Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Kedatangan Papa Renal


__ADS_3

Happy reading....


Pagi ini Rika ingin sekali makan seblak kuah, dan dia meminta Mella untuk membuatkannya. Namun wanita itu belum membeli bahan-bahannya.


"Ya sudah Mbak, kalau gitu aku ke pasar dulu ya beli bahan-bahannya," ucap Mela.


"Iya, kamu bawa motornya hati-hati jangan ngebut-ngebut ya!"


"Baik Mbak," jawab Mella kembali, kemudian dia keluar sambil membawa kunci motor lalu pergi dari sana.


Mela melajukan motornya menuju pasar. Namun di tengah jalan dia melihat Revan sedang terduduk sambil memegangi lututnya yang terluka. Bahkan terlihat wajah tampannya babak belur.


Mela yang melihat pun merasa kasihan, kemudian dia menghentikan motornya, lalu dia turun dan melihat keadaan Revan.


"Loh Mas, kamu kenapa?" tanya Mela.


Revan sempat terpaku saat Mela memanggilnya 'Mas. Entah kenapa dia suka.


"Tadi ada begal dan motorku kena, aku berhasil melarikan diri," jawab Revan sambil memegangi lututnya yang terasa sakit.


Mela melihat wajah pria itu babak belur, "Ya sudah kalau begitu aku akan mengantarkanmu ke Puskesmas. Ayo naik motorku!" ujar Mela sambil membantu Revan untuk bangun.


Pria itu pun mengangguk, kemudian dia naik ke atas motor Mela, lalu wanita itu pun melajukan kendaraannya menuju Puskesmas yang tak jauh dari sana.


"Apa kau masih kuat? Berpegangan lah daripada nanti jatuh!" teriak Mela.


Revan mengangguk, kemudian langsung melingkarkan tangannya di perut wanita itu, membuat Mela merasa deg-degan, karena baru kali ini ada seorang pria yang memeluk dirinya.


Sejujurnya ia ingin marah, tapi time-nya tidak tepat. Jadi Mela tidak mungkin memarahi Revan dalam keadaannya seperti itu, apalagi Revan sedang terluka dan membutuhkan pertolongan.


Sementara Revan tersenyum di balik punggung Mela. Entah kenapa dia merasa senang saat bisa memeluk tubuh wanita itu.


'Sepertinya semalam aku bermimpi dengan Dewa keberuntungan, sehingga hari ini aku bisa memeluk tubuhnya. Walau harus terluka dulu.' batin Revan.


Setelah sampai di Puskesmas, Mela membantu pria itu untuk turun dari motor dan membopongnya masuk ke dalam, lalu memanggil petugas yang ada di sana.


"Dia kenapa?" tanya salah satu petugas di Puskesmas tersebut.


"Dia dibegal Pak, tolong cepat tangani dia ya!" jawab Mela dengan panik.


Petugas itu mengangguk, lalu langsung membawa Revan dan mengobatinya di dalam. Sementara Mela di luar menunggu sambil mondar-mandir dengan harap-harap cemas, sebab dia takut jika ada luka dalam yang dialami olehm

__ADS_1


"Aku harus mengabari Bu Tia, tapi bagaimana? Nomornya saja aku tidak punya," gumam Mela dengan panik.


Tak lama petugas pun keluar, lalu Mela langsung menanyakan tentang keadaan Revan dan petugas itu menjawab jika tidak ada luka yang serius yang dialami oleh pria tersebut, hanya luka luar saja.


Mendengar hal tersebut Mela menjadi lega, kemudian dia masuk ke dalam dan melihat keadaan Revan. Kakinya bahkan sudah diperban, dan luka yang berada di wajahnya juga sudah diberikan salep.


"Bagaimana? Apa sudah lebih baik?" tanya Mela.


"Iya, walau masih sedikit sakit," jawab Revan. "Terima kasih ya, kamu sudah membantuku ke sini."


"Santai saja, kita ini tetanggaan jadi harus saling tolong menolong. Dan maaf, aku tidak bisa menghubungi Ibu Tia, sebab aku tidak memiliki nomornya," jawab Mela.


"Tidak apa-apa santai saja, nanti aku yang akan menelpon mama."


"Ya sudah_ kalau begitu aku tinggal tidak papa ya? Soalnya aku harus ke pasar membeli bahan-bahan untuk ngidam kakak iparku," jelas Mela.


Revan menganggukkan kepalanya, dan melihat itu Mela pun langsung pergi dari sana. Namun baru saja ia akan melangkah tiba-tiba tangannya ditahan oleh Revan, membuat wanita itu seketika berbalik dan tatapan mereka pun bertabrakan dan terkunci satu sama lain untuk beberapa saat.


Mela yang sadar pun segera melepaskan tangannya. "Maaf, apa ada yang dibutuhkan lagi?" tanya Mela dengan gugup.


