
Happy reading...
Mela berjalan keluar setelah memakai baju tidurnya kembali, sementara Revan terbaring kesal di atas ranjang sambil menekuk wajahnya.
Dan saat dibuka, ternyata itu adalah pengawalnya yang bernama A dan juga B. "Kenapa?" tanya Mela
"Maaf Nona muda, jika kami mengganggu. Di bawah tuan muda sudah menunggu untuk sarapan," jawab A.
"Bilang kepada Mas Adi! Aku akan sarapan nanti saja, kalian jangan mengganggu dulu. Aku akan makan saat aku lapar, jadi tidak usah menggangguku dulu ya! Nanti kalau aku butuh apa-apa aku akan bilang," jawab Mela.
"Baik Nona muda."
Mela kembali menutup pintunya lalu menguncinya, kemudian dia berjalan ke arah ranjang di mana saat ini Revan tengah cemberut.
"Siapa sih, sayang?" tanya Revan.
"Oh itu, pengawalku, dia bilang kak Adi sudah menunggu di bawah buat sarapan. Oh iya, apa mau dilanjut?"
Revan menggelengkan kepalanya dengan perlahan, sebab minatnya sudah tidak ada lagi, karena burung untanya sudah tertidur dengan lelap kembali dibalik celana.
"Kamu lihat aja sendiri tuh!" tunjuk Revan pada burung untanya.
Melihat itu Mela pun terkekeh. "Kasihan. Ya sudah, bisa nanti malam juga kan? Lagi pula, masih banyak waktu. Kalau gitu aku mau mandi dulu ya, Mas Adi soalnya udah nunggu di bawah, nggak enak kalau kita lama-lama."
Revan menganggukkan kepalanya, kemudian dia memakai celana lalu keluar dari kamar untuk menuju lantai bawah. Namun baru saja dia membuka pintu, ada dua wanita kembar yang sedang berdiri dengan tegak di depan kamar istrinya.
"Kalian siapa?" tanya Revan dengan tatapan menyipit.
"Nama saya, A."
"Dan nama saya, B. Kami pengawalnya Nona muda."
Revan menganga, dia tidak percaya jika istrinya memang mempunyai pengawal. Tadi Revan pikir, saat Mela berkata kepadanya Itu adalah sebuah candaan dan hanya seorang pelayan, tetapi ternyata benar jika Mela mempunyai pengawal.
__ADS_1
"Kok nama kalian A dan B sih? Memangnya tidak punya nama selain alfabet ya?" heran Revan sambil menggaruk pelipisnya.
Kedua wanita itu menggeleng secara bersamaan, membuat Revan seketika bergidik ngeri, lalu dia berjalan menuruni tangga untuk menuju lantai bawah.
Rumah tersebut sangatlah mewah dan luas, hampir saja Revan tersesat jika dia tidak bertanya kepada pelayan di mana ruang makan berada.
"Hei Van!" panggil Adi sambil melambaikan tangannya.
"Pagi Mas Adi, Mbak Rika," sapa Revan sambil duduk di salah satu kursi.
"Pagi. Mbak pikir kamu masih di dalam, berolahraga panas," Rika membuat Revan tersenyum malu.
"Gimana mau olahraga, Mbak? Baru juga pemanasan, dua pengawalnya Mela sudah menggedor pintu. Main bolanya juga belum, boro-boro mencetak gol!" kesal Revan sambil meminum air putih di atas meja.
Mendengar itu Adi dan juga Rika seketika langsung terkekeh. Mereka tidak bisa membayangkan burung unta milik Revan sudah tegak berdiri namun seketika harus loyo kembali.
"Sabar ... sabar. Masih banyak waktu, tapi kau harus cepat membuatkanku keponakan," ucap Adi sambil menepuk pundak Revan.
"Siap! Kalau bisa aku bikinkan 10," jawab Revan sambil terkekeh kecil.
'Aku seperti menikah dengan seorang konglomerat, dan orang terkaya di dunia. Sampai pelayan aja banyak banget?' batin Revan.
Kemudian dia ingat dengan kejadian semalam, di mana saat dirinya akan mencetak gol tiba-tiba saja ada kejadian di hotel, lalu dia pun menatap ke arah Adi.
