
Happy reading....
Siang ini Rika sudah siap dengan rantang di tangannya. Dia pergi ke ladang menaiki ojek untuk mengantarkan makan siang suaminya.
Namun saat sampai di sana, mereka merasa heran sebab sawah-sawah sudah ditanami padi kembali, dan dia melihat ada satu orang yang sedang bekerja di sana.
"Mbak ini, istrinya Mas Adi ya?" tanya seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Joko.
"Iya Pak, apa Mas Adinya ada?"
"Oh, Mas Adinya ada lagi nanam kacang di sebelah sana!" tunjuk Pak Joko.
"Iya Pak terima kasih." Kemudian Rika berjalan ke arah gubuk dan menaruh makanan tersebut, lalu dia melihat dari kejauhan Adi sedang menanam kacang yang entah dia pun tidak tahu itu kacang panjang atau kacang tanah.
Kemudian Rika berjalan mendekat ke arah suaminya. "Mas!" panggil Rika
Adi menengok dan dia tidak menyangka jika Rika datang ke ladang. "Sayang, kok kamu ke sini? Kamu kan lagi hamil, nanti kalau kecapean gimana?"
"Nggak apa-apa Mas. Lagi pula aku bosen di rumah. Itu aku bawain makan siang buat kamu, kita ke gubuk dulu yuk! Aku buatin kamu kopi, pasti capek tuh keringetan," ucap Rika sambil mengusap keringat sang suami.
Adi tersenyum, kemudian mereka pun berjalan ke arah gubuk, setelah itu Rika membuatkan kopi kesukaan suaminya.
"Terima kasih sayang," ucap Adi saat satu gelas kopi sudah terhidang bersama dengan pisang goreng yang dibawa oleh istrinya.
"Pak Joko sini, Pak! Kita ngopi dulu!" teriak Adi sambil melambaikan tangannya.
"Iya Mas, sedikit lagi nih nanggung. Nanti kalau udah selesai saya ke sana!" jawab Pak Joko tak kalah teriak, karena jarak mereka lumayan jauh.
__ADS_1
Adi tersenyum melihat ladang dan juga sawahnya sudah ditanami oleh tanaman kembali. Walaupun dia harus mengeluarkan biaya yang terbilang cukup besar, namun bagi Adi itu tidak masalah, demi kelangsungan hidupnya.
"Mas, apa boleh aku bertanya sesuatu?"
Adi menatap ke arah Rika. "Apa itu, sayang?"
"Dari mana kamu mendapatkan biaya untuk mengganti semua tanaman yang mati? Termasuk juga padi? Karena aku tahu, biayanya tidak sedikit, dan itu pasti sangat menguras kantong?" tanya Rika dengan hati-hati.
Adi tersenyum_ dia memang sudah memprediksi jika pertanyaan itu pasti akan terlontar dari mulut sang istri. Kemudian pria tersebut menggenggam tangan Rika dan menatapnya dengan dalam.
"Memangnya kenapa? Tidak usah kamu pikirkan soal biaya. Insya Allah Mas ada kok, jadi kamu tidak usah khawatir. Lagi pula, biayanya tidak dari hutang. Ini dari tabungan mas, jadi kamu tidak usah Cmcemas ya," jelas Adi.
Rika tersenyum sambil menganggukkan dan menyandarkan kepalanya di bahu kekar Adi, tidak ada pertanyaan terlontar kembali dari mulut wanita itu. Sebab dia tidak ingin menyinggung perasaan Adi.
Walaupun sebenarnya Rika sangat penasaran dari mana Adi mendapatkan tabungan sebesar itu, dan dia juga khawatir sebab oasti orang tuanya tidak akan berhenti saat melihat Adi sukses dan kembali membangun tanamannya yang dihancurkan.
'Oh iya, aku kan belum nelpon papa.' batin Rika.
Setelah telepon tersambung, Rika menarik nafasnya sejenak. "Halo assalamualaikum Pah," ucap Rika.
"Waalaikumsalam, tumben kamu nelpon Papa? Sudah ingin pulang kah? Merasa merana kamu tinggal di sana?" terdengar suara papa Renal meremehkan.
