Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Teror Ular


__ADS_3

Happy reading ....


Rika yang mendengar teriakan sang suami pun segera keluar dari kamar, begitu pula dengan Mela. Dia yang baru akan memejamkan matanya seketika terkejut saat mendengar teriakan sang Kaka.


"Ada apa, Mas?" tanya Rika dengan panik, namun seketika matanya tertuju pada lantai, dia pun menjerit, "Aakhh! Ular!" teriak Rika.


Mela keluar dari kamarnya dan dia melihat Rika tengah teriak. "Mana ularnya, Mbak?" tanya Mela.


Rika menunjuk ke arah lantai di mana ularnya semakin mendekat, dan melihat itu Mela tentu saja sangat panik.


"Kalian masuk kamar, cepat!" teriak Adi.


"Ayo Mas! Kamu juga masuk ke dalam kamar!" jerit Rika dengan wajah yang sudah dilanda ketakutan.


"Aku akan menangani ular-ular ini, cepat masuk ke dalam kamar!" titah Adi dengan tegas.


Rika menolak, namun Adi memerintahkannya hingga mau tidak mau wanita itu pun masuk ke dalam kamar, begitu pula dengan Mela. Mereka sangat ketakutan, namun Rika juga cemas dengan keadaan sang suami.


Dia saat ini tengah berada di kamarnya Mela, memeluk adik iparnya. Kedua wanita itu benar-benar sangat ketakutan dan merasa panik, karena tiba-tiba saja ada ular di rumah mereka.


"Mbak, itu ular dari mana ya? Aduh! Aku takut banget," ucap Mela dengan lirih.


Terdengar suara pintu di dobrak, dan ternyata itu adalah anak buahnya Dimasta. "Kalian ini bagaimana?! Bodoh sekali! Kenapa bisa ada ular masuk ke dalam rumah ku, hah!" bentak Adi sambil menatap tajam ke arah anak buah Dimas.


"Maaf Tuan, tadi ada seseorang melemparkan batu lalu memasukkan karung ke dalam sini. Saya sudah mengejarnya, akan tetapi orang itu berhasil kabur Tuan," jawaban salah satu anak buah Dimas.


"Cepat urus ular-ular itu!" titah Adi.


Pria itu menganggukan kepalanya, kemudian dia mulai menjinakkan ular tersebut dan menangkapnya satu persatu. Sementara Mela menatap ke arah Rika dengan bingung, sebab mendengar sang Kakak sedang marah-marah kepada seseorang


Mela juga mendengar ada suara orang lain di luar. "Mbak, itu suara siapa ya? Mas Adi sedang berbicara dengan siapa?" bingung Mela. "Kok terdengar marah-marah?"

__ADS_1


Rika tahu jika Adi pasti sedang berbicara dengan anak buah Dimasta, karena dia juga mengetahui jika selama ini anak buah Dimas memantau keadaan mereka atas perintah Adi, sebab pria itu sudah menceritakan segalanya kepada Rika, karena tidak ada yang ditutupi sama sekali.


"Mungkin itu warga," jawab Rika mencoba menenangkan ketakutan Mela.


Akan tetapi gadis itu tidak bisa dibohongi, jika dipikir secara logika jika itu warga, kenapa sang kaka harus marah-marah.


"Kayaknya nggak mungkin deh, Mbak. Kalau warga, kenapa Mas Adi marah-marah? Seharusnya kan bukannya dia minta tolong ya?" bingung Mela.


"Sudahlah, jangan tahu dipikirkan! Mbak malah mengkhawatirkan keadaannya Mas Adi sekarang."


Dua wanita itu pun masih saling berpelukan, mengingat tentang keselamatan Adi di luar sana. Dan setelah beberapa saat pintu kamar pun terbuka, terlihat keringat bercucuran dari kening Adi, karena tadi dia sempat membantu anak buah Dimas untuk menangkap ular tersebut yang berjumlah 10.


Pria itu pun sudah memastikan jika tidak ada ular yang menyalip di rumahnya, untuk keselamatan Rika maupun Mela.


"Mas, kamu nggak papa kan?" tanya Rika dengan cemas sambil memeluk tubuh Adi.


"Aku tidak apa-apa sayang, tidak usah khawatir," Jawab Adi sambil mengecup kening Rika.


