanya yang membedakan adalah harta saja. Padahal di mata Tuhan kita sama saja terbuat dari tanah, jadi tidak ada yang bisa membedakan. Jika pandangan seperti itu hanya dari yang lain saja, tapi bagiku dan mama kita semua sama," jelas Revan.
Mendengar hal itu Mela bisa tersenyum lega, setidaknya apa yang dia pikirkan tidak terjadi. Dan setelah makan malam selesai, Revan menggenggam tangan wanita tersebut, membuat Mela seketika menatap ke arahnya.
Revan menatap lekat ke arahnya, membuat wanita itu menjadi gugup.
"Mela, aku tidak tahu, entah kenapa saat pertama kali melihatmu, hatiku langsung bergetar. Aku merasa sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadamu. Dan malam ini sejujurnya aku mengajakmu makan malam, bukan hanya semata-mata ingin jalan saja, tapi ada yang ingin aku ungkapkan kepadamu." Sejenak Revan menghentikan ucapannya.
Membuat Mela menjadi tegang, karena mendengar ucapan dari pria itu yang tak pernah ia sangka sebelumnya.
__ADS_1
"Mela, maukah kamu menjadi kekasihku? Jika kamu menerimaku, kita akan berbicara dengan mama dan aku akan melamarmu. Jujur aku tidak ingin berpacaran, karena aku yakin kamu adalah wanita baik-baik. Tidak peduli mau kamu dari kalangan bawah atau tidak."
Mela membulat dengan tatapan yang begitu kaget saat mendengar penuturan Revan, di mana pria itu menyatakan perasaannya kepada dirinya.
Wanita itu masih terpaku, karena dia masih tidak menyangka. Kemudian Revan memanggilnya kembali. "Mela_ kenapa kamu diam aja? Apa kamu tidak mau?"
"Maaf Mas, ini sangat tiba-tiba. Aku benar-benar kaget, kenapa bisa kamu jatuh cinta padaku? Aku ini hanyalah orang miskin, tidak mempunyai apa-apa. Sedangkan keluargamu dari kalangan orang berada. Bagaimana jika nanti keluargamu tidak menerima aku?" ujar Mela dengan wajah yang sendu.
Bohong jika dia juga tidak memiliki perasaan yang sama saat berada di dekat Revan. Mela juga merasa nyaman, yang tak pernah ia rasakan saat berada dengan orang lain. Apalagi itu pertama kalinya Mela dekat dengan seorang pria.
"Mama sudah merestui, aku juga sudah berbicara kepada Mama. Tapi besok aku harus kembali ke kota, sebab ada kerjaan yang tak bisa aku tinggalkan. Dan nanti aku akan pulang ke sini saat akan melamarmuu. Dan jika kamu menerima aku sebagai kekasihmu, maka aku akan langsung menuntaskan pekerjaanku. Setelah itu kita akan merencanakan untuk lamaran dan pernikahan kita nanti," jelas Revan.
Mendengar itu Mela terdiam saat mendengar jika pria tersebut harus pulang ke kota.
"Bagaimana, Mela?"
Wanita itu tersadar dari lamunannya, kemudian dia menatap ke arah Revan, lalu Mela pun menganggukan kepalanya. "Baiklah, aku mau," jawab Mela sambil tersipu malu.
"Benarkah?" tanya Revan memastikan dengan wajah berbinar, dan Mela langsung menganggukkan kepala.
.
.
Mela masuk dengan wajah berbinar bahagia ke dalam rumah. Bagaimana tidak? Perasaannya saat ini tengah berbunga-bunga, apalagi sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
"Baru pulang kamu?" tanya Adi saat Mela akan masuk ke dalam kamar.
"Eh Mas Adi, belum tidur? Iya Mas," jawab Mela dengan gugup.
Adi melihat ada yang berbeda dari sang adik, di mana wajah adiknya terlihat berbinar bahagia. Kmudian dia menatap ke arah tangan Mela, di mana sebuah cincin tersemat begitu indah di jari manisnya.
"Itu cincin dari mana? Jangan bilang kalau pria itu yang memberikannya?" tebak Adi.
Mela mengangguk, "Iya Mas, aku dan juga Mas Revan sudah jadian. Dan rencananya Mas Revan akan segera melamarku. Apa Mas Adi setuju?" tanya Mela dengan wajah sedikit takut.
__ADS_1
Adi cukup kaget, saat mendengar penuturan dari sang adik. Namun dia sudah memperkirakan itu, karena beberapa anak buah dari Dimasta juga sudah melaporkannya tadi.
"Mas merestui dengan siapapun itu, asalkan dia bisa membahagiakanmu dan tidak menyakitimu. Jika itu bisa membuatmu bahagia, kenapa Mas harus menghalanginya," ujar Adi sambil memeluk tubuh Mela.
Mendengar hal tersebut Mela tentu saja sangat bahagia. Kemudian dia kembali memeluk Adi. "Jadi Mas beneran menyetujui hubungan kami?"
Adi menganggukkan kepalanya. "Besok suruh dia menemui Mas sebelum pergi ke kota ya! Kalau gitu Mas masuk dulu ke kamar."
Mela tersenyum, namun seketika dia merasa heran dari mana Adi mengetahui jika Revan besok akan pergi ke kota? Sedangkan wanita itu belum menceritakannya kepada Adi, dia baru bilang tentang hubungannya bersama dengan Revan.
Namun Mela tidak mau ambil pusing, dia langsung masuk ke dalam kamar dengan hati yang bahagia dan berbunga-bunga, sambil terus melihat cincin melingkar di jari manisnya. Kemudian tidur dengan tersenyum.
.
.
Pagi hari Adi sudah siap untuk pergi ke ladang seperti biasanya, namun saat sampai di sana pria itu merasa geram karena melihat ladangnya kembali kacau.
Bahkan kali ini bukan mati karena racun. Akan tetapi karena hewan, ada beberapa bangkai babi yang bertebaran di sana.
Kemudian seseorang menghampiri Adi. "Maafkan saya Tuan, semalam ada segerombolan babi masuk ke dalam sini. Namun hanya beberapa yang bisa kami bunuh," ucap anak buah dari Dimasta.
"Apa kau sudah menyelidiki siapa dalang dari semua ini? Tidak mungkin tiba-tiba saja ada babi."
"Sudah Tuan, dan orang itu masih sama."
Adi memejamkan matanya sambil menghela nafas dengan kasar. Dia benar-benar tak menyangka jika mertua dan juga pria yang dijodohkan dengan Rika begitu ngotot ingin menghancurkan dirinya.
"Rupanya mereka benar-benar ingin menghancurkanku. Jika itu yang mereka inginkan, maka aku yang akan menghancurkan mereka. Hubungi Dimas, suruh dia untuk ke sini bersama dengan Vano!"
"Baik Tuan."
Kali ini Adi tidak bisa lagi mentoleransi sikap dari mertua dan juga dari Galang. Entah Adi pun tidak tahu, apa yang ada di pikiran mertuanya. Seharusnya dia mendukung Adi dan membantunya untuk kelangsungan hidup mereka, tapi ini malah menghancurkannya.
"Kalian membuat kesabaranku habis. Dan kalian akan menanggung akibatnya!" geram Adi sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....