Rika terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir kenapa orang tuanya masih saja berkata dengan nada yang sarkas, padahal saat ini Rika sedang menelpon dan ingin mengabari tentang kehamilannya.
"Tidak. Aku menelpon Papa bukan karena aku ingin pulang, mungkin aku ingin pulang karena ingin mengunjungi kalian saja."
"Jika kamu pulang hanya untuk mengunjungi kami, buat apa? Kecuali kamu berpisah dari pria miskin itu, paham!"
__ADS_1
Sejujurnya hati Rika merasa sakit dan tersayat saat orang tuanya sendiri menginginkan perceraiannya. Padahal harusnya orang tua mendukung untuk kebahagiaan putrinya, dan pilihannya. Apalagi Adi orang yang tepat, tapi ini malah kebalikannya.
"Pah, cukup! Aku menelpon Papa hanya ingin mengingatkan, jika Papa ingin aku bahagia maka tolong Iklaskan dan restui hubunganku dengan mas Adi, Pah. Apakah dengan papa membuat semua tanamannya Mas Adi mati, itu akan membuat aku bahagia dan pulang? Jika itu yang ada dalam pikirannya Papa, maka Papa salah besar. Keputusan yang sudah Papa ambil itu adalah jalan yang salah, dan papa malah membuat aku menderita. Sebenarnya apa tujuan Papa melakukan itu?"
"Apa maksud kamu, hah! Kamu berani menuduh papa yang tidak-tidak?!"
"Maaf Pah, bukannya aku berani untuk menuduh papa yang tidak-tidak. Tapi aku sangat yakin tanaman Mas Adi mati semua itu karena ulah papa, kan? Tidak usah berbohong, karena aku sudah mengenal karakter Papa seperti apa."
"Oh, ternyata begini ya didikan suami kamu. Menikah bukan hanya dengan orang miskin saja, tapi sekarang sifat kamu pun jauh lebih miskin! Kamu tega menuduh orang tua kamu sendiri? Iya!"
Terdengar suara Om Renal dengan nada membentak, membuat Rika seketika memejamkan matanya. Dia harus terbiasa dengan amarah orang tuanya, akan tetapi mereka sangat yakin suatu hari mama dan Papanya pasti akan menerima Adi.
"Terserah papa mau melakukan apapun, karena mau Mas Adi melarat sedikitpun, atau seperti apapun, aku akan tetap bersamanya. Dan satu lagi Pah, aku hamil."
"Apa! Kamu hamil? Kenapa kamu bodoh sekali, hah! Papa kan sudah bilang sama kamu, papa dan mama tidak mau memiliki cucu dari pria melarat seperti itu, Rika! Kenapa kamu tidak mengerti!" bentak Papa Renal.
Kali ini air mata Rika tidak bisa lagi dibendung saat mendengar penuturan dari sang Papa, di mana orang tuanya menolak kehadiran cabang bayi yang ada di dalam rahimnya.
Biasanya orang tua akan senang saat mendengar kabar tersebut, tapi tidak dengan orang tua Rika. Mereka malah menolak keras tentang kehamilan wanita itu.
"Itu saja yang ingin Rika sampaikan, walaupun Papa dan Mama tidak menerima anak yang ada dalam kandungan Rika, tetap dia adalah darah daging Rika dan juga Mas Adi. Dan kami akan tetap bersama walau badai yang datang sekalipun, Assalamualaikum."
Rika mematikan teleponnya secara sepihak, dia tidak kuat lagi dengan kata-kata kasar yang terlontar dari mulut sang papa.
Wanita itu terduduk di bawah pohon pisang, tatapannya menatap ke arah Adi yang sedang menyirami tanamannya. Air mata sejak tadi luruh tanpa dihapus.
Rika sama sekali tidak merasa menderita hidup bersama Adi, walaupun dalam kesederhanaan. Walau jauh dari kata mewah, tapi dia merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"Ibu berharap, dengan kehadiranmu suatu saat nenek dan kakekmu bisa menerima kita ya Nak," ucap Rika sambil mengusap perutnya yang masih rata.
BERSAMBUNG.....