Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Melawan


__ADS_3

Happy reading...


Semua menatap ke arah samping, dan ternyata yang menahan tangan tante Cantika adalah Adi. Pria itu sudah selesai di ladangnya, hingga dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Karena entah kenapa Adi merasa ada yang menariknya untuk segera pulang.


Dan saat sampai di rumah, Adi melihat ada mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya. Dan dia sangat yakin jika ada tamu yang tak diundang.


Saat masuk ke dalam benar saja, Adi melihat perdebatan antara adik dan juga mertuanya. Dia tidak menyangka jika kedua orang tua Rika datang ke rumah sederhana miliknya.


Tentu saja Adi merasa geram saat melihat tante Cantika akan menampar wajah sang adik. Sebab dia saja tidak pernah semarah itu kepada adiknya atau bahkan melayangkan tamparan.


"Maaf, tolong jangan pernah menampar adik saya!" ucap Adi dengan nada yang tegas.


"Ciih!" Tante Cantika berdecih, kemudian dia menghempaskan tangannya yang dipegang oleh Adi lalu mengelapnya ke baju, seperti baru saja mendapatkan kotoran.


Rika yang melihat sang suami pulang, segera mencium tangan Adi dan itu tak lepas dari penglihatan kedua orang tuanya.


"Maaf Bu, Pak. Sebaiknya kita duduk, bicarakan baik-baik," ucap Adi dengan nada yang sopan. Karena dia masih menghormati tante Cantika dan juga Papa Renal sebagai orang tua istrinya.


"Tidak usah!" jawab Tante Cantika dengan ketus.


Papa Renal menggenggam tangan istrinya, kemudian dia menganggukkan kepala dengan kecil, membuat wanita itu mendesah pelan akhirnya mereka berlima pun duduk.


"Maaf Bu, Pak, jika keadaan rumah kami seperti ini. Dan selamat datang di rumah sederhana milik saya. Semoga ibu dan bapak berkenan," tutur Adi masih dengan nada yang sopan.

__ADS_1


"Alaah ... nggak usah basa-basi deh. Gini ya! Saya dan suami saya ke sini untuk menjemput Rika, karena kami sudah menjodohkan dia dengan Galang, pria yang 100 kali lipat lebih baik dari kamu!" Tante Cantika berkata dengan nada yang tajam sambil menatap jijik ke arah Adi.


Pria itu menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia menatap ke arah Rika yang saat ini juga tengah menatap ke arah dirinya dengan tatapan yang sendu.


"Maaf Bu, bukannya saya ingin melawan. Akan tetapi, saya dan Rika kan sudah menikah, dan saat ini Putri kalian sudah sah menjadi istri saya, sah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Saya sangat mencintai Rika tulus, bukan karena harta. Tapi jika ibu dan Bapak menyuruh Rika untuk menikah dengan pria lain, saya tidak mengizinkan! Karena walau bagaimanapun, Rika masih sah menjadi istri saya. Jadi dia tidak bisa menikah dengan pria manapun," jelas Adi dengan tenang.


Rika tidak habis pikir kenapa orang tuanya begitu lancang datang ke rumah suaminya, hanya untuk meminta dirinya menikah dengan Galang?


Jelas-jelas Rika masih berstatus menjadi istri orang, tapi Mamanya seakan buta akan hal itu. Dan Rika tidak bisa membayangkan, bagaimana sakit hatinya Adi saat mendengar ucapan dari mamanya yang begitu sangat pedas.


"Ya, saya tahu. Bahkan saya menyesal telah menikahkan putri saya dengan pria miskin seperti kamu. Lihatlah! Bahkan rumah kamu pun tidak layak untuk ditempati oleh Rika? Dia pantas mendapatkan lelaki yang lebih dari kamu. Apa yang bisa kamu banggakan? Kamu hanyalah seorang petani, tidak pantas untuk bersanding dengan putri saya!" timpal Papa Renal dengan nada yang dingin namun terkesan sangat tajam.