"Sudah semua, kalian tenang saja. Mella, kamu lanjutkan tidur ya! Kamu juga sayang, ayo ini sudah malam!" ajak Adi kepada istrinya.


"Tapi jendela rumah kita, Mas?"


"Tenang saja. Besok baru akan aku benerin, sekarang kita tidur ini sudah jam 12.00," ujar Adi dan langsung dibalas anggukan oleh Rika maupun Mela.


Entah kenapa Mela tidak bisa memejamkan matanya, karena dia masih kepikiran dengan kejadian tadi. Wanita itu merasa heran, entah siapa yang sudah meneror keluarganya dengan ular berbisa seperti itu.


"Apa ini ulah dari keluarganya Mbak Rika? Tapi jika Iya, kenapa mereka sekejam itu? Tidakkah orang tua memikirkan keselamatan putrinya?" gumam Mela bertanya-tanya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Sementara di kamar sebelah, Rika saat ini tengah tidur di atas lengan sang suami sambil memainkan jari tangannya di atas dada bidang kekar milik Adi.


"Mas, sejujurnya aku curiga jika ini ulahnya papa," ucap Rika.

__ADS_1


"Iya, aku juga berpikiran yang sama sayang. Dan sepertinya kita akan pindah dari sini," jawab Adi sambil menatap lurus ke arah langit-langit kamar.


Rika yang mendengar penuturan suaminya pun menjadi kaget, dia bangkit dari tidurnya lalu menatap ke arah Adi. "Pindah? Mau pindah ke mana, Mas?"


"Sudah tidur saja dulu! Itu masih dalam pikiranku. Jujur aku merasa cemas dengan keselamatan kalian, dan kalian adalah yang utama bagiku. Aku harus membicarakan ini dulu dengan Dimas dan juga Vano," jawab Adi.


Rika menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya hatinya saat ini sedang merasa cemas. Dia mencoba untuk memejamkan mata dan akhirnya bisa tertidur dengan pulas.


Sementara Adi setelah melihat istrinya sudah tidur, beranjak dari ranjang lalu dia mengambil ponsel yang berada di dalam laci kemudian mengirimkan pesan kepada Dimasta.


Adi: (Jangan pulang dulu ke kota! Besok kita perlu bicara).


Dimas: (Iya, aku juga ingin bicara. Tadi kata anak buahku, ada yang memasukkan ular ke dalam rumahmu, benarkah itu?)


Adi: (Iya, itu kenapa aku menyuruhmu untuk tidak pulang dulu ke kota).


Dimas: (Baik, kau nanti ke rumah saja!)


Setelah berbalas pesan dengan Dimasta, Adi memasukkan ponsel itu kembali ke dalam laci. Dia menghela nafasnya dengan gusar, tangannya terkepal dengan kuat, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang begitu tajam.


'Jika ini memang benar karena perbuatan mereka, tidak akan pernah ku maafkan! Mereka benar-benar sudah membuatku sangat marah. Aku selama ini diam, ingin melihat sampai mana keberanian mereka. Namun, ternyata ini sudah melampaui batas, bahkan bisa mencelakakan adik dan juga istriku!' batin Adi merasa geram.


Pria itu juga tidak lupa mengirimkan pesan tadi kepada Vano, meminta Vano untuk segera menjalankan rencana mereka.


Dia melihat ke arah Rika mengusap kepalanya dengan lembut. Entah apa yang ada di dalam pikiran kedua orang tua istrinya, sehingga membuat ulah yang begitu sangat membahayakan nyawa putrinya sendiri.


'Ternyata harta sudah membutakan mata hati mereka, sehingga tidak perduli dengan keselamatan Rika. Apalagi saat ini dia tengah mengandung. Aku tidak akan pernah membiarkan ini terjadi! Lihatlah besok bom yang akan sangat besar meledak di perusahaan Papa mertua! Aku akan membuat kalian menanggung akibatnya!' geram Adi dengan tangan terkepal.


Iya, rencana sudah dijalankan beberapa hari yang lalu, di mana besok kejutan yang akan sangat besar didapatkan oleh Papa Renal dan juga Galang. Dan Adi sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi mereka berdua.


BERSAMBUNG .....

__ADS_1


__ADS_2