
Happy reading....
Hampir satu malam Mela tidak bisa tidur, karena kejadian tadi di hotel membuatnya benar-benar ketakutan. Sementara Revan terus saja berada di sisi Mela untuk menenangkan istrinya.
Hingga jam 03.00 pagi wanita itu pun akhirnya bisa tertidur. Revan bisa bernafas dengan lega saat melihat Mela sudah tertidur pulas dalam pelukannya.
'Gagal deh malam ini mencetak gol. Padahal harusnya malam ini menjadi malam yang begitu indah dan menegangkan. Seharusnya malam ini juga aku dan Mela bermandikan keringat disertai dengan suara-suara yang begitu memabukkan dari istriku. Tapi, malah harus dikacaukan dengan ulah seseorang!" gerutu Revan di dalam hati.
Bohong jika ia tidak kesal. Bagaimana mungkin bisa Revan membendung kekesalannya, sebab harusnya malam itu menjadi malam yang indah bagi dia dan Mela.
Akan tetapi, harus kandas karena seseorang yang entah siapa itu, Revan pun tidak tahu. Akhirnya dia pun ikut tidur sambil menahan rasa ingin memiliki Mela seutuhnya.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja. Toh pada akhirnya bisa dilakukan juga saat Mela keadaannya sudah jauh lebih baik," gumam Revan.
Pagi hari Rika sudah terbangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya dibantu para pelayan robot di sana. Dia heran, sebab pelayan di sana yang katanya robot bisa bekerja layaknya manusia, bahkan tidak kaku dari cara jalan ataupun berbicara.
'Mas Adi benar-benar jenius, bisa menciptakan manusia robot seperti ini. Bahkan dari cara jalan dan juga lain-lain pun seperti manusia normal pada umumnya,' batin Amanda yang merasa kagum kepada kejeniusan sang suami.
Dia melihat sudah jam 06.30 pagi, tapi Mela belum bangun juga. Dia mendengar dari pelayan jika semalam Mela dibawa pulang, wanita itu merasa heran namun tidak mau banyak tanya dan tidak mau mengganggu sang adik.
"Pagi istriku sayang," sapa Adi sambil mencium pipi Rika dari samping dan memeluknya dari belakang.
"Pagi suami tampanku. Oh iya sayang, kata pelayan tadi malam Mela dan juga Revan pulang ke rumah, ya? Bukannya seharusnya mereka ada di hotel ya?" tanya Rika sambil menatap sang suami dengan dalam.
Terlihat Adi menghela nafas dengan gusar, kemudian dia duduk dan meminum kopi yang baru saja dibuatkan oleh Rika, membuat wanita itu merasa heran karena terlihat suaminya yang terlihat begitu cemas.
"Apa Mela belum bangun?" tanya Adi, dan Rika langsung menggelengkan kepalanya.
"Mungkin mereka kelelahan, sebab semalam habis bertempur," kekeh Rika dan Adi pun ikut tertawa kecil.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku sayang! Kenapa mereka pulang?" Rika menatap dengan alis terangkat.
__ADS_1
"Yaah ... mereka pulang sebab di hotel ada insiden yang cukup mengkhawatirkan, jadi aku membawa Mela untuk pulang " Adi pada akhirnya berbicara jujur kepada Rika.
Membuat wanita itu seketika membulatkan mata dengan dada yang sudah berdebar, karena dia khawatir dengan keadaan Mela. Namun Adi segera menenangkan istrinya, jika semua baik-baik saja, apalagi sekarang ada Revan yang selalu ada di sisi Mella.
"Kamu yakin Mas, tidak akan terjadi apa-apa sama Mela?" tanya Rika dengan nada yang begitu cemas.
"Tidak akan sayangku. Sudah tidak usah khawatir! Lagi pula, pengantin baru itu pasti sedang berolahraga panas pagi ini," goda Adi kembali, membuat Rika seketika tersenyum malu karena dia juga pernah berada di posisi Mela.
Sementara di lantai atas, tepatnya di kamar Mela, saat ini wanita itu baru saja mengedipkan matanya. Dia membuka mata sambil menguap, namun satu hal yang baru dilihatnya adalah wajah tampan seorang pria yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Sebuah senyuman terukir di wajah cantik wanita itu. Dia menatap lekat ke arah Revan, ingatannya tertuju pada tadi malam di mana Revan terus saja menenangkan dirinya saat dia merasa ketakutan.