Adi mencoba untuk meredam emosinya. Bohong jika dia tidak marah saat mendengar penuturan kedua mertuanya, yang meminta Rika untuk menikah dengan pria lain.


"Saya tahu, mungkin saya memang tidak pantas untuk Rika. Tapi kami sama-sama mencintai. Saya mungkin memang tidak bisa memberikan kemewahan seperti apa yang Bapak dan Ibu lihat. Saya ini hanyalah orang sederhana. Kalau memang dari Rika nya mau untuk dijodohkan dengan pria pilihan ibu dan Bapak, saya bisa apa?" jelas Adi dengan kepala menunduk. Padahal saat ini dia sedang bergelut dengan pikiran dan hatinya.


Rika yang mendengar penuturan suaminya pun seketika menatap ke arah Adi dengan tatapan yang kaget. Dia tidak menyangka jika suaminya akan berkata seperti itu.


"Mas, apa yang--"


"Tuh Rika, kamu dengar sendiri kan apa kata suami kamu! Jadi, untuk apa kamu bertahan sama dia? Lebih baik kamu ikut kami sekarang pulang ke rumah, dan terima Perjodohan bersama dengan Galang!" titah tante Cantika.


"Nggak Mah! Aku nggak mau! Aku kan udah menikah sama Mas Adi, dan dia adalah suamiku. Aku tidak mau meninggalkannya!" tolak keras Rika.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat dari dia, HAH! Dia ini hanya pria miskin. Lihat! Bahkan rumahnya aja sangat jelek. Kamu ceraikan dia sekarang! Ikut bersama dengan kami!" tegas tante Cantika dengan sorot mata yang tajam tidak bisa di bantah.


Akan tetapi Rika menggeleng dengan keras. Dia tidak mau meninggalkan Adi, karena selain rasa cintanya yang begitu besar kepada Adi, Rika juga tahu, seorang Istri harus patuh pada suaminya. Dan surganya istri bukan lagi terletak pada orang tuanya, tetapi pada suaminya.


"Tapi Mah, Pah, aku sangat mencintai Mas Adi. Dia adalah suamiku!" tolak Rika dengan keras.


"Iya kami tahu dia suamimu, tapi dia jauh di bawah Galang. Ayo! Kamu harus pulang bersama dengan kami!" Mama Cantika mencekal tangan Rika lalu menyeretnya.


Akan tetapi Rika langsung menghempaskan tangannya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah kedua orang tuanya dengan tajam. Kepalanya menggeleng tidak habis pikir dengan pemikiran mama dan Papanya.


Harusnya sebagai seorang tua, mereka melihat anaknya bahagia, rukun dalam rumah tangganya itu sudah senang, tapi berbeda dengan orang tuanya Rika, karena yang mereka lihat adalah Harta, Tahta dan Kasta.


"Tidak! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah meninggalkan Mas Adi. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bercerai dengannya! Tidak peduli maupun Mas Adi miskin ataupun tidak. Jika Mama dan Papa melihat rumah ini jelek, ya itu di mata kalian. Bagiku rumah ini nyaman, qsal ada tempat berteduh. Apa Mama tidak bisa berpikir jernih dari ucapan Mela barusan, harta itu tidak abadi. Allah bisa mengambilnya kapan saja! Jangan suka merendahkan Mah, karena roda kehidupan itu berputar. Mungkin sekarang Mama dan Papa merendahkan Mas Adi, tapi siapa yang tahu kalau nanti kalian membutuhkan kami? Membutuhkan pertolongannya," jawab Rika dengan lantang.


Seumur hidupnya dia tinggal bersama kedua orang tuanya, baru kali ini Rika menentang ucapan dari mama dan Papanya. Biasanya Rika akan terus menurut apa yang dikatakan oleh mereka.


Namun, kali ini untuk kali pertama Rika mengangkat suara dan menentang keras keinginan tante Cantika dan juga Papa Renal.


PLAK!


"Berani kamu melawan kami, hah!" bentak Papa Renal yang tidak terima dengan perubahan dari Rika.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2