"Tidak. Aku boleh minta nomormu?"


"Untuk apa?" tanya Mela.


Mendengar itu Mela terdiam sejenak, memikirkan apakah ia akan memberikan nomornya kepada Revan atau tidak. Tapi pada akhirnya wanita itu pun memberikan nomor ponselnya, setelah itu dia pergi dari sana karena takut jika Rika menunggunya terlalu lama.


Sementara Revan tersenyum karena dia sudah berhasil mendapatkan nomor Mela.


.


.


Setelah sampai di rumah, Mela langsung membuatkan seblak pesanan kakak iparnya, sekalian dia juga membuat untuk dirinya sendiri.


"Kamu habis dari mana aja, Dek? Kenapa tadi lama banget ke pasarnya?" tanya Rika sambil duduk di meja makan.


Kemudian Mela pun menceritakan tentang kejadian di mana dia menemukan Revan dan membawanya ke Puskesmas. Mela juga menceritakan siapa Revan sebenarnya, dan mendengar itu tentu saja Rika mengangguk paham.


"Tapi dia tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa Mbak, cuma luka luar aja."

__ADS_1


"Syukurlah," jawab Rika dengan lega.


Tak lama seblak pun jadi, lalu keduanya langsung menyantap makanan itu dengan lahap. Bahkan Rika sampai menambah pakai nasi. Entah kenapa, saat kehamilannya membuat ia sering sekali merasakan lapar dan itu membuat berat badannya semakin bertambah.


Saat keduanya sudah selesai menyantap makan siang, tiba-tiba saja pintu rumah Mela terketuk, kemudian wanita itu pun beranjak dari duduknya.


Saat dia akan membuka pintu, tiba-tiba seseorang masuk dan Mela cukup terkejut saat melihat Siapa orang tersebut, yang tak lain adalah Papah dari kakak iparnya.


"Di mana putriku?" ucap apa Renal sambil menatap Mela dengan tajam.


Rika yang baru saja meminum air putih tiba-tiba mendengar suara yang begitu familiar, kemudian dia bangkit dari duduk dan berjalan ke ruang tengah, di mana saat ini papa Renal datang bersama dengan seorang pria yang tak lain adalah Galang.


Kedua netra wanita itu membulat kaget saat melihat kedatangan dua pria itu.


"Papa!" kaget Rika.


Papa Renal langsung mendekat ke arah Rika, lalu menarik tangannya. "Ayo ikut Papa pulang! Dan gugurkan kandunganmu!" ucapan Papa Renal dengan nada mengancam, dan memaksa Rika untuk pergi dari sana.


Wanita itu menggeleng, kemudian dia pun berontak. "Tidak Pah! Aku tidak mau pergi dari sini, apalagi menggugurkan kandunganku. Apa Papa sudah gila! Ini adalah cucu Papa, tapi kenapa Papa malah ingin menggugurkannya?!" teriak Rika menolak keras.


PLAK!


Satu tamparan mendarat keras di pipi Rika, membuat wanita itu memekik sakit.


"Berani kamu melawan papa, hah!" bentak papa Renal sambil menarik tangan Rika paksa.


Mela pun membantu kakak iparnya kemudian Rika langsung memeluk tubuh Mela.


"Om ini orang tua macam apa, hah! Bukannya bahagia melihat anaknya baik-baik saja dan juga mengetahui tentang kehamilannya Mbak Rika. Tapi Om malah meminta Mbak Rika untuk menggugurkan kandungannya? Apakah ini sifat orang tua terhadap anaknya!" ujar Mela dengan nada yang marah.


"Tidak usah ikut campur kau bocah tengil! Ayo Rika, ikut Papa pulang dan gugurkan kandunganmu!"


"Aku tidak mau, Pah. Lagian Papa untuk apa bawa Galang ke sini? Rika bahagia bersama Mas Adi, dan ini adalah anak kami. Sampai mati pun Rika tidak akan pernah menggugurkan anak Rika!" tolak Rika dengan keras.


Namun Papa Renal tetap bersikeras dan memaksa Rika untuk ikut bersamanya dan juga Galang, kemudian dia memerintahkan pria tersebut untuk menggendong tubuh Rika.


Mela yang melihat itu pun segera menghalangi, namun tubuhnya didorong hingga terpentok lemari, membuat kepala Mela.


"Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan aku pria badjingan! Lepaskan!" teriak Rika memberontak saat tiba-tiba Galang menggendongnya untuk masuk ke dalam mobil.


Namun saat Galang sudah memasukkan Rika ke dalam mobil, tiba-tiba tubuhnya terpental karena ditendang oleh seseorang.

__ADS_1


"Aaagh!" jerit Galang.


BERSAMBUNG.


__ADS_2