'Aku benar-benar beruntung memiliki Mas Revan. Dia mampu menenangkanku disaat aku benar-benar ketakutan. Terima kasih sayang, kamu sudah menjadi pangeran dan raja di dalam hidupku.' batin Mela sambil mengusap pipi Revan dengan lembut.
Usapan itu membuat Revan seketika mengerjapkan matanya, karena dia merasa geli. Dan satu tangan langsung menangkap tangan Mela, membuat wanita tersebut hanya bisa menahan senyumnya.
"Maaf ya, semalam aku membuat kamu begadang sayang," ucap Mela.
"Kamu tahu, semalam bahkan aku gagal untuk mencetak gol. Seharusnya aku bisa mencetak 10 ronde gol, tapi ..." Revan menggantung ucapannya sambil menatap nakal ke arah Mela.
Mendengar ucapan suaminya, Mela menatap tajam sambil mencubit perut Revan, membuat pria itu mengaduh. "Dasar pria meesum!" desis Mella.
"Meesum meesum juga sudah sah menjadi suami kamu," goda Revan lagi sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Mela seketika merona malu sambil terkekeh.
"Apa boleh, sayang?" tanya Revan lagi dengan tatapan memohon ke arah sang istri.
"Boleh, apa?" Mela pura-pura tidak mengerti dengan permintaan sang suami.
"Ayolah sayang! Apa kamu tidak kasihan? Nih burung unta dibawah sana sudah meronta ingin keluar dari sarang. Apa kamu tidak merasakannya?" Revan menggesekkan burung untanya di pahaa Mela, membuat wanita itu menahan jeritannya dengan tatapan membulat dan pipi semakin merah merona.
Dia tidak menyangka jika Revan bukan hanya nakal, tetapi pria yang cukup meesum.
__ADS_1
"Kamu ya, ternyata nakal juga."
"Nakal sama istri sendiri itu tidak dosa, tapi pahala," goda Revan kembali. "Boleh ya sayang!" pinta Revan lagi.
Mela tidak tega melihat tatapan sang suami, di mana seharusnya semalam kesuciannya yang ia berikan, tapi karena ada insiden akhirnya harus terhalang.
Lalu Mela pun menganggukan kepalanya, membuat Revan seketika menatapnya dengan tatapan berbinar dengan bahagia.
"Iya boleh, tapi pelan-pelan ya! Soalnya kan ini yang pertama untuk kita, jadi--"
"Aku akan pelan-pelan kok sayang, tenang aja. Bahkan aku akan memperlakukanmu selembut sutra." Revan mengedipkan matanya.
Kemudian dia mulai mendekatkan wajahnya, lalu membaca doa sambil menempelkan tangan di atas kepala Mela, dan setelah itu pagutan mesra pun mulai tercipta pada dua insan yang sedang mereguk kasih di pagi hari.
Kecapaan demi kecapaan terdengar begitu nyaring di kamar itu. Helaan nafas yang semakin kasar dan memburu terdengar dari kedua manusia yang saat ini tengah dilanda gairaah yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
Satu tangan Revan mulai nakal menggerayaangi sesuatu, yang tak lain adalah kacamata kuda milik Mela, hingga membuat wanita itu mendesis menahan sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat semua baju Mela sudah terlepas, kini tinggallah kain segitiga berwarna merah di bawah sana. Revan menatap liar ke arah dua gundukan yang begitu kenyal dan menantang di hadapannya, dan tanpa aba-aba pria itu pun langsung melahapnya dengan gerakan yang begitu eksotis, membuat Mela memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.
Saat gerakan itu semakin ke bawah dan semakin membuat tubuh Mela melengkung menahan rasa yang begitu nikmat, tiba-tiba saja harus terhenti karena ketokan pintu di kamar wanita itu, membuat seketika olahraga panas keduanya yang hampir saja akan mencetak gol harus tertunda.
"Astaga! Tidak di hotel, tidak di rumah, tidak visakah mereka tenang sedikit? Ini baru pemanasan, belum main bola. Kenapa kalian terus aja mengganggu aktivitasku!" gerutu Revan sambil mengusap wajahnya dengan kasar, sementara Mela hanya terkekeh saja.
"Sabar sayang!"
"Aku sudah sabar, tapi lihat burung untakku! Sudah ingin masuk ke dalam sarang. Apa kamu tidak lihat, dia bahkan sudah siap untuk bertempur." Lagi-lagi Revan mengacak rambutnya karena dia merasa kesal, sebab aktivitas panasnya selalu saja diganggu.
BERSAMBUNG.....
Kasihan Revan, lagi lagi gagal🤣🤣🤣
__ADS_1