"Mas, apa aku boleh minta penjelasan soal semalam?" tanya Revan. "Maksudku, aiapa musuh dari keluarganya Mas Adi? Kenapa bisa ada musuh?"
Mendengar itu Adi hanya tersenyum tipis, kemudian dia menghabiskan kopinya lalu menepuk pundak Revan. "Dalam dunia bisnis dari kalangan atas, sudah biasa bila mendapati seorang musuh, jadi kamu harus terbiasa. Itu kenapa aku memintamu untuk selalu menjaga Mela!"
"Tapi kan selama ini Mas Adi hanyalah seorang petani? Lalu, kenapa tiba-tiba bisa menjadi seorang pangeran? Ini masih belum masuk di akalku," bingung Revan sambil menggaruk belakang kepalanya.
Adi semakin terkekeh, kemudian dia bangkit dari duduknya. "aintinya itu bukanlah identitas asliku. Aku hanya ingin melindungi Mela dengan menjadi orang yang tidak punya, jadi kurasa kamu sudah mengambil kesimpulannya. Aku harus pergi ke kantor sayang. Kamu baik-baik ya di rumah!" Adi mencium pipi Rika di hadapan Revan..
Wanita itu mengangguk, kemudian dia hendak mengantar Adi ke teras, namun langsung ditahan oleh pria itu, karena Adi tidak ingin membuat Rika kelelahan.
__ADS_1
.
.
Sementara di tempat lain, di kantor yang sudah diambang kebangkrutan, saat ini papa Renal tengah kebingungan, karena saat dia menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Rika. Tiba-tiba saja dia mendapatkan kabar jika Rika dan juga Adi sudah tidak tinggal di sana.
Papa Renal pun menyuruh anak buahnya untuk segera mencari keberadaan merekam
"Ke mana dia? Kenapa pergi tidak bilang-bilang? Apa Rika sengaja menghindariku? Bagaimana bisa aku menjodohkannya dengan Galang, kalau Rika saja sekarang tidak ada. Huuf! Benar-benar anak itu!" gerutu papa Renal dengan kesal.
Niatnya menjodohkan dengan Galang masih saja kuat, karena walau perusahaan Galang dilanda kehancuran, tapi uang dari keluarga pria itu masih sangat banyak.
Kemudian dia menelpon Galang dan mengabarkan jika Rika pergi dari rumah bersama dengan Adi, dan tentu saja itu membuat Galang semakin kesal.
Dia berencana akan mencari Rika dan mengarahkan semua anak buahnya untuk mengetahui keberadaan wanita itu.
"Pah?" panggil seorang wanita yang tak lain adalah tante Cantika.
"Loh! Mama kok ke sini nggak ngabarin Papah dulu?" tanya papa Renal saat melihat istrinya datang ke kantor.
"Sengaja. Soalnya mau buat surprise. Ini Mama bawain makan siang buat Papa." Tante Cantika menaruh rantang di atas mejam
"Gimana? Apa sudah ada kabar dari Rika?" tanya Tante Cantika, karena dia tahu jika Papa Renal memerintahkan anak buahnya untuk melihat keadaan Rika.
"Tidak Mah. Padahal Papa tadinya sudah berencana akan menculik Rika secara paksa saat pria miskin itu pergi ke ladang. Tapi saat sampai di sana, Rika dan juga suaminya sudah pergi entah ke mana. Papa benar-benar kalah langkah!" kesal Papa Renal sambil membanting pulpennya di atas meja.
"Apa! Pergi? Mereka pergi ke mana, Pah? Lalu gimana sama Rika?" kaget tante Cantika.
Dia khawatir dengan keadaan putrinya, walaupun wataknya keras dan ingin menjodohkan Galang bersama dengan Rika, tapi tetap saja wanita itu adalah seorang ibu yang mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"Entahlah Mah, ini semua gara-gara pria miskin itu. Tapi mama tenang aja! Papa dan juga Galang sudah mengerahkan anak buah untuk mencari mereka, dan sebentar lagi kita pasti akan mengetahui kok di mana keberadaan mereka," ujar Papa Renal.
Dia tidak tahu jika setiap gerak-geriknya diketahui oleh Adi, karena Adi menempatkan seorang mata-mata di kantor itu, dan dia juga menyadap ruangan papa Renal, sehingga apa yang dibicarakan oleh pria itu pun terdengar jelas di telinga Adi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....