
Happy reading....
Di tempat lain, di sebuah kantor yang mewah dan megah. Saat ini papa Renal tengah terduduk sambil menerima laporan dari anak buahnya jika mereka sudah berhasil mengacaukan tanaman milik Adi.
Senyum yang begitu merekah terukir indah di wajah pria itu. Dia begitu puas saat mendengar kabar jika anak buahnya sudah berhasil memporak-porandakan tanaman Adi.
"Dia pasti saat ini sedang kelimpungan mencari dana. Lagian siapa suruh menantang diriku? Tentu saja aku tidak akan membiarkan Rika menurut kepadanya. Dia sudah berani menguasai putriku, hingga Rika melawan dan tidak mau mendengarkan perintahku!" geram Papa Renal.
Dia begitu benci kepada Adi, sebab papanRenal berpikir Adi menghasut Rika untuk membencinya dan juga sang istri. Sebab saat Rika mengenal Adi, wanita itu tidak mau menuruti perintahnya lagi, bahkan untuk dijodohkan dengan Galang.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dan ternyata yang masuk adalah Galang. Sebab mereka sudah janjian untuk membicarakan perihal Adi.
"Bagaimana Om? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Galang saat duduk di sofa.
"Kamu tenang aja. Semuanya berjalan dengan lancar. Om yakin, pria itu saat ini sedang kesusahan mencari dana untuk menanam padi dan juga sayur-mayurnya lagi. Lagian siapa suruh orang miskin ngelawan Om? Sok-sokan lagi," jawab Papa Renal sambil tersenyum sinis.
Galang yang mendengar itu pun tertawa puas, dia bisa membayangkan bagaimana wajah Adi yang frustasi karena semua tanamannya kembali mati.
"Lalu rencana kita gimana Om, selanjutnya?"
"Kita akan datang ke rumahnya Rika, dan menawarkan dana untuk suaminya dengan dua pilihan," jawab Papa Renal sambil mengangkat satu alisnya.
Tapi dia melarang Galang untuk ikut, sebab papa Rena ingin menjalankannya sendiri demi kelangsungan rencana mereka, dan Galang setuju akan hal itu.
.
.
Setelah makan malam Adi izin kepada Rika dan juga Mela untuk pergi keluar, sebab ada urusan penting yang harus dia bereskan.
__ADS_1
Saat Adi sedang bersiap-siap dan mengganti bajunya di kamar, tiba-tiba Rika masuk. "Mas, sebenarnya kamu mau ke mana?"
"Aku akan ketemu sama Dimas dan juga Vano, untuk membicarakan sesuatu hal. Dan mungkin nanti pulangnya agak maleman, jadi kamu jangan menungguku ya sayang," ucap Adi sambil mencium kening Rika.
"Dimas sama Vano itu, sahabat sama sekretaris kamu kan?" tanyanya lagi.
"Iya Sayang. Ya udah, aku pergi sekarang ya. Kamu temani Mela aja di ruang tv, kalau ada apa-apa kamu mau cepat kabari aku ya!"
Rika menganggukkan kepalanya, kemudian Adi pergi dari sana mengendarai motor menuju rumah sahabatnya.
Setelah sampai di sana Adi melihat sudah ada Dimasta dan juga Vano yang sedang menunggunya, kemudian dia langsung duduk di sofa.
"Kenapa kau menyuruh untuk ke sini?" tanya Dimasta to the point.
"Ladangku kembali dihancurkan oleh mereka, dan kau pastinya sudah tahu kan?" jawab Adi sambil menatap ke arah Dimas dan pria itu menganggukan kepalanya.
"Apa yang bisa saya lakukan, Tuan?" jawab Vano.
Kemudian Adi membisihkan rencananya kepada Dimas dan juga Vano, membuat kedua pria itu pun menganggukkan kepalanya.
Setelah berbicara dengan kedua pria itu, Adi memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malamm
"Kalau gitu aku pulang dulu ya," ucap Adi sambil bangkit dari duduknya.
"Yaelah, minum dulu kali. Sudah lama juga kan lo nggak minum bir? Lo terlalu takut sama bini," ledek Dimas.
"Untuk sekarang aku tidak bisa minum. Sebab aku menghargai istriku. Kalau dia sampai melihatku dan menciumku bau alkohol, sudah pasti istriku akan marah. Bukan masalah aku takut sama Rika, hanya saja lebih menghargai karena pernikahan itu saling menghargai, bukan saling menakuti," jawab Adi dengan bijak kemudian dia pergi dari sana.
Dimas meminum bir yang ada di dalam gelas, kemudian dia menatap ke arah Vano. "Lihatlah bosmu! Dia sudah berubah 180 derajat. Dulu satu hari saja tidak bisa lewat dari minuman, sekarang setelah kenal dengan wanita itu, dia bahkan menjadi seorang bayi?" kekeh Dimas.
__ADS_1
Vano hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan pria tersebut. Dia memikirkan langkah demi langkah yang akan diambilnya untuk membalas rasa sakit sang Bos.
"Aku akan langsung kembali ke kota, sebab mulai besok harus menjalankan rencanaku," ucap Vano.
"Kau ini sama saja dengan Adix sana pergi!" kesal Dimasta.
Vano langsung pergi dari sana, karena dia harus segera mengerjakan perintah dari Adi untuk membalas keluarga mertuanya.
.
.
Pagi ini Mela sedang berjualan seperti biasanya di depan rumah, dan saat dia sedang melayani pembeli tiba-tiba Ibu Tia datang, membuat Mela merasa deg-degan. Biasanya dia akan biasa saja, namun setelah hubungannya dan Revan membuat Mela sedikit sungkan.
"Mela, saya mau sarapannya ya," ucap Bu Tia.
"Baik Bu," jawab Mela.
Setelah semua pelanggan Mela sudah pergi dan sarapan pun sudah jadi, Bu Tia mengeluarkan uang lalu membayarnya. "Oh iya, nanti setelah kamu habis berjualan ke rumah saya ya! Ada yang ingin dibicarakan," ujar Bu Tia.
"Soal apa ya, Bu?" tanya Mela dengan wajah yang cemas.
"Hanya ingin ngobrol aja. Nanti kamu datang ya! Saya tunggu." Setelah mengatakan itu Bu Tia pergi dari sana.
Mela memegangi dadanya yang terasa deg-degan, dia takut jika Ibu Tia batal merestui hubungannya bersama dengan Revan.
"Apa yang mau di bicarakan sama bu Tia, ya?" gumam Mela dengan lirih.
BERSAMBUNG....
__ADS_1